Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Keagungan dan Keabadian Literasi Al-Qur’an

Keagungan dan Keabadian Literasi Al-Qur’an
Ketika berbicara mengenai adab Al-Qur’an, maka tak lepas dari karakter dan tingkah laku manusia yang harus mampu mengejawantahkan diri sesuai dengan teks-teks Al-Qur’an.
Ketika berbicara mengenai adab Al-Qur’an, maka tak lepas dari karakter dan tingkah laku manusia yang harus mampu mengejawantahkan diri sesuai dengan teks-teks Al-Qur’an.

Oleh Supadilah Iskandar


Polemik mengenai kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an sudah mengemuka sejak masa kenabian Muhammad hingga generasi sahabat dan para pengikutnya (tabi’in). Jika dicermati dengan seksama, polemik itu sudah diungkap dan diabadikan melalui redaksi yang disusun Allah Swt. Dalam beberapa ayat dinyatakan antara lain (Hud: 13): “Mereka mengatakan bahwa Muhammad telah membuat-buatnya, katakanlah (Muhammad) cobalah membuat sepuluh surat dan datangkan para ahli (selain Allah) jika kamu adalah orang-orang yang benar.”


Pada ayat lain (Yunus: 38) disampaikan dengan redaksi yang agak berbeda, namun mengandung esensi yang tetap sama. Kali ini diminta untuk mengumpulkan para penulis atau penyair untuk membuat satu surat saja yang bisa menyamai Alquran. Lalu, apakah kelebihan dalam literasi Al-Qur’an itu, hingga manusia dan jin tak mampu menandingi kehebatannya? Mari kita telusuri bersama-sama.


Seorang peneliti dan pakar mengenai I’jazul Quran, Prof Syibli Syarjaya, dalam ceramahnya di hadapan santri pesantren Al-Bayan, Banten beberapa waktu lalu, menjelaskan bahwa Alquran adalah teks-teks yang riil dan nyata bagi orang-orang yang luas wawasan keilmuwannya. Bagi mereka yang berilmu, tidak ada keraguan sedikit pun dalam hatinya, baik yang bersifat kias maupun harfiah. Orang-orang berilmu senantiasa bicara dengan bahasa Alquran, bergerak dengan tingkah laku Alquran, bahkan menulis wacana dan opini dengan literasi Al-Qur’an. Meskipun, tidak secara eksplisit menyebutkan dalil-dalilnya secara tekstual.


Kita mengenal ungkapan orang-orang bijak bahwa karya atau tulisan orang berilmu akan mengandung cahaya (an-nur) yang dapat menyinari batin para pembacanya. Senantiasa kita kangen dan rindu, menunggu-nunggu karyanya di kemudian hari, karena dengan membacanya ibarat mengecas baterai yang akan habis, sampai kemudian terisi kembali. Begitupun hati yang gersang dan redup, ia akan merasa haus dan dahaga yang membutuhkan siraman rohani hingga dapat menyejukkan dan menenteramkan kalbu.


Bahasa dan literasi Al-Qur’an identik dengan an-nur dan cahaya kalbu (al-Maidah: 15-16). Mengutip ucapan Syibli Syarjaya, bahwa karakteristik cahaya tidak semata-mata menyinari dirinya sendiri tetapi juga menyinari segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Karena itu sifat Al-Qur’an, dan sifat penulis yang literasinya berpijak pada esensi Al-Qur’an, ia dapat membuka kedok-kedok manusia bertopeng, menyibak dan membongkar kebatilan dan kesyirikan, menjelaskan hakikat, mengungkap kebenaran, menunjukkan jalan bagi mereka yang kebingungan, bahkan menghibur hati orang-orang yang mendapat petunjuk. Hal ini senada dengan hadits Rasulullah yang menegaskan bahwa kebenaran harus dinyatakan dengan lugas, meskipun terasa pahit bagi mereka yang mendengarnya.


“Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu dari Tuhanmu sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit hati, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (Yunus: 57)


Masih dalam testimoni Profesor Syibli, jika kita merujuk pada angka-angka kuantum Alquran, memang tidak ada persamaan mengenai teks-teks literasi bila dibandingkan dengan sehebat apapun hasil karya cipta manusia. Misalnya, mengenai rahasia angka 19 yang termaktub dalam surat al-Muddatsir ayat 30. Padahal nominal 19 adalah angka yang paling sulit pembagiannya, tapi dalam realitasnya surat Alquran yang sebanyak 114 merupakan kelipatan dari 19x6. Selain itu, jumlah ayat Al-Qur’an 6.232 adalah kelipatan dari 19x328.


Huruf ya dan sin dalam surat Yasin, masing-masing sebanyak 285 yang merupakan kelipatan dari 19x15. Juga huruf tha dan ha dalam surat Thaha sebanyak 342 (19x18), huruf nun dalam surat Nun sebanyak 133 (19x7), huruf qaf dalam surat Qaf sebanyak 57 (19x3). Hal yang juga menarik pada surat Qaf, ketika Allah berfirman tentang umat Nabi Nuh, Ia memakai kata qaum, tapi ketika berfirman tentang umat Nabi Luth, ia memakai kata ashab, padahal keduanya mengandung makna yang sama. Tetapi, bila keduanya menggunakan kata qaum, maka huruf qaf dengan sendirinya akan bertambah lima, hingga kelipatannya tak bisa dibagi dengan angka 19.


Mengutip pernyataan Abdurrazaq Naufal dalam buku I’jazul adab lil-quranil karim, Profesor Sybli menguraikan berbagai hal tentang keseimbangan kuantum dalam teks-teks Al-Qur’an. Misalnya kata al-Hayat (kehidupan) seimbang dengan kata almaut (kematian), masing-masing sebanyak 145 kali. Kata manfaat dan mudharat masing-masing sebanyak 50 kali, panas dan dingin masing-masing 4 kali, iman dan kufur masing-masing 17 kali, harap dan cemas masing-masing 8 kali.


Begitupun dalam sinonim dan persamaan katanya, misalnya kata akal pikiran (al-aqlu) dengan kata cahaya (an-nur) masing-masing tertulis 49 kali. Sedangkan mengenai waktu, kata hari (yaum) dalam bentuk tunggal sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari dalam setahun. Dalam bentuk jamak (al-ayyam) tertulis sebanyak 30 kali (bilangan hari dalam sebulan), sedangkan kata bulan (al-syahr) terulang sebanyak 12 kali.


Tentu banyak sekali keajaiban-keajaiban literasi Al-Qur’an yang tidak saya kemukakan satu-persatu karena keterbatasan kolom wacana ini. Satu hal yang terpenting, ketika kita bicara mengenai adab Al-Qur’an, maka tak lepas dari karakter dan tingkah laku manusia yang harus mampu mengejawantahkan diri sesuai dengan teks-teks Al-Qur’an.

 

Konsep membumikan Al-Qur'an tak lain adalah kemampuan mengimplementasikan ayat-ayat Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, manusia perlu berhati-hati secara cermat mempelajarinya. Perintah membaca Alquran secara tartil dan tidak tergesa-gesa tertuang dalam surat al-Muzammil ayat 4. Menyusul setelah surat ini adalah al-Muddatsir yang mengandung arti berkemul atau berselimut.


Kondisi manusia dalam posisi berselimut identik dengan suasana permukaan bumi yang diselimuti lapisan ozon (atmosfir), yang apabila dirusak maka akan menimbulkan ketakseimbangan antara suhu panas di siang hari, dan suhu dingin di malam hari. Pemanasan global akibat gas-gas rumah kaca yang berlebihan, tak lain akibat ulah perbuatan manusia yang menimbulkan rusaknya tatanan ekosistem. Apabila hal ini berlanjut terus, maka diperkirakan dalam waktu dekat, permukaan bumi sudah tidak layak huni lagi.


Mengenai para malaikat penjaga Saqar yang berjumlah 19 dalam surat al-Muddatsir, diterangkan pula mengenai fenomena Saqar (ayat 35), yakni munculnya suatu bencana kemanusiaan yang dahsyat. Bencana itu akan mengancam kehidupan manusia di muka bumi, yang sekaligus mengandung peringatan, apakah manusia mau mendengar seruan Tuhan atau kah mau terus mengingkari kebenaran yang ditunjukkan oleh-Nya.


Pada saat itu, setiap individu akan bertanggungjawab atas apa-apa yang telah diperbuatnya (al-Muddatsir: 38). Kondisi yang digambarkan dalam surat ini sangat identik dengan munculnya spesies baru (Corona) yang menimbulkan penyakir Covid-19, hingga bencana kemanusiaan ini sudah merata di mana-mana. Diperingatkan bahwa 19 malaikat itu akan memberi rasa aman (atas izin Allah) kepada orang-orang yang berbuat baik di dunia ini, yang disimbolisasi dengan ketaatan pada Allah dan kepedulian kepada makhluk-makhluk-Nya (fakir-miskin).


Adapun mereka yang terperangkap dalam Saqar itu, dikarenakan sibuk memperdebatkan hal-hal remeh yang tak bermanfaat (nakhudlu ma’al kha’idlin) serta abai terhadap peringatan Tuhan dan tetap mendustakan kebenaran (nukadzibu bi yaumiddin) sampai ajal menjemputnya. Maka, pada saat itu tak berguna lagi apa-apa yang mereka banggakan selama hidup di dunia. Bahkan, kekuasaan dan prestise yang dikira bisa melindungi dan mengamankannya, kini tak dapat memberi pertolongan apapun. Justru mereka yang hidupnya bergelimang kekayaan dan kemewahan, akan tergetar hatinya bagaikan keledai liar yang lari tunggang-langgang karena menghindari ganasnya seekor harimau (farrat min qaswarah).


Surat al-Muddatsir ditutup dengan tiga ayat berikut ini (54-56): “Sesungguhnya Alquran ini adalah peringatan yang nyata. Jika mereka menghendaki kebenaran, niscaya akan mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Dan tidak ada yang sanggup memetik hikmah kecuali jika Allah menghendaki ilmu baginya. Dialah (Allah) Yang Maha Kuasa, tempat kita bersandar dan bertakwa kepada-Nya, dan hanya Dialah Yang berhak memberi maaf dan ampunan.” (*)


Penulis adalah Pengajar sastra di pedalaman Banten Selatan, menulis esai dan cerpen di berbagai media luring dan daring

Terkait

Opini Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya