Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Perlunya Penguatan Moderasi Beragama Melalui Sumber Manuskrip

Perlunya Penguatan Moderasi Beragama Melalui Sumber Manuskrip
Setiap manuskrip dan naskah Kuna juga merupakan sumber primer paling otentik yang dapat menjadi medium penghubung masa lalu dan masa kini. Di dalam manuskrip juga kita juga bisa melihat ungkapan pemikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau. (Foto: dok NU Online)
Setiap manuskrip dan naskah Kuna juga merupakan sumber primer paling otentik yang dapat menjadi medium penghubung masa lalu dan masa kini. Di dalam manuskrip juga kita juga bisa melihat ungkapan pemikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau. (Foto: dok NU Online)

Kekayaan intelektual negeri ini yang juga masih harus terus dielaborasi adalah manuskrip atau naskah kuna. Keduanya masih menyimpan pengetahuan, adat istiadat, kebudayaan, dan nilai keagamaan yang bisa menjadi pedoman bagi masyarakat penggunanya. Terlebih, setiap manuskrip dan naskah kuna juga merupakan sumber primer paling otentik yang dapat menjadi medium penghubung masa lalu dan masa kini. Di dalam manuskrip juga kita juga bisa melihat ungkapan pemikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau.


Manuskrip tidak hanya merekam keadaan zamannya, tapi juga berisi solusi dan pendekatan tertentu dalam menyelesaikan permasalahannya. Seluruhnya merupakan warisan peninggalan kesejarahan yang bernilai moral tinggi. Hanya saja, makna yang terkandung di dalam manuskrip itu belum begitu mudah diakses oleh masyarakat luas, mengingat kurangnya proses kreativitas yang dilakukan. Karenanya, dibutuhkan kreativitas lanjutan kesejarahan berupa manuskrip. Sehingga manuskrip tidak saja menjadi ruang kuno yang menyeramkan, tetapi juga bisa dinikmati sebagai sebuah rekreasi menuju ke masa lalu. 


Beberapa usulan kreativitas yang dibutuhkan, yakni perlu mendorong adanya kebijakan dan program pendidikan yang mendukung pembelajaran muatan lokal di sekolah, majelis-majelis taklim, atau pendidikan agama dan keagamaan lainnya. Muatan lokal itu perlu memperkenalkan nilai-nilai moderasi beragama secara intergratif yang bersumber pada argumen-argumen keagamaan (teologis) dan argumen historis-kultural (berdasarkan tinggalan-tinggalan budaya). Selanjutnya adalah mendorong adanya kebijakan program yang menggalakkan alih wahana sumber-sumber tertulis yang bernilai sejarah dan budaya. Sehingga juga dapat dinikmati oleh kalangan generasi Z dan Y.


Kedua usulan tersebut disampaikan Agus Iswanto, Nurhata, dan Asep Saefullah dalam penelitian mereka pada 2020 berjudul Perlunya Kreativitias Alih Wahana Sumber-sumber tertulis Bersejarah untuk Pengarusutamaan Moderasi Beragama. Penelitian yang didanai oleh Badan Litbang dan Diklat Kemenag ini mencatat beberapa poin terkait urgensi melakukan alih wahana berupa manuskrip ke dalam ruang-ruang pendidikan dan keagamaan. Semata agar nilai dan keluhuran kebudayaan masa lalu juga turut menjadi karakter setiap warga bangsa.


Selain itu, pentingnya melakukan alih wahana sumber-sumber tertulis adalah agar ditemukan artefak literasi gagasan masa lalu. Fenomena masa lalu selalu menawarkan cara pandang yang cenderung lebih bijaksana, karena melibatkan banyak pengalaman. Terlebih jika melihat rentetan zaman yang telah dilalui, tentu saja memiliki banyak sudut pandang yang semakin menarik. Bisa kita lihat misalnya pada salah satu manuskrip dengan nama Serat Carub Kandha. Serat yang ditulis kisaran abad 18 ini telah mencatat banyak hal terkait kehidupan masyarakat bangsa kita. Dari sekian banyak aksara atau puput yang terekam dalam naskah tersebut rupanya memiliki siratan nilai yang sejalan dengan tema besar moderasi beragama. 


Secara umum, Serat Carub Kandha menjelaskan keadaan Cirebon dan wilayah pesisir utara Jawa Barat semasa di bawah kekuasaan Raja Pajajaran Prabu Siliwangi, sekitar abad ke-15. Masa ini bersamaan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan di Nusantara serta kedatangan dan penyebaran agama Islam di wilayah pesisir di berbagai wilayah. Latar belakang penyusunan Serat Carub Kandha (sekitar tahun 1720-an) ditengarai terkait dengan pembagian kekuasaan di Keraton Cirebon. Hingga awal abad ke-19, Cirebon memiliki empat keraton, yaitu Kasepuhan (dahulu keraton Pakungwati), Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan.


Bisa disederhanakan, bahwa serat ini banyak mengisahkan kehidupan masa lampau masyarakat kita di tengah kehidupan yang sudah heterogen. Masyarakat saat itu yang beragam etnis, bahasa dan agama, seluruhnya hidup dalam satu wilayah yang sama. Proses melihat masyarakat masa lalu dengan melalui elaborasi makna serat atau manuskrip tersebut adalah refleksi yang menarik jika bisa dilakukan di masa sekarang. Melalui skema penelitian mendalam, nilai kebangsaan dalam bingkai keagamaan dalam manuskrip bisa terus hidup dan dilanjutkan oleh para stakeholder keagamaan, serta dapat difahami oleh para siswa dan peserta didik lainnya.


Namun, itu semua membutuhkan penggalian dan pengemasan yang menarik agar dapat tersusun dan tersampaikan dengan baik. Dibutuhkan pula skema strategi yang tepat agar cara pandang moderasi beragama yang dimaksud, agar tetap sejalan dengan lima kegiatan prioritas penguatan moderasi beragam. Yakni, penguatan cara pandang, penguatan harmoni dan kerukunan umat beragama, penguatan relasi agama dan budaya, peningkatan kualitas kehidupan beragama, dan pengembangan ekonomi dan sumber daya keagamaan. Seluruhnya semata dicanangkan teruntuk kebaikan kehidupan kita masa kini dan generasi masa yang akan datang.

 

Penulis: Sufyan Syafii
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Balitbang Kemenag Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya