Opini ABDULLAH KHOIRZAD

Mbah Sahal, Kiai Penjaga Waktu

Sabtu, 25 Januari 2014 | 08:00 WIB

Pukul 01.30 dini hari, telpon selulerku berdering. Ketika diperiksa, apa yang menjadi kehawatiranku benar terjadi, Mbah Sahal Mahfudh wafat. Maka aku segera bergegas berangkat menuju Kajen, Pati.

<>Dalam perjalanan, bayangan ketika dulu sebagai santri beliau hadir. Masih lekat dalam ingatan ketika aku ngaji sorogan kitab Ghoyatul Wushul. Beliau memang tidak banyak kata. Ketika kami salah dalam bacaan, beliau hanya berdecak, "Hemmm".

Mendengar suaranya itu, maka aku ulang lagi bacaan kalimat tersebut, dan jika masih salah, beliau pun berdecak lagi, "Hemmm". Begitu seterusnya, sehingga sangat mungkin dalam satu kali pertemuan hanya mendapat satu baris kalau aku dan teman-teman tidak bisa membaca dengan benar. Beliau memang tak pernah mau menunjukkan bagaimana ysng benar, karena kami sudah Aliyah sehingga diharapkan kami bisa mengoreksi sendiri atas kesalahan bacaan kami.

Dan hari besoknya, kami masih disuruh membaca bacaan yang sama dengan hari kemarin. Kalau memang belum bisa mengoreksi, begitulah seterusnya, kata "hemmm" itu aku dengar kembali.

Pada saat yang lain, aku pernah berkesempatan ditimbali untuk mengikuti beliau tindak ke rumah KH Musthofa Bisri dan kiai-kiai lain sekitar Rembang. Maka semenjak pagi aku sudah bersiap di depan ndalem beliau, karena aku tahu beliau adalah sosok yang selalu tepat waktu.

Dan benar ketika jam yang dimaksudkan tiba, beliau sudah bersiap di depan ndalem, dan anehnya ternyatya sopir belum kelihatan batang hidungnya. Ditunggu kisaran 5 menit, sang sopir belum juga datang. Maka beliau kontan dhawuh: “Ayo budal ngebis,” (mari berangkat naik bus).

Dan berangkatlah kami bertiga (Mbah Sahal, Ibu Nyai dan saya) ke tepi jalan raya, menunggu bus. Tapi Alhamdulillah, sebelum bus datang, Kang Masudi sebagai sopir beliau datang, sudah dengan mobilnya, maka kami pun naik mobil beliau.

Begitu kami semua sudah naik mobil, Mbah Sahal dhawuhi saya: "Yak iki duwite kanggo bensin lan mengko mampire nang omahe kiai iki, kiai iki, sambil menyebutkan nama-nama kiai yang akan disinggahi.

Setelah itu beliau diam, tidak bicara sampai perjalanan pulang. Maka sepanjang perjalanan kami semua tegang dan sang sopir menyadari dia selalu tepat waktu.  

Pengalaman lain masih tentang tepat waktu. Ketika itu, beliau aku aturi untuk mengisi stadium general di STAIFAS Kencong. Beliau aku tempatkan di rumah sebelum berangkat ke kampus. Ketika jam yang ditentukan kisaran kurang sepuluh menit, maka beliau sudah mengajak berangkat ke kampus. Kami berusaha mengundur, namun ketika jam sudah tepat yang ditentukan sesuai undangan, maka beliau sudah tidak bisa dihalang-halangi untuk berangkat. Padahal ketika itu, undangan belum banyak yang hadlir.

Ah..., beliau memang sosok yang menghargai waktu. Salam ta'dzimku tak pernah usai. Semoga beliau selalu mendapatkan rahmat, ridlo dan pengampunan-Nya. Amin...

 

keterangan gambar: lukisan KH Sahal Mahfudh karya Tian Usmara Usman