Nasional

Zastrow: Nilai Budaya Obat Ampuh Hadapi Radikalisme Kekerasan

Ahad, 25 Oktober 2020 | 06:00 WIB

Zastrow: Nilai Budaya Obat Ampuh Hadapi Radikalisme Kekerasan

Ngatawi Al Zastrow (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

Budayawan Ngatawi Al-Zastrow menegaskan bahwa nilai luhur dalam kebudayaan Indonesia dapat menjadi penawar bagi virus radikalisme kekerasan dan terorisme yang berkembang di Indonesia. Dengan berpegang teguh pada nilai budaya, Zastrow yakin masyarakat Indonesia memiliki perisai kuat yang dapat membentengi diri dari bahaya radikalisme dan terorisme.

 

“Pada dasarnya watak dari konstruksi budaya tradisi Nusantara itu adalah tradisi integratif dan harmoni. Hal inilah yang membuat kita bisa bertahan sampai sekarang ini. Nah dari harmoni dan integrasi inilah yang sebetulnya bisa menyebabkan resiliensi, daya lenting, daya suspensif dari masyarakat kita agar terhindar dari narasi-narasi radikal,” ujar Ngatawi Al Zastrouw beberapa waktu lalu.

 

Demikian pula, ajaran agama Islam yang menyatu dengan budaya Nusantara. Ini juga memiliki sentuhan kekhasan Islam yang menyatu dengan kebudayaan sehingga memiliki ikatan yang kuat dan tidak mudah dibentur-benturkan antara agama dan budaya. 

 

Ia menyontohkan buah pemikiran para ulama seperti KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), KH. Bahauddin Nursalim ataupun Habib Syech Abdul Qodir Assegaf dan ulama moderat lainnya. Pemikiran para ulama ini dapat menyatukan kubu agama dan kubu budaya dengan harmonis sehingga memicu lahirnya kondisi masyarakat yang kondusif dan damai. 

 

Kendati begitu, lanjutnya, kita tidak bisa membiarkan kebudayaan dan ajaran moderat begitu saja tanpa dikampanyekan di dunia maya. Sebab keberhasilan menguasai dunia maya di era digital seperti saat ini menentukan keberhasilan mempengaruhi masyarakat luas. 

 

Di sisi yang lain, lanjut dia, penyebab suburnya narasi radikal dan tindakan anarkis di Indonesia, tak lain juga dikarenakan kelompok-kelompok yang suka menyebarkan narasi radikal dan tindakan anarkis ini memiliki kemampuan menguasai ruang media.

 

“Mereka ini sangat produktif dalam memproduksi narasi radikal tersebut. Akhirnya walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi seolah-olah subur, karena hampir setiap hari mereka mengisi ruang itu,” ujarnya.

 

Maka dari itu, ia mengatakan pentingnya mengampanyekan nilai budaya Nusantara dan Islam yang ramah yang telah menjadi pemikiran ulama moderat seluas-luasnya. Sehingga narasi Islam ramah dapat lebih luas didengar dan mempengaruhi masyarakat luas. 

 

Kebudayaan dan nilai Islam Nusantara, menurut dia dapat menjadi self defence mechanism atau mekanisme pertahanan diri dalam masyarakat untuk menolak paham radikal. Sebab paham radikal kelak akan mengajak pengikutnya untuk merusak kebudayaan, sementara nilai luhur budaya akan menolak ajakan itu. 

 

Pewarta: Ahmad Rozali
Editor: Muhammad Faizin