Cerpen: Saeful Huda
Ia gagal gantung diri setelah menyadari seluruh atap rumahnya sudah diplafon. Memang bukan urusan besar yang sedang dia alami. Layaknya anak muda, sedikit frustrasi bisa melegalkan bunuh diri. Ia masih memegang tali. Jantungnya masih kembang kempis menahan amarah. Bibirnya gemetar tapi giginya tidak menekan satu sama lain. Dia berusaha tenang. Sebelum ini, dia berdebat dengan adik tunggalnya.
Dia berusaha menenangkan diri dengan duduk, lalu tiduran. Dia berdiri, lalu mengambil jaket di kamarnya dan keluar dengan sepeda motor. Ia hanya ingin mencari udara segar di tengah kebisingan jalan raya. Dilaluinya jembatan Shirathal Mustaqim, nama jembatan yang ia namai sendiri karena punya pengalaman buruk di situ. Dia pernah jatuh di jembatan itu karena terpeleset jutaan bangkai laron. Rasanya seperti jatuh di jembatan ukhrawi dan langsung masuk ke neraka. Karena tidak tahu nama sungai di bawahnya, maka ia namai juga dengan Sungai Sirotol Mustaqim.
Ia sempat berpikir bagaimana jika dia menjadi laron yang hidup di kolong jembatan.
"Mungkin aku akan dengan mudah menemukan kematian bersama jutaan kawan-kawanku."
Tapi mengapa laron hanya terbang saat malam hari? Jika cahaya yang membuat mereka tertarik untuk keluar, lalu mengapa mereka mengingkari cahaya matahari? Atau mungkin mereka hidup dalam kemunafikan? Mungkin jika ia yang jadi laron, ia akan jujur pada dirinya sendiri, lalu terbang mengejar sinar matahari ke ujung yang tak tergapai.
Dia tersadar dari lamunan ketika melihat genangan air berjarak tiga roda di depannya. Dia mencoba membelokkan setir motornya dengan kecepatan satu detik. Pengendara motor yang ada di belakangnya terimbas dan berseru, "Goblok!"
Tenang, diam, lalu “Kamu yang goblok!" balasnya.
Ia memelankan laju sepeda motornya dan terpikirkan untuk mampir di pinggir Sungai Shirathal Mustaqim. Ia berhenti, lalu duduk di atas pagar beton sungai. Angin berembus cukup kencang. Panas matahari sudah tidak lagi menggigit kulit. Di bawah langit, ada banyak layang-layang bersendaren. Di atas jembatan, ada pelari yang melintas. Mungkin dia mau mendaftar tentara atau polisi, pikirnya.
Dia baru merasakan ketenangan di situ meskipun suara kendaraan yang lewat tidak bisa diredam. Dia berharap dapat menemukan kotoran manusia yang mengambang di air seperti apa yang ia lihat dulu waktu kecil, lalu menertawakannya. Namun, ia hanya menemui bilah-bilah bambu kecil yang terbawa arus. Dulu, bambu seperti itulah yang ia gunakan untuk membuat tulup, tembakan berbahan bambu yang pelurunya terbuat dari kertas basah. Dia tersenyum, tetapi mukanya langsung kembali datar karena perkara kertas itulah yang menyebabkan ia mau gantung diri.
Namanya Ndaru. Satu jam yang lalu, ia melihat adiknya membawa buku pelajaran keluar rumah. Dia tahu itu buku pelajaran tahun lalu yang sudah tidak pakai lagi oleh adiknya. Ia berpikir bahwa buku itu akan digunakan untuk membuat buntut layang-layang. Sebagai pustakawan desa, ia merasa masygul ketika tahu sebuah buku tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Adiknya balik lagi ke rumah untuk mengambil lem kertas yang tertinggal.
"Jangan pakai buku itu untuk membuat buntut layangan!" Seru Ndaru.
"Justru inilah fungsi kertas sesungguhnya, kan, Mas?” Sanggah adiknya.
Sorot mata Ndaru kaku menghadap adiknya tersebut. Ia merasa tersinggung. Lalu ia mengungkit adiknya yang tidak pernah juara kelas seperti dirinya.
"Pantas saja kamu bodoh. Kalau logika berpikirnya kayak gitu, berarti kepalamu juga bisa berfungsi untuk memecahkan telor ayam!”
"Oh Tuhan, mengapa Engkau ciptakan manusia kaku macam ini?” jawab adiknya santai. "Jangan munafik, Mas. Mas juga dulu memakai buku pelajaran untuk membuat petasan, kan?”
Ia berdiri diam. Adiknya mengambil lem kertas, lalu melanjutkan hidup.
Ndaru bisa saja menarik kaos adiknya dan menghajar adiknya itu. Ia jelas berani, mengingat ia lebih tinggi sekian kilan dari adiknya dan badannya lebih berisi. Tapi ia tidak melakukannya karena apa yang dikatakan adiknya adalah benar.
Ini bukan pertama kali mereka berdebat. Satu waktu, mereka berdebat soal pilihan sekolah adiknya. Setelah lulus SMP, adiknya ingin bersekolah di SMK. Teman-teman adiknya banyak yang sudah kerja sebagai buruh pabrik di kota-kota besar dengan bekal ijazah SMK. Tapi Ndaru hanya setuju jika adiknya itu sekolah di SMA.
Alasannya begitu banyak dan mungkin adiknya belum sampa berpikir sejauh itu. Tapi Ndaru hanya mengatakan apa yang kira-kira bisa sampai di otak adiknya itu.
"Industri hanya akan merekrut buruh yang usianya produktif. Setelah itu, tak ada perpanjangan kontrak. Tahu kamu?” Tegas Ndaru.
"Di pelajaran IPS, usia produktif itu sampai 60 tahun, Mas...”
“Tapi industri sekarang hanya butuh sampai usia 30 tahun!”
"Bodo amat lah, Mas. Yang penting bisa lulus dan langsung kerja. Biar nggak bergantung sama duit Mas yang nggak seberapa itu!”
“Kamu pikir setelah lulus, kamu bisa langsung kerja? Masuk kelas unggulan saja kamu nggak bisa!”
Ndaru merasakan kemenangan. Tapi itu hanya sesaat, pasalnya, mata adiknya mulai menampakkan keseriusan. Tapi Ndaru tidak gentar. Ia tahu bahwa adiknya itu tidak bisa membuktikan apapun setelah ini.
“Mas pikir, apakah jadi sarjana juga bisa menghasilkan duit banyak?”
Untuk pertanyaan ini, Ndaru belum bisa menjawab lebih lanjut. Ia sadar bahwa selama ini, ia hanya memberi uang saku ke adiknya itu tidak seberapa. Ia mengerti mengapa adiknya itu berambisi terhadap materi. Tapi perang sudah dimulai, pantang bagi Ndaru untuk mengalah.
“Kuliah itu menentukan pola pikir, yang menentukan besaran upah itu pemerintah dan kroni jahatnya!”
Ndaru berharap adiknya mengerti apa yang ia ucapkan barusan. Sebenarnya Ndaru sendiri masih menangguhkan jawaban lainnya.
“Pola pikir macam apa, Mas? Teman Mas saja yang sarjana banyak yang nganggur!”
Ndaru tidak menolak ucapan adiknya. Rizki, Basit, dan kawan-kawan lainnya justru lebih sering bermain layang-layang bersama adiknya. Ndaru kalah untuk kedua kalinya. Ia tidak mengerti bagaimana adiknya itu bisa punya jawaban yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Tapi dari jawaban adiknya itu, Ndaru sudah punya jawaban.
“Di koran, justru angka pengangguran terbesar itu merupakan lulusan SMK!”
“Ya iyalah, orang yang lulusan SMA pada kuliah!”
Babak belur sudah Ndaru, si pustakawan jangkung ini.
"Sudahlah, Mas. Yang penting aku sekolah. Ijazah SMK banyak laku di industri. Persetan dengan pola pikir!”
Selama ini Ndaru memang hanya hidup untuk dirinya dan adiknya sendiri. Ia pernah membayangkan hidup bahagia bersama kawan-kawannya, tapi semuanya kandas. Bukan karena tanpa ihtiar, tapi karena keterbatasan.
Ndaru memicingkan matanya. Ia melihat barang kecil berwarna kuning melewati dirinya dengan lambat. Dan ya, barang itulah yang dia cari di sini! Ia tersenyum, bahkan tertawa sendiri. Untuk sejenak, ia lupa apa yang sempat menjadi buah kemurkaannya.
“Biarlah segalanya mengalir seperti tahi ini. Bagaimanapun tahi melawan arus, toh ia tak akan pernah bisa memanjat air terjun.”
Ia menaiki sepeda motornya, lalu bergegas pulang karena sebentar lagi kalong akan berkeliaran. Orang desa yang tidak pulang ketika kalong sudah berkeliaran, biasanya akan diselong dan dibawa ke dunia antah berantah.
Saeful Huda, pengajar sejarah dan penulis lepas dari bumi Dukuh Paruk.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Maulid Nabi Muhammad dan 5 Tugas Kenabian
2
Khutbah Jumat: Tidak Ada Alasan untuk Tidak Bersyukur atas Kelahiran Rasulullah
3
Peristiwa Pengemudi Ojol Tewas Dilindas Polisi Picu Perlawanan Rakyat Lebih Besar
4
Khilaf dan Kurang Cermat, PBNU Minta Maaf Telah Undang Peter Berkowitz
5
Kapolda Metro Jaya Diteriaki Pembunuh oleh Ojol yang Hadir di Pemakaman Affan Kurniawan
6
PMII Jakarta Timur Tuntut Keadilan Usai Kadernya Tertembak Peluru Karet hingga Tembus Dada
Terkini
Lihat Semua