Nasional

Forum Rektor Tunas Gusdurian 2025 Dorong Desain Kampus Ramah Lingkungan

NU Online  ·  Sabtu, 30 Agustus 2025 | 20:30 WIB

Forum Rektor Tunas Gusdurian 2025 Dorong Desain Kampus Ramah Lingkungan

Forum Rektor Tunas Gusdurian di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Sabtu (30/8/2025). (Foto: dok. panitia)

Jakarta, NU Online

Forum Rektor dalam rangkaian Temu Nasional (Tunas) Gusdurian 2025 mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk lebih serius merancang kampus yang ramah lingkungan. Ajakan ini muncul sebagai respons atas persoalan sampah dan krisis lingkungan yang hingga kini belum terselesaikan.


Hal itu disampaikan Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menyampaikan di hadapan 31 rektor perguruan tinggi keagamaan dari berbagai agama, baik Islam, Kristen, Buddha, maupun Hindu. Menurutnya, penyelesaian masalah ekologi di kampus selama ini baru sebatas pada level pertama.


“Cepat memang penyelesaiannya. Tapi tidak benar-benar selesai. Seperti lagi nyapu tapi dibuang ke bawah kolong. Memang tidak kelihatan, tapi kotorannya masih ada,” ujarnya dalam Forum Rektor yang digelar di Asrama Haji, Jakarta, Sabtu (30/8/2025).


Alissa menjelaskan bahwa berdasarkan pendekatan dari Presencing Institute, ada empat tingkatan dalam menyelesaikan persoalan lingkungan yakni quick fixes, redesigning policies, rethinking values and beliefs, dan regenerating source of creativity and self.


Ia menegaskan, perguruan tinggi perlu mendorong desain perilaku yang lebih ramah lingkungan. Alissa mencontohkan masyarakat Muslim yang mengedepankan prinsip hablumminallah dan hablumminannas.


“Perlu menjadi perhatian konsep tersebut hidup dalam kegiatan sehari-hari, terutama saat mendesain kebijakan, membangun kampus, atau lainnya,” kata Ketua PBNU itu.


Kurikulum berbasis cinta

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama (Kemenag) H Sahiron juga menyoroti pentingnya peran pendidikan dalam menjawab tantangan lingkungan dan kemanusiaan global.


Ia menyebut, saat ini dunia dihadapkan pada penurunan spiritualitas agama, konflik dan kekerasan, serta kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan, mulai dari perubahan iklim, udara kotor, hingga persoalan sampah.


“Penting menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kondisi kemanusiaan dan kealaman. Pendidikan (baik formal, nonformal, maupun digital dalam arti luas) diharapkan menjadi solusi efektif,” jelasnya.


Menurut Sahiron, Kemenag kini tengah merumuskan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai salah satu jawaban.


Kurikulum ini didasarkan pada kecintaan yang mendalam kepada Tuhan sehingga melahirkan kesadaran positif, akhlak mulia, dan kepedulian kepada manusia serta alam dalam segala situasinya.


“Visi KBC membentuk insan kamil berkarakter komprehensif dalam rangka menciptakan dunia yang nyaman, damai, dan harmonis untuk menggapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat,” katanya.


Ia berharap, KBC dapat menumbuhkan kecintaan manusia terhadap alam melalui gerakan-gerakan kecil namun berdampak besar.