Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Gus Baha Tekankan Masjid Megah Harus Diimbangi Kualitas Shalat Jamaahnya

Gus Baha Tekankan Masjid Megah Harus Diimbangi Kualitas Shalat Jamaahnya
Gus Baha tekankan masjid megah harus diimbangi kualitas shalat jamaahnya. (Foto: NU Online/Ahmad Naufa)
Gus Baha tekankan masjid megah harus diimbangi kualitas shalat jamaahnya. (Foto: NU Online/Ahmad Naufa)
Jakarta, NU Online
Bangunan masjid yang megah menjadi pemandangan biasa saat ini. Menyikapi fenomena ini, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) berpesan bahwa membangun fisik masjid dan membangun komunitas shalat yang benar harus satu tarikan napas.
 
"Zaman Nabi, masjid itu sederhana, tapi Nabi luar biasa mengajarkan tata cara ibadah. Nabi mempraktekkan sendiri," jelasnya saat dalam diaspora muslim dunia dalam rangka penggalangan dana masjid Belgia, Ahad (19/9).
 
Gus Baha lalu bercerita, ketika Nabi Muhammad masih hidup ada seorang yang datang ke Nabi lalu tanya bagaimana caranya shalat. Nabi kemudian minta orang tersebut tinggal di masjid selama tiga hari untuk mengamati shalatnya Nabi. 
 
Setelah itu, Nabi berpesan kepada orang tersebut untuk shalat seperti ia melihat Nabi Muhammad shalat. Di waktu yang lain, Nabi pernah menyuruh sahabatnya untuk mengulang shalatnya dan Nabi mengajarkan cara shalat mulai awal hingga akhir. 
 
"Dengan begitu, kualitas shalatnya bagus. Sehingga memenuhi keinginan Nabi. Jika kita meresapi ibadah shalat terkhusus sujud maka akan bisa mencegah dari perbuatannya mungkar," imbuhnya.
 
Gus Baha menambahkan, selayaknya takmir masjid tidak fokus membelanjakan uang sumbangan dari jamaah untuk membangun fisiknya masjid saja. Jangan sampai masjidnya megah, tapi yang shalat tidak benar syarat dan rukunnya. Andaikan ada anggaran masjid fisik maka perlu juga ada anggaran untuk belajar atau bimbingan shalat yang benar. 
 
Misalnya tata cara sujud harus sedikit ditekan. Ada tujuh anggota sujud. Begitu juga bacaannya, meskipun bukan jadi syarat sah shalat.
 
"Jika khawatir ini membiasakan guru mengajar karena uang. Maka masih banyak orang ikhlas yang mau mengajarkan tata cara shalat dan sujud yang benar," ujar alumnus Pesantren Al-Anwar Sarang ini.
 
Gus Baha menyampaikan, masjid perlu menyediakan wadah bagi jamaah untuk belajar ibadah yang baik karena akan berpengaruh pada kepribadian. Selain itu, dampak sujud akan kekal hingga akhirat. Api neraka tidak membakar bekas sujud. 
 
"Status kehambaan seorang di hadapan Allah akan sah jika shalatnya benar, kemudian baru bisa masuk surga," tambahnya.
 
Gus Baha mengatakan, jika seseorang memahami sujud secara baik, maka seorang Muslim sadar bahwa ia bukan siapa-siapa. Sujud dalam shalat bentuk iqror bahwa manusia tidak berkuasa dan Allah lah yang memiliki kuasa.
 
Dalam shalat, semuanya sama. Doktor dan masyarakat biasa. Jika ini terus dihayati, maka di luar shalat dia akan berperilaku tawadhu.
 
Bisa jadi orang yang sujud di Jerman dan Belgia adalah karena doanya bumi yang ingin sekali ada orang sujud di atasnya. Bedanya Islam dengan agama lain yaitu di mana saja, di atas bumi sah dibuat tempat sujud. Boleh di lapangan, di pabrik, di rumah selama tempat itu suci.
 
Nabi pernah tidak boleh shalat di masjidil haram karena diembargo Kafir Quraisy, lalu Nabi salat di lereng-lereng gunung. 
 
"Ini mengajarkan kepada kita bahwa ibadah yang memenuhi syarat dan rukun itu lebih utama daripada ibadah yang tidak memenuhi syarat dan rukun meskipun di tempat terhormat," tandas Gus Baha.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya