Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Cara Merawat Kekayaan Sosial NU Menurut Kiai Said

Cara Merawat Kekayaan Sosial NU Menurut Kiai Said
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat khususnya warga NU untuk menjaga kekayaan sosial yang dimiliki oleh NU. Bentuk kekayaan sosial yang dimiliki NU menurut Kiai Said adalah kuantitas warga NU yang jumlahnya sangat banyak. Dengan jumlah terbesar ini, NU pun menjadi ormas keagamaan terbesar di Indonesia bahkan di dunia.


“Jamaah kita sangat banyak, yang tidak dimiliki orang (ormas) lain. Ini kekayaan yang tak ternilai oleh ukuran materi,” ungkap Kiai Said saat mengisi sambutan dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU secara daring, Sabtu (18/9).


Dengan kekayaan sosial ini, lanjutnya, NU bisa mampu melakukan amar ma’rûf nahi mungkar secara lebih maksimal. Di antaranya adalah dengan membangun lembaga pendidikan, majelis ta’lim, perguruan tingggi, dan lain sebagainya.

 

 

Namun di sisi lain, usaha untuk melemahkan NU pun terus bermunculan. “Banyak pihak yang ingin menggerogoti kekayaan kita, ingin menjauhkan masyarakat dari kiai, ingin menjauhkan masyarakat dari NU,” imbuh Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah itu.


Untuk merawat kekayaan sosial ini, Kiai Said merujuk surat An-Nisa ayat 114 yakni: lâ khaira fikatsîrin min najwâkum illâ man amara bi shadaqatin aw ma’rûfin aw ishlâḫin bainannâs. (Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) untuk bersedekah, berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.)


“Berdasarkan ayat ini, ada tiga agenda penting yang harus dimiliki oleh organisasi. Pertama adalah peduli terhadap fakir miskin,” papar Kiai Said dalam acara bertajuk Penguatan Digitalisasi Pendidikan di Lingkungan LP Ma’arif NU itu.


Kiai Said mengungkapkan keprihatinannya dengan kondisi bangsa Indonesia. Dalam pandangannya, Indonesia adalah negara yang cukup memiliki kekayaan alam, tetapi masih banyak masyarakat yang miskin. “Tidak pantas, kalau penduduk Indonesia ini miskin, padahal alamnya kaya raya. Kalau alamnya miskin, dan masyarakatnya miskin, itu wajar,” tambahnya.


Agenda kedua adalah membangun kebaikan (ma’rûf). Menurut Kiai Said, di antara wujud usaha untuk mewujudkannya adalah dengan program pendidikan, pembinaan moral, kegiatan kemasyarakatan, pembuatan majelis ta’lim, dan langkah-langkah progresif lainnya.


“Kita berkumpul, berorganisasi, bernegara, berdiskusi, tidak ada artinya kecuali memiliki agenda untuk membangun kebaikan,” papar Kiai kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu.


Dalam praktiknya, membangun kebaikan juga harus ditempuh dengan cara-cara yang baik pula. “Tidak boleh tujuannya baik, tetapi menghalalkan segala cara. Atau sebaliknya, niatnya tidak baik, tapi dengan cara yang baik, ini bisa celaka,” tambah Kiai Said.


Agenda ketiga adalah menciptakan kesejahteraan umat sehingga mampu menciptakan masyarakat yang baik (shâliḫ). Kiai Said pun merasa prihatin dengan Indonesia dan negara mayoritas penduduknya Muslim lainnya yang belum mewujudkan dan menerapkan kesejahteraan umat dengan baik.


“Ini yang berat. Kalau kita berbicara seperti ini, malu. Ternyata masyarakat yang shalih itu di Eropa.Tidak ada korupsi, tidak ada pencuri, hak asasi terjaga, adil makmur, dan nyaman,” pungkasnya.


Kontributor: Muhamad Abror
Editor: Muhammad Faizin

 

 


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya