Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Pasien Covid-19 di Bangsal Kami

Pasien Covid-19 di Bangsal Kami
Ilustrasi
Ilustrasi

Cerpen Hafis Azhari

Dari duabelas pasien yang ditangani perawat dan petugas medis, sekarang tinggal empat orang yang bertahan, dan masih dinyatakan positif Covid-19. Sebagai petugas medis dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, saya berusaha menjaga amanat yang dipesankan dokter agar merawat mereka, serta memberi asupan nutrisi yang baik, berikut obat-obatan yang secara rutin disediakan untuk mereka.

 

Tetapi, yang ingin saya jelaskan kepada Anda adalah dua tipikal manusia yang berbeda dalam menyikapi pandemi Covid 19 yang dideritanya. Yang pertama bernama Ayub, satunya lagi Abud. Sebagai seorang religius, Ayub berpegang pada pesan-pesan religiusitas dalam menyikapi penyakit yang dideritanya, yakni berdoa dan berusaha seoptimal mungkin.

 

Ayub berdoa siang-malam agar Tuhan menyembuhkan penyakitnya. Ia juga rajin mengonsumsi obat dan makanan yang kami sediakan sebanyak tiga kali sehari, ditambah buah-buahan dan susu yang disuplai dari Kementerian Kesehatan. Selama beberapa minggu, dokter menyarankan agar Ayub banyak beristirahat dan berbaring di tempat tidur. Kecuali aktivitas ringan seperti membaca buku, koran atau menonton siaran televisi. Ia konsisten mengikuti petunjuk dokter agar banyak minum air putih, tidak mengonsumsi es, rokok, kopi, hingga makanan yang banyak mengandung lemak, kolesterol dan gula.

 

Obat-obatan sudah diminum, pantangan sedapat mungkin dihindari. Doa-doa dipanjatkan siang-malam, namun Tuhan belum juga berkehendak bagi kesembuhan penyakitnya. Ayub terus konsisten untuk menjalankan yang terbaik bagi kesembuhannya. Berusaha bersikap ramah pada mereka yang menjenguknya, meski dalam jarak tertentu ia masih diperbolehkan untuk berkomunikasi. Ia juga tidak banyak mengeluh, malah justru membesarkan hati para penjenguknya agar senantiasa opitimistis menghadapi ujian hidup.

 

Akhirnya, banyak hikmah dan ilmu yang dipetik setelah takdir Tuhan menentukan waktu tiga bulan bagi penyakit yang dideritanya. Setelah tiga bulan itu, Ayub bangkit kembali setelah hasil tes akhir menyatakan dirinya negatif dari virus korona. Kini, ia beraktivitas secara optimal. Ilmu dan wawasan semakin matang, dan ia tetap konsisten sebagai seorang religius yang baik.

 

Beda dengan Abud yang selalu marah-marah dan uring-uringan lantaran terinfeksi virus yang sama. Ia banyak mengeluh, mengaduh dan menggerutu. Baginya, semua orang adalah musuh dalam selimut. Setiap orang yang menjenguk dicurigainya, tengah mengirim jenis-jenis penyakit baru yang akan mewabah dan merajalela. Para penjenguknya dihadapi dengan muka cemberut. Ia tidak mau memakan makanan yang dikirim siapapun, takut mengandung benda-benda yang berunsur nila atau racun. Makanan yang kami sediakan pun terasa pahit dan hambar di mulutnya.

 

Karena rasa frustasi dan kecurigaannya pada semua orang, dengan sendirinya ia pun malas berdoa bagi kesembuhan penyakitnya. Pantangan dari dokter seringkali ia langgar. Setelah beberapa minggu, obat pun berhenti ia konsumsi. Kerjaannya hanya marah dan uring-uringan di tempat tidur. Tim Satgas merasa segan merawatnya. Saudara-kerabat juga enggan menjenguknya, takut kena damprat dan amarah. Tatapi, karena imunitasnya masih memungkinkan baginya untuk sembuh, maka sembuhlah ia. Tuhan menakdirkan ia menderita Covid 19 selama tiga bulan, hingga kemudian pulanglah ia ke rumah dalam hitungan waktu tersebut.

 

Jadi, Ayub dan Abud telah sama-sama menghadapi takdir hidup, keduanya terpapar Covid 19 dan menjalani proses penyembuhan selama tiga bulan. Yang satu konsisten berdoa dan berusaha secara optimal, hingga sembuh dari penyakitnya. Yang satunya lagi, menjalani proses kesembuhannya dengan mengumbar amarah dan kedengkian pada semua orang.

 

Dua-duanya bisa sembuh setelah tiga bulan, dan menjalani aktivitasnya seperti sedia kala. Namun demikian, para pembaca yang berakal sehat dan berhati nurani, tentu akan sanggup membedakan siapakah yang lebih mulia derajatnya antara Ayub dan Abud, baik di mata Tuhan maupun di mata manusia.

***

 

Nah, sekarang ada dua lagi tipikal manusia yang berbeda dalam menyikapi serangan virus Corona, dan keduanya juga terpapar Covid-19. Sebut saja, yang satu Asep, satunya lagi Usep. Kedunya menderita penyakit yang sama-sama kronis. Asep sudah berobat selama beberapa minggu bahkan lebih dari dua bulan. Doa-doa berusaha dipanjatkan siang dan malam. Ia berusaha bersikap ramah pada setiap penjenguknya. Meski demikian, virus itu terus menjalar dan sulit ditangkal oleh imunitas tubuhnya. Sampai kemudian, di bawah penanganan perawat dan tim medis dari Satgas, dengan menjalankan petunjuk dokter secara optimal, Asep pun meninggal dunia setelah menjalani tiga bulan masa pengobatan.

 

Sementara itu, Usep bersikap masam dan cemberut pada semua orang, termasuk pada dokter dan tim medis yang merawatnya. Jenis penyakitnya serupa dengan Asep, juga sama-sama kronis dan menjalani pengobatan selama dua bulan lebih. Ia tidak sempat berdoa, atau doa-doanya kurang optimal karena kedengkiannya pada semua orang. Pada bulan ketiga, virus itu terus mengganas di sekujur tubuhnya, hingga akhirnya, ajal pun menjemputnya.

 

Asep dan Usep ditakdirkan menjalani pengobatan selama masa tiga bulan. Usaha dan doa-doa yang dipanjatkan Asep secara optimal, tetap mengantarkannya ke pintu gerbang kematian (ketentuan Tuhan). Begitupun Usep, minum atau tidak minum obat, berdoa atau berpangku tangan, tetap saja ajal menjemputnya, karena Tuhan menakdirkan keduanya meninggal dunia setelah tiga bulan masa pengobatan. Tetapi, semua pembaca akan paham, kualitas hidup yang manakah yang lebih baik antara Asep dan Usep. Dan siapakah derajatnya yang lebih mulia dalam pandangan Tuhan maupun manusia.

 

Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang terpapar jenis penyakit apapun, dan sedang menjalani masa pengobatan, sungguh tidak ada yang tahu kepastiannya. Apakah dengan penyakit yang diderita itu, akan mengantarkan Anda dalam kesembuhan, ataukah mengantarkan Anda ke pintu gerbang kematian?

 

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu, tetapi Dia tetap merahasiakannya, serta memerintahkan manusia agar berdoa dan berusaha seoptimal mungkin....

***

 

Sebagai petugas tim Satgas, dan sebagai hamba Tuhan yang biasa-biasa saja, saya tidak memiliki otoritas untuk menghakimi apakah Anda berada dalam kategori yang mulia ataukah hina. Saya juga tidak punya hak untuk mengklaim apakah Anda akan menjadi ahli surga ataukah neraka. Sebab, mulia di mata Tuhan–cepat atau lambat–akan menjadi mulia di mata manusia. Tetapi, belum tentu sebaliknya.

 

Selaku hamba Tuhan, saya tak punya kewenangan untuk menilai Anda seorang theis, atheis, ataukah sejenis manusia yang pintar membungkus atheisme dengan aksesoris keberagamaan yang bersifat kasat mata. Apakah yang dipentingkan bagi Anda selama ini, apakah menjadi manusia beriman yang dewasa ataukah sekadar mementingkan formalisme hukum agama belaka?

 

Bukankah hakikat iman yang sebenarnya adalah apa yang tersirat di dalam hati, dan dibenarkan oleh perilaku yang tenang dan sabar dalam menghadapi ujian hidup, termasuk menghadapi wabah dan pandemi seganas apa pun?

 

Jika kita menghadapi ujian Tuhan sebagaimana watak dan karakteristik Abud dan Usep, maka sejauh mana kualitas keimanan kita, yang mengaku-ngaku bangsa yang beragama dan ber-Pancasila sejati? Sebaliknya, jika kita meneladani watak dan karakteristik Ayub dan Asep, maka tak ada masalah dengan kesembuhan maupun kematian, sehat atau sakit, sukses atau gagal, menang atau kalah dan seterusnya.

 

Kalau seseorang memaksakan kehendak untuk selalu menjadi sukses dan menang, seberapa kuat kemampuan manusia untuk menjawab kelemahan dan kekurangan yang melingkupi jalan hidupnya, seperti rasa lelah dan capek, lupa, kemampuan finansial dan ilmu yang terbatas, juga datangnya masa tua yang tak bisa dihindari? Lalu, siapa yang berani menjamin bahwa kita pasti akan terbangun setelah menjalani masa tidur pada malam ini, ataukah akan tertidur untuk selama-lamanya?

***

 

Yang terpenting bagi Ayub dan Asep adalah berdoa dan berusaha seoptimal mungkin. Perkara bagaimana akhirnya, terserah pada keputusan Tuhan Yang Maha Menguasai dan Menggenggam segalanya. Itulah yang dimaksud hamba yang pasrah dan berserah diri. Jadi, tetap konsisten dan tawakal pada ketentuan Tuhan.

 

Apakah Anda sebagai jurnalis, seniman maupun sastrawan, yang mengaku-ngaku Muslim atau penganut Kristen dan pemuja Bunda Maria, sudah benar-benar sanggup untuk berserah diri sepenuhnya pada Yang Maha Esa? Ataukah masih tetap menyibukkan diri dengan aksesoris jimat, benda-benda pusaka, dan segala tetek-bengek takhayul dan amalan-amalan syirik lainnya?

 

Terkait dengan ini, seorang menantu dan sahabat Nabi, Saydina Ali pernah menyampaikan ungkapan bersayap, "Tidak sama orang yang mencari kebenaran walaupun belum diperolehnya, ketimbang orang yang mencari-cari kesalahan walaupun sudah berhasil diraihnya."

 

Dalam perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan, Saydina Ali kemudian terbunuh oleh pedang seorang ekstrimis dan radikalis dari Kaum Khawarij. Orang itu bernama Abdurrahman bin Muljam. Tipikal manusia yang berpikir dalam perspektif tunggal, hingga di depan pengadilan ia masih bersikeras membela diri sambil mengutip-ngutip ayat Alquran untuk membenarkan tingkah laku dan sikap anarkisnya.

 

Tetapi, apa pun yang terjadi pada diri Ali, ia telah dikenal sebagai manusia mulia, serta diabadikan dengan julukan 'kuncinya ilmu'. Ia telah mewariskan karya sastra monumental berjudul Nahjul Balaghah, yang kemudian menjadi rujukan para sastrawan, kaum sufi, filosof maupun kaum intelektual di seluruh dunia.

 

Sedangkan pembunuhnya, tak lebih dari seorang ambisius yang tergila-gila pada hasrat ekonomi dan kekuasaan duniawi belaka. Orang itu tidak melahirkan karya apa pun, karena memang seseorang yang hidupnya masih diselubungi dosa masa lalu, tak mungkin punya kemampuan untuk berpikir lapang dan terbuka. Juga tak punya kekuatan untuk menggoreskan pena sebagai sarana penting untuk berkarya bagi kemaslahatan umat.

 

Kalaupun ia bersikukuh untuk tetap berkarya, paling banter karyanya akan selevel dengan kapasitas dirinya, yang merasa tengah mengadakan 'pembangunan', tanpa menyadari bahwa ia sebenarnya sedang menebar kekacauan dan kerusakan bagi peradaban umat. Tak ubahnya dengan kaum anarkis yang menciptakan juggernaut, suatu kemegahan duniawi yang pada akhirnya menghancurkan dan menenggelamkan dirinya sendiri....

***

 

Hafis Azhari, pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.


Terkait

Cerpen Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya