Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

50 Juta

50 Juta
Ilustrasi: 'Upick' Mutholhib
Ilustrasi: 'Upick' Mutholhib

Cerpen Susanto

"Sedulur, bagaimana kalau masjid ini kita rehab bersama? Sedulur semua sudah paham kalau masjid ini sudah tua dan sejumlah pasak dan tiangnya sudah rapuh. Alangkah baiknya kita bangun bersama karena alangkah berdosanya ketika rumah Gusti Allah ini justru ambruk," kata Kiai Toha usai shalat Jumat di Masjid Nurul Yaqin.

 

Mendengar Kiai Toha berbicara, warga saling berpandangan. Dalam diam mereka mengiyakan apa yang dikatakan Kiai Toha. Siapa pun tak bisa menyangkal kalau masjid kampung penderes yang dibangun saat masa DI/TII itu masih itu kini sudah rapuh. Setelah itulah musyawarah yang berlangsung singkat itu menghasilkan keputusan, warga mengadakan iuran amal jariyah untuk membangun masjid itu. 

 

Seminggu setelah musyawarah itu panitia bekerja menarik iuran kepada warga. Ditetapkan dalam musyawarah setiap kepala keluarga wajib memberikan iuran minimal Rp50 ribu. Angka itu bisa dicicil selama dua bulan, karena panitia mengetahui kalau penghasilan mayoritas warga yang merupakan penderes gula kelapa itu tak seberapa. 

 

Di tengah proses penarikan iuran itulah, tersiar kabar heboh yang mengejutkan seluruh kampung. Kabar dari mulut ke mulut menyebut kalau Yu Rat, telah menyumbang iuran masjid Rp50 juta. Bagaimana tidak heran, karena Yu Rat dikenal warga hanya seorang buruh pencuci baju, yang paling banter berpenghasilan Rp15 ribu sampai Rp20 ribu. Apalagi para pegawai negeri di kampung itu kini telah memakai mesin cuci. 

 

"Ah, mustahil Yu Rat menyumbang Rp50 juta. Uang dari mana, Pak Guru Yanto dan Bu Guru Minarni yang langgan Yu Rat juga sekarang jarang memanfaatkan jasanya lagi. Apalagi sekarang setelah masuk listrik, mereka sudah pasang mesin cuci," kata Yu Pungah berbicara dengan tetangga lain di warung sembako Yu Dati. 

 

Ya, tak hanya Yu Pungah, hal yang sama juga dipertanyakan Kang Taris, Kang Karto, Ridwan saat ronda malam. Di benak warga, kabar itu adalah suatu kemustahilan. Mana mungkin punya uang sebegitu banyak. Seandainya punya uang banyak pun sungguh sayang kalau semua didermakan untuk iuran masjid. Tetapi anehnya, kabar itu dibenarkan dan bahkan menjadi tema khutbah Jumat yang dibacakan Kiai Toha. 

 

"Tak perlulah saya sebutkan siapa namanya orang yang telah menyumbang iuran masjid yang cukup besar di awal iuran ini. Setidaknya ini menjadi pembelajaran kita semua, bahwa amal jariyah itu bisa jadi bekal kita di akhirat nanti," jelas Kiai Toha di sela khutbahnya. Meski tak menyebut nama dan alamat penyumbang tersebut, namun semua jamaah sangat mafhum kalau yang dimaksud Kiai Toha adalah Yu Rat. 

*
Di tengah ramainya pembicaraan warga soal Yu Rat, adalah Nursalim, juragan kambing yang menjadi seksi penghimpun dana pembangunan masjid yang merasa paling bertanggungjawab. Apalagi sebagai pengumpul sumbangan dari warga, Nursalim tak pernah menerima uang Rp50 juta dari Yu Rat. Ia pun kemudian menelusur mengapa kabar tak benar itu beredar bahkan telah menjadi tema khutbah Kiai Toha.  

 

"Pak Kiai, kemarin yang saya maksud Rp50 ribu itu ya Rp50 ribu, bukan Rp50 juta. Jadi itulah nominal uang yang diberikan Yu Rat, " jelasnya kepada Kiai Toha usai jamaah Subuh.

 

Kiai Toha terbelalak. Pasalnya ketika berhubungan dagang dengan Nursalim, Kiai Toha kerap memaknai ribuan itu jutaan. "Aku kira Rp50 ribu itu ya Rp50 juta. Bukankah dalam transaksi jual beli kambing di Pasar Ajibarang, yang disebut Rp3 ribu itu maksudnya Rp3 juta," jawabnya.

 

"Aduh...," Nursalim menepuk jidat. Namun semua telah mendengar dan yakin dengan kabar berita tersebut. Apalagi Kiai Toha merupakan orang yang terpercaya dan mustahil untuk berbohong. Apalagi setiap berkata ia sangat hati hati.

 

"Rim, ke sini," Kiai Toha memanggil Karim, pembantu Nursalim yang juga menjadi pengumpul iuran. Lalu dijelaskanlah duduk permasalahan itu kepada Karim. 

 

"Justru setelah mendengar kabar Yu Rat menyumbang Rp50 juta itulah, orang-orang kaya yang agak pelit jadi terpancing Pak Kiai. Yu Rat itu bisa dibilang sudah menjadi penolong kita, pemancing untuk kita mendapatkan ikan yang lebih besar dan ini telah berhasil," kata Karim kukuh. 

 

"Tapi setiap kebenaran yang pahit pun harus dikatakan. Jangan ditutupi Rim. Panitia harus menjelaskan kepada warga bahwa Yu Rat tidak menyumbang Rp50 juta tapi Rp50 ribu saja. Begitu. Tolong ini tugas panitia untuk memberitahukan kebenaran ini," kata Kiai Toha. Perintah itu disambut Nursalim dan Karim dengan saling pandang namun terdiam. 

*
Beberapa hari kemudian setelah pertemuan itulah, Nursalim dan Karim keliling kampung memberitahukan soal Yu Rat tersebut kepada warga. Berbagai tanggapan muncul dari warga, mulai dari menyayangkan, menyalahkan panitia, ataupun ada juga orang kaya yang  menggerutu. Mungkin mereka menyesal menyumbang lebih banyak iuran masjid karena terpancing kabar sumbangan Yu Rat.

 

"Jangan khawatir Rim, membangun rumah Tuhan pasti ada jalan. Namun memang pasti ada cobaan. Ya, seperti inilah, jalan surga memang tak mudah," ujar Nursalim menepuk pundak Karim, yang lesu menenteng map plastik berisi biodata warga penyumbang. 

 

Sebelum khutbah Jumat dimulai, panitia pembangunan masjid mengumumkan jumlah perolehan penarikan sumbangan pembangunan masjid. Panitia pembangunan masjid mengumumkan total perolehan dana sumbangan dari warga. Namun tak disebutkan satu persatu. 

 

"Kami telah pampang nama-nama penyumbang beserta besarannya di papan pengumuman masjid. Silakan apabila ada kesalahan penulisan atau koreksi bisa menghubungi panitia. Terimakasih," kata Nursalim mengakhiri laporan di hadapan jamaah masjid. 

 

Usai ibadah Jumat para jamaah berbondong melihat dan membaca nama-nama penyumbang yang tertera di papan pengumuman masjid tersebut. Sejumlah nama orang kaya dengan sumbangan Rp10 juta, Rp20 juta hingga Rp30 juta terpampang paling atas. Dan, nama Yu Rat terpampang pada barisan bawah bersama penyumbang lain senilai Rp50 ribu. 

*

Sabtu pagi, dari pengeras suara Masjid Nurul Yaqin, pengurus masjid mengabarkan berita Yu Rat yang mendadak meninggal dunia. Mendengar berita lelayu  dari pengeras suara masjid itulah, banyak warga yang berspekulasi mengenai sebab meninggalnya Yu Rat. Sebelum dinyatakan meninggal dunia, perempuan buruh cuci  itu sakit. Dalam sakitnya ia lebih banyak diam dan enggan menemui tetangganya yang mau menjenguknya.

 

"Mungkin tak kuat menahan malu, buktinya ia sakit selama empat hari lalu. Ya, mungkin malu karena dikabarkan telah menyumbang uang banyak, ternyata kenyataannya sedikit," ujar Yu Lebuh saat menjual gula merah di Warung Yu Dati. 

 

"Ah jangan begitu. Orang meninggal dunia jangan dibicarakan kejelekannya. Tak baik. Toh yang salah itu, Nursalim penarik iuran masjid. Salah sangka, salah mengumumkan, kurang teliti sebelum mengumumkan ke warga besarnya sumbangan itu," kata Yu Dirah menimpali. 

 

Singkat waktu, setelah pengumuman berita lelayu itulah, warga berbondong mengurus jenasah Yu Rat. Dibantu warga setempat, Kiai Toha yang juga dipercaya warga setempat menjadi kayim memimpin prosesi pemulasaraan jenasah itu. Namun sepanjang prosesi itu, pembicaraan tentang Yu Rat masih tak berhenti. 

 

Sebelum pemberangkatan jenasah,Kiai Toha yang kembali memimpin doa dan memberikan sambutan selaku wakil keluarga. Namun di tengah sambutan tersebut, Kiai Toha dihentikan oleh kedatangan Karim dan Nursalim dari dalam rumah Yu Rat. 

 

Usai memberikan isyarat kepada Kiai Toha, Nursalim menghampiri Kiai Toha. Sambil berbisik, Nursalim memberikan amplop cokelat tebal kepada  Kiai Toha. Usai mendengar bisikan dari Nursalim, raut muka Kiai Toha berubah. Ia pun kembali berbisik kepada Nursalim. Melihat adegan itu, para pelayat saling beradu pandang dan berbisik. Usai memberikan itu, Nursalim kembali ke barisan para pelayat. 

 

"Para pentakziyah, sedulur semua yang  saya hormati. Mohon dipersaksikan bahwa sebelum meninggal dunia Yu Rat berwasiyat kepada anaknya, Kusno. Yu Rat, menitipkan sebesar Rp 50 juta ini untuk disumbangkan untuk pembangunan masjid. Ya, benar-benar Rp 50 juta. Sudah saya periksa isi amplop ini uang semua tadi," kata Kiai Toha sambil mengacungkan amplop cokelat besar kepada para pelayat yang merasa keheranan. 

 

"Ini adalah hasil tabungan yang telah disimpan oleh Yu Rat selama bertahun-tahun termasuk saat bekerja di Jakarta. Selama bertahun-tahun ia selalu menitipkan tabungan kepada anaknya Kusno. Semoga ini menjadi amal jariyah bagi Yu Rat. Allahumma...." kata Kiai Toha. 

 

"Amien," kata warga. Namun, balasan amien dari warga belumlah kompak karena sebagian warga malah saling berpandangan seperti menahan keraguan. 

 

"Allohuma....," ulang Kiai Toha meyakinkan.

 

"Amien...." begitulah serentak dijawab para hadirin lebih keras dan lebih kompak dari sebelumnya. 

*

Sejak pemakaman itulah, Yu Rat kembali menjadi bahan pembicaraan warga. Kebaikan Yu Rat selalu dikenang oleh warga dan menjadi contoh dan kembali menjadi bahan khotbah Jumat oleh Kiai Toha di Masjid Nurul Yaqin yang akan dibangun. Menanggapi itu, Nursalim dan Karim, dua orang yang paling merasa puas. Sumbangan Yu Rat bisa dibilang mampu menggenapi masukan dana pembangunan masjid, selain dari Bisri jugaran gula, Soni juragan kayu dan Kiwan juragan cengkeh. 

 

Tetapi pembicaraan kebaikan Yu Rat justru membuat gelisah Kusno, anak mendiang Yu Rat. Maka di malam ketujuh doa bersama kematian untuk Yu Rat, Kusno menemui Kiai Toha, Nursalim dan Karim. Sambil menyerahkan makanan berkat tahlilan malam ketujuh, Kusno menunduk. Di serambi rumah Yu Rat itulah, Kusno menengok kanan kiri dan berbicara dengan berbisik kepada Kiai Toha, Nursalim dan Karim. 

 

"Begini Pak Kiai, Pak Nur dan Pak Karim. Ada hal yang penting yang saya harus bicarakan. Jujur saya gelisah setelah tujuh hari ini," kata Kusno. 

 

"Sudahlah Nak Kusno, insyaalloh Yu Rat sudah tenang di alam sana. Tinggal keluarga sabar dan berjuang meneruskan amal baiknya," kata Kiai Toha. 

 

"Mohon maaf Pak Kiai, setelah mendengar khutbah Kiai tadi siang, saya gelisah. Saya ingin mengatakan sejujurnya, tentang sesuatu yang sebelumnya hanya diketahui saya dan almarhumah Biyung saya," kata Kusno. 

 

"Sebetulnya Pak Kiai, uang Rp50 juta yang menjadi amal jariyah Biyung saya itu adalah uang saya. Tetapi....,” kata Kusno berhenti seperti ragu melanjutkan perkataannya. Usai memandang ketiga orang yang dihormatinya ia kembali menunduk. 

 

Melihat itu, Nursalim dan Karim berpandangan. Timbul berbagai pertanyaan di benak mereka tentang itu. Apalagi mereka tahu, kalau Kusno anak dari Yu Rat hanya seorang buruh pemecah batu di perbukitan Wadaskelir. 
Berbeda dengan Nursalim dan Karim, Kiai Toha tetap tenang. Ia kemudian memandang Kusno. “Teruskan ceritamu,” kata Kiai Toha. 

 

“Begini Pak Kiai, empat hari sebelum Biyung saya meninggal, saya menang togel. Nomor togel saya pasang itu tembus tepat empat angka," kata Kusno. 

 

"Apa?" kata Nursalim terbelalak. Nursalim kemudian mengarahkan pandangannya ke Kiai Toha dan Karim hanya geleng-geleng kepala. Meski bekerja di pasar, namun Nursalim tak pernah mengira kalau togel atau toto gelap masih ada. Apalagi saat baca koran di toko Babah Kim Sang, ia tahu kalau togel sudah ditutup pemerintah.

 

Penjualnya pun sudah ditangkap. Ia tak sampai tahu, kalau dengan ponsel pintar sekarang orang bisa bertransaksi memasang togel di luar negeri. 

 

"Setelah saya cairkan uang menang togel itu di bank dekat pasar. Setelah itu saya serahkan uang itu langsung ke Biyung saya untuk disumbangkan ke masjid. Tetapi Biyung saya malah terkejut, pusing dan sakit jantungnya kumat setelah tahu kalau uang itu hasil togel," ungkap Kusno. 

 

Mendengar itu, pundak Nursalim dan Karim terasa jatuh. Nafas panjang kedua orang itu terdengar. Kusno tetap tertunduk. “Saya pasrah Pak Kiai, mau bagaimana. Yang penting uang itu sudah saya sumbangkan atas nama ibu saya,” katanya. 

 

Setelah mendengar pengakuan dosa dari Kusno itulah, Kiai Toha, Nursalim dan Karim pulang ke rumah masing-masing. Bungkusan makanan berkat tahlilan yang dibawa mereka serasa ringan sekali. Namun kepala mereka begitu berat. Sambil meniti jalan perkampungan, mereka bertiga terdiam. 

 

"Bagaimana Pak Kiai. Bukankah meski pahit kejujuran harus dikatakan?" kata Nursalim.

 

"Kita bahas besok," kata Kiai Toha singkat sebelum berjalan berbelok kanan di pertigaan perkampungan menuju rumahnya. Dalam perjalanan itu Kiai Toha ingat akan pesan dari sang Kiai tempatnya ‘nyantri’ puluhan tahun silam. 

 

“Dunia ini tidak semata hitam dan putih, pasti ada yang samar. Tak pandang siapapun dimanapun dan kapanpun. Suatu saat kau akan menghadapinya,” kata Kiai Dalhar, gurunya dari pesantren yang terkenal sebagai kiai ahli fiqh sekaligus tasawuf. 

***

Susanto bekerja sebagai jurnalis dan bergiat di sejumlah kounitas sastra.


Terkait

Cerpen Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya