Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Kemenag Gelar Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Tokoh Agama

Kemenag Gelar Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Tokoh Agama
Kasubag TU Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag, Rizky Riyadu Taufiq (tengah) bersama Pengasuh Pesantren Al-Amin Sarang Rembang Gus Abdullah Muava’ Ali.
Kasubag TU Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag, Rizky Riyadu Taufiq (tengah) bersama Pengasuh Pesantren Al-Amin Sarang Rembang Gus Abdullah Muava’ Ali.

Jakarta, NU Online
Pusat Litbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan ekonomi umat berbasis tokoh agama. Program yang diikuti 100 peserta dari kalangan tokoh agama ini digelar di Rembang, Jawa Tengah, Rabu (20/10/2021). 

 

Kasubag TU Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag, Rizky Riyadu Taufiq mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendorong para tokoh agama berperan serta dalam kegiatan kewirausahaan dan penguatan ekonomi umat. 

 

“Pesantren memiliki potensi ekonomi yang sangat besar yang bermanfaat bagi umat Islam dan masyarakat luas. Selama ini pesantren telah mampu mandiri dalam membiayai operasional pesantren namun tetap memerlukan perhatian pemerintah melalui pemberdayaan ekonomi,” kata Rizky Riyadu Taufiq.


 

Pemberdayaan ekonomi pesantren, lanjut Taufiq, dapat dilakukan dengan cara memberikan dukungan pelatihan, pendampingan, dan inkubasi. Selain itu pemerintah juga bisa memberikan dukungan teknis serta akses permodalan. 

 

“Bisnis yang dijalankan oleh pesantren atau tokoh agama perlu menyesuaikan dengan potensi dan segmentasi pasar,” ujar Taufiq.

 

Taufiq menambahkan kewirausahaan pesantren berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional, mulai dari menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan nasional, menciptakan nilai tambah barang dan jasa, mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial, serta terciptanya ekonomi umat yang kokoh.

 

“Kami senantiasa melakukan riset pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren atau tokoh agama dan mendorong semangat kewirausahaan di kalangan santri maupun tokoh agama,” tambahnya.

 

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Al-Amin Sarang Rembang Gus Abdullah Muava’ Ali menyatakan bahwa kegiatan pemberdayaan ekonomi umat perlu dikembangkan agar dapat menciptakan santri yang ahli agama dan bisnis.

 

“Islam di Indonesia disebarkan oleh Ulama saudagar. Nabi Muhammad SAW pun juga seorang pebisnis handal. Oleh karena itu, pemberdayaan ekonomi umat harus mendapat perhatian besar,” kata Gus Muava’.

 

Pengembangan Ekonomi Pesantren

Hasil penelitian Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag tahun 2020, menyebutkan ada empat tipologi ekonomi pesantren berdasarkan jumlah usaha. Pertama, pesantren yang memiliki lebih dari lima unit usaha ekonomi (5%).  Kedua, pesantren dengan 3-5 unit usaha (26%).  Ketiga, pesantren yang hanya punya 1-2 unit usaha (54%). Keempat, pesantren yang belum memiliki unit usaha (15%).  Data ini menunjukkan bahwa kebanyakan pesantren, yaitu 85 % pesantren sudah memiliki unit usaha.

 

Peneliti Puslitbang Kemenag, Muhamad Murtadlo mengungkapkan, secara kualitatif, praktik pesantren dalam pengembangan ekonomi dapat dijelaskan dalam lima hal. Pertama, usaha ekonomi yang digerakkan oleh kiai dan nyai disebabkan karena dari awal memang mempunyai jiwa enterpreuner. Usaha milik kiai ini dipergunakan dalam memperlancar layanan pendidikan pesantren. 
 

Kedua, pesantren yang berhasil membentuk badan usaha ekonomi secara khusus tanpa mengganggu layanan pendidikan pesantren dan pengelolaan ekonomi yang dilakukan secara profesional. Contoh untuk ini adalah Pesantren Sidogiri Jawa Timur. 

 

Ketiga, pesantren yang berhasil membina usaha masyarakat di sekitar pesantren. Pesantren bersama masyarakat sekitar berhasil mendapatkan keuntungan ekonomi. Contohnya Pesantren Darut Tauhid, Bandung. 

 

Keempat, pesantren yang masih pada tataran coba-coba usaha dan belum berhasil keuntungan secara berkelanjutan. 

 

Kelima, pesantren yang belum bergerak di bidang ekonomi dan lebih memfokuskan diri pada layanan tafaquh fiddin dan membiarkan masyarakat sekitar yang mau dan mampu mengambil manfaat ekonomi dari keberadaan pesantren.

 

Pewarta: Zunus Muhammad
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Balitbang Kemenag Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya