Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Nilai Spiritual pada Serat Murtasiyah Cirebon

Nilai Spiritual pada Serat Murtasiyah Cirebon
Salah satu nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan dalam Serat Murtiyasah bahwa usia kehamilan sebulan melakukan sedekah nasi bogana dengan lauk telur goreng dan membaca doa Apinah (wirid dan doa-doa yang dibaca oleh Siti Aminah ibunda Nabi Muhammad ketika mengandung Nabi. 
Salah satu nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan dalam Serat Murtiyasah bahwa usia kehamilan sebulan melakukan sedekah nasi bogana dengan lauk telur goreng dan membaca doa Apinah (wirid dan doa-doa yang dibaca oleh Siti Aminah ibunda Nabi Muhammad ketika mengandung Nabi. 

Salah satu penelitian yang dilakukan Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) tahun 2020 ini berjudul Nilai-nilai Karakter dalam Tradisi Keagamaan Nebus Weteng dan Naskah Serat Murtasiyah Cirebon. Peneliti mengungkapkan Naskah Serat Murtasiyah yang berada di Cirebon pertama kali ditemukan di pondok pesantren Kiai Haji Halali Desa Jungjang Arjawinangun.

 

"Pengarang dan penyalin teks Serat Murtasiyah ini tidak ditemukan dan tidak diketahui dalam naskah ini. Namun, di akhir teks tertulis nama pemilik naskah ini adalah Muhammad Jalsam Al-Arjawinangun. Jumlah halaman naskah Serat Murtasiyah sebanyak 118 halaman. Berukuran fisik 20x16 cm dan ukuran pada teksnya 15x12 cm. Jumlah baris teks pada setiap halaman sebanyak 11 baris," tulis peneliti dalam laporannya.

 
Peneliti juga menyebutkan naskah tersebut menggunakan kata alihan yang berfungsi sebagai pengikat halaman selanjutnya. Nomor halaman ditulis di bagian atas tengah dan bersebelahan dengan nomor halaman pada bagian tengah terdapat nama tembang yang termuat dalam teks halaman tersebut. Sementara bahasa yang digunakan dalam teks naskah adalah bahasa Jawa Cirebon. Aksara yang digunakan aksara Pegon, dan jenis bahan (alas) naskah menggunakan kertas pabrikan berwarna abu-abu atau buram. 


Disebutkan juga kondisi fisik naskah dapat dikatakan rusak, karena pada halaman pertama naskah ini hilang dan terdapat beberapa halaman yang sudah lepas dari penjilidan. Terdapat pula halaman yang robek dan tulisan agak samar. Metode atau pola penulisan pada beberapa kalimat banyak terdapat kesalahan terutama pada kata yang berbahasa Arab.

 

Pesan untuk Suami Istri 

Garis besar isi naskah Serat Murtasiyah tersirat sebagai nasihat dan pesan untuk suami-istri dalam menjaga jabang bayi yang ada di dalam kandungan. Tidak hanya nasihat dan pesan kepada istri yang sedang hamil, namun juga terdapat pesan moral kepada suami yang mengandung nilai-nilai keagamaan Islam.

 

"Disinyalir terdapat beberapa konsep dari naskah tersebut yang diimplementasikan oleh masyarakat Cirebon dalam upacara dan tradisi pada masa kehamilan wanita. Hal tersebut dimungkinkan karena selain sejarah dan identitas fisik naskah menunjukkan naskah tersebut sebagai naskah peninggalan leluhur Cirebon," lanjut laporan penelitian tersebut.


Naskah Serat Murtasiyah yang teksnya menggunakan bahasa Jawa Cirebon ini secara umum berisikan nasihat bernuansa keislaman kepada suami-istri dalam merawat bayi dalam kandungan. Nasihat-nasihat untuk melakukan hal-hal positif yang secara batiniah dan ruhaniah dapat berdampak psikologis terhadap kepribadian bayi dalam kandungan sebagai salah satu cara mendapatkan anak yang shaleh.

 

Berikut ini adalah beberapa bagian, pesan moral serta nilai-nilai karakter dalam naskah tersebut.
 

Nengena wahu Syekh Arif, Linggih lawan ingkang garwa, Agunem wahu karsane, Wahu dateng Ki Pandita, Syekh Arif wahu ngandika, Bobotan sira iku, Den sering sira sidekah. Artinya, diceritakan Syekh Arif sedang duduk bersama istrinya, mereka berdua sedang bercerita. Syekh Arif berkata, "Selama kehamilanmu, sering-seringlah beramal sedekah."

 

Nilai spiritualitas bagian ini menurut peneliti adalah terdapat nasihat dan pesan moral untuk bersedekah selama kehamilan.

 

Syekh Arif ya mituturi, Kang ora kiyeng sidekah, Ngaturana donga bahe, Lawan shalat rong rakaat, Sukur sira linakonan, Ingkang estu lan kang bagus, Bari syuhud ing pandongan. 
Artinya, Syekh Arif memberikan petuah, bagi yang malas sedekah hendaklah memanjatkan doa saja disertai dengan shalat dua rakaat. Syukur jika mau melakukan tindakan yang benar dan bagus dengan khusuk dalam berdoa.

 

Bagian ini menandung nilai spiritualitas bahwa ketidakmampuan bersedekah dapat diganti dengan memanjatkan doa dan shalat dua rakaat pada masa kehamilan.


Dewi nyidame sasasi, Sidekahe iku Bogana, Iwakipun endog, Lan donganipun Apinah
Dewi Murtasiya telah ngidam sebulan, maka sedekah Nasi Bogana dengan lauk telur goreng serta dibacakan doa Apinah. Artinya,
Dewi Murtasiya telah ngidam sebulan, maka sedekah nasi​​​​​Bogana dengan lauk telur goreng serta dibacakan doa Apinah. 

 

Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan bagian ini, usia kehamilan sebulan melakukan sedekah nasi Bogana dengan lauk telur goreng dan membaca doa Apinah (wirid dan doa-doa yang dibaca oleh Siti Aminah ibunda Nabi Muhammad ketika mengandung Nabi.

 

Lamon rong wulan, Sidekahe iku besuk, Ketan ponu lawan kembang. Artinya, jika kandungan telah berusia dua bulan, maka sedekahnya berupa nasi ketan ponu (ponar) dan kembang. Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia dua bulan melaksanakan sedekah berupa nasi ketan dan kembang.


Lamon oli tigang sasi, Yayi wewetenganira, Tumpeng Jeneng ya sidekahe, Donganipun Tulak Bala. Artinya, jika kandungan telah mencapai usia tiga bulan melakukan sedekah Nasi Tumpeng dengan membaca doa Tolak Bala. Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan bahwa pada kehamilan usia tiga bulan melaksanakan sedekah berupa nasi tumpeng dan doa tolak bala atau gangguan.
 

 

Lamon oli patang wulan, Sidekahe Kupat iku, Iwakipun Pindang Ayam. Artinya, jika kandungan telah mencapai usia empat bulan, maka Dewi Murtasiyah harus lakukanlah sedekah Ketupat dengan lauk-pauk Pindang Ayam. Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia empat bulan melaksanakan sedekah ketupat dengan lauk pauk pindang ayam.
 

Ajangkep limang sasi, Iku wewetenganira, Sekul Langgih sidekahe, Sawarnane gegodongan, Den wor dadi satunggal, Lawan dongane puniku, Kang aran Donga Arwah. Artinya, jika kandungan telah mencapai usia lima bulan, melakukan sedekah Sega Langgih, yaitu nasi yang yang dicampurkan dengan beraneka macam dedaunan yang dicampurkan menjadi satu pada nasi itu serta dibacakan Doa Arwah. Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia lima bulan melaksanakan sedekah Sega Langgih (nasi dicampur aneka daun dan dibacakan doa arwah). 


Yen dongkap olih nem sasi, Iku wewetenganira, Apem Domba sidekahe, Yayi poma lakonana. Jika kandungan telah mencapai usia enam bulan, melakukan sedekah Apem Domba. Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia enam bulan melaksanakan sedekah Apem Domba (berdasarkan beberapa informasi Apem Domba adalah kue apem atau ada juga yang mengatakan kue serabi ambon).
 

Lamon olih pitung wulan, Sidekahe iku besuk, Sawernane rerujakan. Jika kandungan telah mencapai usia tujuh bulan, agar bersedekah dengan beraneka ragam rujakan. Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia tujuh bulan melaksanakan sedekah dengan aneka ragam rujak.
 

Yayi wewetenganira, Bubur Lolos sidekahe, Warnane puti(h) lan abang, Winadahan piring anyar, Lan donganipun Qunut, Ngundanga ingkang utama. Jika kandungan telah mencapai usia delapan bulan, melaksanakan sedekah Bubur Lolos, ialah bubur berwarna merah dan putih. Bubur itu diwadahi dengan piring baru serta dibacakan doa Qunut dan mengundang/memanggil orang-orang tertentu yang utama seperti tokoh masyarakat dan alim ulama.

 

Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia delapan bulan melaksanakan sedekah Bubur Lolos. Bubur berwarna merah dan putih yang disajikan menggunakan piring baru dengan membacakan doa qunut serta mengundang tokoh-tokoh dan masyarakat.
 

Lamon olih sangang sasi, Sidekahe iku Lenga, Lawan ngagawa Endog Lumong, Tinumpangaken ing toya, Godong Waru lemekira, Godong Walu(h) tumpangipun, Donganipun donga Tabarak. Jika kandungan telah mencapai usia sembilan bulan, melakukan sedekah minyak dengan membawa Endog Lumong ditumpangkan pada air dengan dialasi Daun Waru serta ditumpangi Daun Waluh kemudian dibacakan doa Tabarak.

 

Nilai spiritualitas dan sosial kemasyarakatan, pada kehamilan usia sembilan bulan melaksanakan sedekah minyak dan dibacakan doa tabarak.

 

Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori
 


Terkait

Riset BLAJ Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya