Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Nilai Keagamaan dalam Tradisi Nebus Weteng di Cirebon Girang

Nilai Keagamaan dalam Tradisi Nebus Weteng di Cirebon Girang
Salah satu hikmah dari tradisi nebus weteng adala berbagi rezeki dan makanan bersama keluarga dan tetangga dekat yang ada di sekitar lingkungan rumah pemilik hajat. (Foto: dok NU Online)
Salah satu hikmah dari tradisi nebus weteng adala berbagi rezeki dan makanan bersama keluarga dan tetangga dekat yang ada di sekitar lingkungan rumah pemilik hajat. (Foto: dok NU Online)

Tradisi keagamaan adalah suatu kebiasaan kultural yang erat kaitannya dengan aspek-aspek religiusitas. Di Cirebon Girang, terdapat sebuah tradisi keagamaan yang masih dijalankan hingga saat ini sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Tradisi tersebut adalah Nebus Weteng, tradisi untuk memperingati tujuh bulan kehamilan. Nebus Weteng dikenal pula dengan nama lain Wetengan, Tujuh Bulanan, atau Mitoni.


Penelitian Balai Litbang Agama Jakarta (BLAJ) Balitbang Diklat Kemenag RI mengungkapkan pelbagai hal di dalam tradisi-tradisi yang berlainan dapat dikatakan sama persis, hanya istilahnya saja yang terkadang disebutkan berbeda. Nebus Weteng, Wetengan, dan Mitoni, biasanya dilakukan di tengah masyarakat yang berbudaya Jawa, sedangkan Tujuh Bulanan dilafalkan di tengah masyarakat yang kental dengan budaya Sunda.


Peneliti BLAJ Reza Perwira mengatakan, ruang lingkup Cirebon Girang dalam penelitian tersebut tidak hanya sebatas wilayah administratif sebuah desa. Namun, juga wilayah kultural yang memengaruhi desa-desa lain yang secara geografis berdekatan dengannya.


Mengutip Kuswiah dan Buchari, peneliti mengungkapkan pada awal perkembangannya, Cirebon terdiri dari dua wilayah besar, yaitu wilayah Cirebon Girang di wilayah pedalaman dan Cirebon Larang di daerah pesisir.

 

Eksistensi Cirebon Girang tidak dapat dilepaskan dari sosok Pangeran Cakrabuana, yang menurut Widyastuti dan Nanang (2019: 111) adalah tokoh yang berandil besar dalam membuka wilayah tersebut. Dengan demikian, wilayah kultural Cirebon Girang tidak terbatas pada wilayah Desa Cirebon Girang, namun juga meliputi desa-desa lain yang ada di sekitarnya.

 
Istilah Nebus Weteng sendiri berasal dari dua kata, yaitu nebus yang artinya adalah membebaskan atau melunaskan, dan weteng yang berarti perut. Dengan kata lain, secara harfiah, tradisi Nebus Weteng adalah tradisi yang berkaitan dengan usaha dari keluarga untuk memerdekakan bayi yang masih berupa perut seorang ibu hamil (yang juga disebut sebagai penganten dalam tradisi ini) dengan cara menggantinya dengan tradisi tertentu.


Karena itu, Nebus Weteng ini adalah tradisi yang hendak menunjukkan rasa syukur sebuah keluarga karena telah menapat anugerah dan keberuntungan berupa jabang bayi yang ada di dalam rahim salah seorang anggota keluarganya.

 

Manuskrip 'Serat Murtasiyah'
Tradisi Nebus Weteng adalah satu dari sekian rangkaian tradisi yang berkaitan dengan kehamilan seorang wanita. Dalam manuskrip Cirebon yang berjudul Serat Murtasiyah, kehamilan seorang istri itu diperingati setiap bulan, dari usia kandungan satu bulan hingga sembilan bulan.

 

Meskipun demikian, tradisi dalam rangka kehamilan yang masih banyak diamalkan masyarakat Cirebon Girang saat ini tidak lagi setiap bulan seperti halnya tercantum dalam naskah, sebagian besar pelaksanaannya hanya dilakukan saat usia kandungan mencapai empat dan tujuh bulan saja.

 

Peneliti juga mengungkapkan, ada banyak hal yang bisa dijadikan alasan mengapa tradisi Nebus Weteng ini dilaksanakan oleh masyarakat Cirebon Girang. Pertama, sosialisasi terhadap masyarakat bahwa jabang bayi telah mencapai bulan ketujuh dan dekat dengan waktu kelahirannya.

 

Kedua, ungkapan rasa syukur atas berkah keturunan yang telah dianugerahkan Allah SWT. Ketiga, melestarikan tradisi yang ada dan diwariskan secara turun-temurun. Keempat, berbagi rezeki dan makanan bersama keluarga dan tetangga dekat yang ada di sekitar lingkungan rumah pemilik hajat.

 

Informasi atau syiar kepada masyarakat bagi ibu hamil pada usia-usia kehamilan tertentu merupakan hal penting bagi masyarakat desa (khususnya di wilayah sekitar desa Cirebon Girang) karena kehidupan masyarakatnya masih kental dengan suasana kehidupan pedesaan yang di dalamnya terdapat sistem kekerabatan yang erat.


Acara Nebus Weteng itu menjadi ajang bagi keluarga untuk menginformasikan bahwa salah seorang anggotanya tengah berbadan dua, sehingga tidak menimbulkan anggapan-anggapan yang tidak semestinya dari orang lain.

 

Di samping itu, kegiatan ini juga merupakan wujud syukur tuan rumah atas calon bayi yang telah dianugerahkan kepada mereka. Sebagaimana diketahui, anak adalah anugerah terindah yang ada di dalam kehidupan sebuah keluarga.

 

Pelaksanaan tradisi Nebus Weteng merupakan wujud pelestarian budaya karena warganya masih teguh memegang adat dan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur mereka. Tradisi keagamaan Nebus Weteng yang dilaksanakan merupakan pembuktian bahwa warga di sekitar Cirebon Girang masih sering berbagi kepada sesama. Mereka tidak kikir, dan malah saling berbagi rezeki dalam wujud pelbagai makanan yang dibagikan di dalam tradisi Nebus Weteng tersebut.

 

Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya dilandasi oleh aspek-aspek spiritual semata, namun juga didasari oleh aspek sosial yang dibuktikan dengan memberi manfaat kepada orang yang ada di sekitar lingkungan.

 

Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori


Terkait

Riset BLAJ Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya