Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Tips Menjaga Keharmonisan Keluarga di Masa Pandemi

Tips Menjaga Keharmonisan Keluarga di Masa Pandemi
Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung satu tahun ini telah berdampak di banyak sektor. Termasuk dalam ranah domestik rumah tangga. Seperti, meningkatnya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan terhadap anak.
Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung satu tahun ini telah berdampak di banyak sektor. Termasuk dalam ranah domestik rumah tangga. Seperti, meningkatnya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan terhadap anak.

Jakarta, NU Online 

Psikolog Keluarga dan Anak, Najelaa Shihab atau yang karib dengan sapaan Ela, menyampaikan menjaga keharmonisan rumah tangga adalah impian setiap orang terlebih di saat pandemi seperti sekarang ini.


Namun, bukan perkara mudah, dikarenakan setiap pasangan memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Sebabnya, Ia membagikan tips yang bisa dilakukan dalam membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia di masa pandemi. 


“Yang utama adalah menjaga komunikasi, karena tidak ada satu pun orang yang bisa membaca pikiran orang lain dan tidak ada orang yang bisa seratus persen memenuhi setiap harapan kita tanpa dibicarakan. Seperti minta tolong untuk dibantu pasangan itu kan hal sederhana tapi itu bisa menguatkan hubungan kita dengan pasangan,” kata Najelaa pada acara Opening Festival Keluarga Kita, Sabtu (26/6).


Menurutnya, pandemi Covid-19 yang telah berlangsung satu tahun ini telah berdampak di banyak sektor. Termasuk dalam ranah domestik rumah tangga. Seperti, meningkatnya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan kekerasan terhadap anak.


Banyak faktor penunjang yang menjadi sebab kejadian tersebut, diantaranya faktor ekonomi dan ketidakharmonisan rumah tangga.


“Tingkat perceraian meningkat, tingkat kekerasan dalam rumah tangga juga antara pasangan suami istri atau orang tua kepada anaknya. Jadi, itu salah satu kabar buruknya pandemi dan situasi di mana semua orang harus melakukan apapun di rumah aja,” terang Pendiri Lembaga Keluarga Kita ini.


Ela mengatakan, meningkatnya angka perceraian di masa pandemi adalah akibat dari jalinan komunikasi yang kurang baik yang menyebabkan pengelolaan emosi tidak stabil. Seperti diketahui, pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk mencintai, menjaga dan beberapa kecenderungan untuk merusak.


Tekanan yang muncul akibat pandemi virus corona pada kehidupan tentu menambah kemungkinan munculnya permasalahan baru ataupun meemperkuat celah dalam suatu hubungan. 


“Jadi pandemi ini memang membawa krisis, membuat ada banyak perubahan. Makanya harus ada proses adaptasi yang kita lakukan sama-sama,” ujar Founder Sekolah Cikal ini.


Oleh karena itu, ia menjelaskan bahwa salah satu pedoman kunci menghadapi pandemi adalah menerima bahwasanya pandemi tentu membawa krisis sehingga semuanya mampu dijalani dengan sistem pengelolaan yang baik. 


“Karena tidak ada yang baik-baik saja saat melewati masa-masa krisis seperti sekarang ini. Nah, tantangannya adalah dengan mencari cara baru untuk menghadapi krisis ini agar emosi kita tetap terkendali,” ujarnya.


Senada dengan Ela, istri dari sutradara kondang Hanung Bramantyo, Zaskia Adya Mecca, mengatakan bahwa kondisi pandemi menuntut masyarakat melakukan berbagai adaptasi di seluruh aspek, termasuk pola asuh di saat pandemi. Karena perubahan rutinitas yang signifikan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.


“Jadi, memang pandemi ini mengubah total. Dari aku yang tidak pernah mengerti pelajaran sekolah anak apa sampai akhirnya akau paham segala macam perkembangannya,” kata Zaskia.


Selain itu, kondisi pandemi yang telah berlangsung cukup lama hingga saat ini tentunya banyak juga berdampak pada hubungan antar-pasangan suami istri.


Namun, Zaskia justru memanfaatkan kondisi ini sebagai momen untuk lebih banyak mengenali kembali konstruksi bangunan rumah tangga/keluarga. Pasalnya, intensitas antara ia dan suami sebelum pandemi terbatas oleh kesibukannya masing-masing. 


“Selama sepuluh tahun menikah aku baru merasa bahwa aku tidak salah memilih pasangan dan itu baru aku sadari pas pandemi ini,” tutur Ibu dari enam anak ini.


Kontributor: Syifa Arrahmah

Editor: Fathoni Ahmad


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya