Nasional

Peran Guru PAI Sangat Penting Kenalkan Moderasi Beragama

Ahad, 14 November 2021 | 15:45 WIB

Peran Guru PAI Sangat Penting Kenalkan Moderasi Beragama

Diseminasi dan Workshop Moderasi Beragama kepada para Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Bekasi Jawa Barat. (Foto: istimewa)

Bekasi, NU Online

Pemahaman moderasi beragama harus dideseminasikan secara kaffah serta harus saling terkait antara agama dengan negara. Peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dinilai penting dalam penguatan dan pembumian nilai moderasi beragama di sekolah yang lebih inklusif.

 

Hal itu disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Aris Adi Laksono dalam kegiatan Diseminasi dan Workshop Moderasi Beragama kepada para Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Bekasi Jawa Barat, Rabu (11/11/2021). Kegiatan diadakan oleh Direktorat PAI Dirjen Pendis Kemenag RI bekerja sama dengan Yayasan AZ Membangun Indonesia Berdaya.

 

"Agar dapat terwujud ekosistem moderasi beragama sesuai dengan agenda nasional dan rencana strategis Kemenag RI," ungkap Aris.

 

Ketua Dewan Pembina Yayasan AZ Membangun Indonesia Berdaya, Ardhariksa Zukhruf Kurniullah mengatakan ada sembilan nilai yang tertuang dalam konsep mederasi beragama. Adapun prinsip dasar moderasi beragama yaitu teologis, ritual dan sosial.

 

"Saat ini, isu radikalisme, intoleransi, terorisme dan separatisme muncul akibat masalah ketidakadilan, perubahan ekonomi, pemahaman agama dan ancaman sosial, maka dari itu diperlukan pendekatan secara normatif dan interpretatif (anthropologic)," kata Ardhariksa Zukhruf Kurniullah.

 

​​​​​​​Narasumber lainnya Rohman Hidayatul Atthoriq membawakan Peta Moderasi Beragama di Sekolah menytakan agama mestinya sebagai sumber untuk peningkatan peradaban, bukan sebagai identitas kelompok sosial. "Sehingga kehadiran agama yang berbeda-beda, tidak dimaknai sebagai ancaman antar kelompok keagamaan itu sendiri," kata Atthoriq yang juga mahasiswa Doktor Manajemen Pendidikan tersebut.

 

Implementasi Nilai Moderasi beragama dalam perspektif teologis, sosiologis dan budaya juga disampaikan oleh Mega Satria Nurul Falah. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran agama yang berbeda-beda itu semestinya mengintegrasikan. "Bukan malah dijadikan perbedaan sosial dan sumber kekerasan," ungkap Kandidat Doktor Khartoum International Institute Sudan itu.

 

Materi terakhir yaitu bagaimana tantangan dan masa depan nilai kebangsaan dan moderasi beragama di era 5.0 oleh Abdul Aziz Nawawi. "Generasi muda harus siap menghadapi degradasi akhlak, moral, dan budi pekerti dan generasi muda harus siap menghadapi dinamika dan tantangan era global," kata Aziz yang juga ketua umum Santri Mendunia tersebut.

 

Indonesia saat ini mengalami banyak kasus proxy war. Peristiwa terbaru yakni adanya upaya polarisasi pembenturan antara nasionalisme dengan agama. "Namun sejatinya nilai dalam agama dan nasionalisme saling mengisi dan melengkapi," ungkap Ketua Pengurus Yayasan AZ Membangun Indonesia, Yani Rahman, yang sekaligus menutup kegiatan diseminasi dan workshop tersebut.

 

Kegiatan berlangsung hingga 15 November 2021.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori