Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Tips Merawat Anak Positif Covid-19 Saat Isoman

Tips Merawat Anak Positif Covid-19 Saat Isoman
Ilustrasi anak terpapar Covid-19. (Foto: Dok. NU Online)
Ilustrasi anak terpapar Covid-19. (Foto: Dok. NU Online)

Jakarta, NU Online 
Infeksi Covid-19 tidak hanya mengintai orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Bahkan, kasus pada kelompok anak-anak terbilang cukup tinggi. Dalam laporan terkini data nasional dan analisis kasus Covid-19 pada anak-anak, sebanyak 250 ribu anak terpapar Covid-19.


Penanganan serta isolasi mandiri (isoman) pada pasien Covid-19 anak tentunya sedikit berbeda dengan orang dewasa. Berdasarkan panduan isoman yang dikeluarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Juni 2021, terdapat beberapa syarat bagi anak yang melakukan isolasi mandiri.


Pertama, tidak bergejala/asimtomatik. Kedua, gejala ringan seperti batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam. Ketiga, anak aktif, bisa makan dan minum. Keempat, menerapkan etika batuk.


Kelima, memantau gejala/keluhan yang dirasakan oleh anak-anak. Keenam, pemeriksaan suhu tubuh dua kali sehari (pagi dan malam hari). Ketujuh, lingkungan rumah/kamar memiliki ventilasi yang baik.


Namun demikian, orang tua juga berperan penting dalam merawat anak saat isolasi mandiri. Dokter RSUD Purwokerto, Jawa Tengah, dr Rosalia Kusuma Dewi melalui pesan WhatsApp, Ahad (8/8/2021) berbagi tips cara merawat anak atau bayi yang tengah melakukan isolasi mandiri.


Dikatakan, orang tua dapat tetap mengasuh anak yang positif Covid dalam satu ruangan dengan beberapa catatan. Pertama, orang tua atau pengasuh harus memiliki risiko rendah terhadap gejala berat Covid-19. 


Kedua, jika ada anggota keluarga yang positif maka dapat isolasi bersama. “Kalau orang tua dan anak berbeda status Covid-nya, saran saya, berikan jarak tidur dua meter di kasur terpisah serta terus memberikan dukungan psikologis pada si anak,” kata dokter asal Pekalongan, Jawa Tengah itu.


Isolasi anak remaja
Lain hal jika anak sudah mandiri, hendaknya diisolasi sendiri dalam satu ruangan berbeda. Namun, jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk merawat anak/bayinya maka keluarga lain yang tidak terinfeksi Covid dapat merawat bayi termasuk membantu pemberian ASI perah selama ibu sakit.


Di samping itu, hal yang tak kalah penting menurut dr lulusan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu adalah bayi yang masih mengonsumsi ASI tetap diberikan ASI.


“Ibu dapat menggunakan alat pelindung diri (APD) masker dan pelindung mata bila memungkinkan. Pastikan mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh dan menyusui bayi,” jelasnya.


Ketiga, penting memberikan asupan makanan dengan gizi seimbang, memberikan ASI  kepada bayi, dan suplemen dalam bentuk obat seperti multivitamin yang mengandung vitamin C dan vitamin D3 serta zink.


Dokter Sela, sapaan akrabnya, menjelaskan orang tua perlu konsultasi ke dokter jika menemukan gejala Covid-19 pada anak sebagai berikut. Jika demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, mual/muntah, diare, lemas, dan sesak nafas. 


Selain itu, lanjut dia, orang tua perlu waspada terhadap kondisi anak dan segera membawa anak ke rumah sakit jika menemukan gejala anak banyak tidur, nafas cepat, ada cekungan di dada, hidung kembang-kempis, saturasi oksigen kurang dari 95 persen.


“Atau mata merah, ruam, leher bengkak, mengalami demam lebih dari tujuh hari, kejang, tidak bisa makan dan minum, mata cekung, terjadi penurunan kesadaran, ini perlu diantisipasi,” pungkasnya.


Kontributor: Suci Amaliyah
Editor: Musthofa Asrori


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya