Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Peran Penting dan Tanggung Jawab Ulama dalam Pandemi

Peran Penting dan Tanggung Jawab Ulama dalam Pandemi
Pandemi tidak mungkin diselesaikan sendiri, masing-masing punya porsi. Ulama menjalankan porsi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Aparat pemerintah juga dalam posisi yang sama.
Pandemi tidak mungkin diselesaikan sendiri, masing-masing punya porsi. Ulama menjalankan porsi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Aparat pemerintah juga dalam posisi yang sama.

Ulama memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang religius. Jangkauan pengaruhnya bukan hanya dalam bidang agama yang menjadi keahliannya. Ulama kerap dimintai nasihat dan masukan dalam berbagai persoalan, mulai dari masalah keluarga, pilihan politik, keberhasilan bisnis, hingga problem penanganan Covid-19. Apa yang disampaikan oleh ulama, akan diikuti oleh pengikutnya. Sami’na wa atha’na.
 

Ada beragam pendapat ulama mengenai pandemi Covid-19 yang hingga kini belum selesai ini. Banyak ulama yang ikut mendorong masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan seperti KH Miftachul Akhyar, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof Quraish Shihab, dan lainnya.

 
Namun demikian, ada beberapa ulama yang menganggap penyakit ini bagian dari konspirasi. Dalam pandangan kelompok ini, tidak perlu mengikuti protokol kesehatan, bahkan menolak vaksinasi. Mereka lebih percaya berita hoaks yang banyak beredar di media sosial sebagai rujukan pengambilan keputusan dibandingkan dengan sumber resmi yang dianggapnya sudah sarat dengan kepentingan tersembunyi. Bahkan, pada 2020, awal-awal munculnya Covid-19, seorang dai sempat mengatakan bahwa Corona adalah tentara Allah.

 
Selanjutnya, ada ulama yang berpandangan bahwa pandemi adalah bagian dari takdir. Kita tinggal menjalaninya karena segala sesuatu sudah ditetapkan di Lauhul Mahfudz. Tuhan tidak akan menggeser takdir seinci pun. Karena itu, jika ditakdirkan selamat, walaupun pandemi mengganas, ya akan tetap selamat. Namun, jika sudah ditakdirkan meninggal, ya tetap mati walaupun mengikuti protokol kesehatan.

 
Kelompok ulama lain yang tidak mau mengikuti anjuran pemerintah, atau minimal pasif adalah mereka yang mengambil sikap oposisi. Jago yang mereka dukung dalam kontestasi politik kalah sehingga mereka kecewa. Ketidaksukaan ini menyebabkan apa pun kebijakan dan tindakan pemerintah dianggap tidak benar. Apalagi dalam penanganan pandemi ini, banyak sekali masalah yang muncul karena kesalahan kebijakan dan kelemahan penanganan.

 
Perbedaan pendapat terkait dalam sikap menghadapi penyakit bahkan sudah ada pada zaman sahabat Nabi. Ketika itu, khalifah Umar bin Khattab hendak mengunjungi sebuah daerah di wilayah Syam yang ketika itu sedang dilanda wabah penyakit. Para sahabat terbelah antara mereka yang setuju terus melanjutkan perjalanan dan yang menyarankan tidak datang ke wilayah tersebut. Akhirnya, Umar memutuskan kembali ke Madinah. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, salah satu sahabat yang tidak setuju dengan keputusan tersebut berkomentar bahwa tindakan khalifah sama dengan lari dari takdir. Tapi Umar kemudian menjawab, dia lari satu takdir untuk menuju ke takdir yang lain. Abu Ubaidah meninggal karena wabah tersebut. 

 
Perbedaan pendapat dalam menghadapi penyakit ini, menimbulkan konsekuensi yang berat. Dengan demikian, para ulama mesti sangat berhati-hati mengambil sikap mengingat ada konsekuensi nyawa banyak orang yang harus dipertaruhkan. Hal ini tidak seperti perbedaan pendapat masalah furuiyah seperti berapa jumlah rakaat shalat tarawih yang benar antara 8 atau 20 rakaat, yang ketika umat Muslim tidak melakukannya pun tidak masalah karena statusnya sebagai ibadah sunnah.

 
Dengan demikian, para ulama memiliki tanggung jawab besar untuk membimbing masyarakat sesuai dengan apa yang benar, bukan atas didasarkan pada kepentingan emosional pribadi atau kelompoknya. Kepercayaan yang telah diberikan masyarakat juga menimbulkan konsekuensi untuk terus belajar dan mencari informasi paling akurat. Tidak boleh asal ngomong.

 
Sementara itu masyarakat perlu berhati-hati atas pendapat dan sikap ulama di luar bidang kompetensinya. Jika ulama menyampaikan narasi soal Covid-19 yang bertentangan dengan ilmu kesehatan atau pendapat ahli epidemologi, maka sikap tersebut perlu dikritisi lebih lanjut, apa yang mendasari sikap tersebut. Ulama bukan manusia yang tahu segala hal.

 
Nabi Muhammad pun telah mengingatkan kepada kita bahwa sebagai seorang nabi pun, ia tidak memiliki kemampuan dalam semua bidang. Dalam sebuah hadits dikisahkan, Rasulullah melihat sahabat mengawinkan kurma, kemudian beliau menyarankan sesuatu yang berbeda dari yang biasanya dilakukan petani kurma. Namun di belakang hari kemudian panen kurmanya jelek. Kemudian Rasulullah bersabda, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”.

 
Sulit bagi orang untuk menguasai sepenuhnya banyak bidang. Oleh karena itu, biarlah para ahli di bidang tersebut yang menjadi pemimpinnya, bidang pendukungnya lebih baik mengikuti. Pada bidang keagamaan, biarlah ulama menjadi pemimpin, ahli bidang lainnya mengikuti pendapat ulama. Pada bidang kesehatan, biarlah ahli kesehatan menjadi pemimpinnya, sedangkan ulama mengikuti pendapat mereka.

 
Orang yang merasa ahli dalam semua hal sesungguhnya tidak ahli dalam bidang apa-apa karena sebuah keahlian membutuhkan kompetensi dan komitmen jangka panjang untuk mencapai status tersebut. Rasulullah telah menyampaikan pesan, apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.

 
PBNU menyampaikan kritik bahwa dalam penanganan pandemi ini, pemerintah dinilai kurang melibatkan masyarakat. Ada banyak faktor keberhasilan penanganan pandemi di luar kapasitas pemerintah. Tidak semua orang dengan suka rela bersedia memenuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, atau mengikuti program vaksinasi. Dalam konteks seperti itu, organisasi massa Islam, dapat membantu menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

 
Dengan melibatkan organisasi atau tokoh masyarakat yang dipercaya, maka kesenjangan komunikasi yang tercipta karena pemerintah dianggap punya motif tersendiri atau dianggap tidak kompeten; atau kesenjangan informasi yang sengaja diciptakan oleh kelompok-kelompok tertentu tentang penyakit ini dapat dihindari.
 

Pandemi tidak mungkin diselesaikan sendiri, masing-masing punya porsi. Ulama menjalankan porsi sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Aparat pemerintah juga dalam posisi yang sama. Jika saling mendukung dan bersinergi, maka pandemi ini segera berlalu. (Achmad Mukafi Niam)

Terkait

Risalah Redaksi Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya