Cerpen

Cerita Kalender Gaya Baru

Ahad, 29 Desember 2019 | 22:03 WIB

Cerita Kalender Gaya Baru

Ilustrasi kalender NU

Oleh Abdullah Alawi
 
Sewaktu SD, tahun 90-an, ayah berziarah ke makam Wali Songo. Cita-cita yang kerap diceritakannya itu akhirnya kesampaian. Waktu itu yang diajak cuma adik saya. Ibu urung karena persoalan ongkos, sedang saya tersingkir karena selalu muntah di perjalanan. Sesak memang, tapi saya pun menerimanya. 

Sepulang ziarah, adik bercerita tentang tempat-tempat yang dikunjungi. Demikian juga ayah; bercerita sunan-sunan penyebar Islam di Jawa itu. Selain membawa oleh-oleh cerita, ayah membawa makanan dan sebuah gambar berkaca dihiasi pigura. Benda itu berdasar warna hijau tua bergambar bola dunia yang diikat satu tali longgar, dikelilingi bintang sembilan. Empat berada di bawah, sisanya di atas dengan satu bintang berukuran besar. Dia seolah pemimpin delapan bintang lainnya. Di tengah bola dunia itu, huruf-huruf Arab terjalin njelimet yang sukar dibaca. Di sisi kiri atas ada huruf N dan di kanannya U. Ayah tidak bercerita banyak tentang benda itu dan saya juga tidak banyak bertanya. 

Tidak hanya itu, ayah membawa kalender. Sepeti yang menempel di dinding bilik tetangga, hanya berisi angka-angka dan nama hari. Ada keterangan libur jika satu angka bertanda merah. Tapi, aneh, ada suatu terobosan baru di kalender itu. Gambar yang menghias bukan artis dengan pakaian gemerlap dan licin, pemandangan bagus, atau tempat-tempat eksotis, bangunan-bangunan mengah, melainkan orang tua berkopiah, berkalung dan berkerudung sorban. 

Di bulan Januari ada nama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansuri. Di bulan selanjutnya ada KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ahmad Shiddiq, KH Anwar Musaddad, KH Ilyas Ruhiat, KH Abdurahman Wahid. Semua diawali KH. Benar-benar kalender gaya baru!

Pada waktu itulah, entah dalam konteks apa, ayah melafal “Gus Dur” sebagai nama lain salah seorang yang diawali KH itu. Kata aneh dan jauh dari telinga hidup kecil saya. Singkatan N dan U disebut pula. Namun, ayah tidak bercerita banyak, saya juga tidak bertanya banyak. Hanya itu saja. Cuma saya berkesimpulan; “Gus Dur” dan “NU”, itu seperti Hansip dan PKK, akronim atau singkatan. Itu saja.  

Kemudian gambar berkaca yang dihias pigura dan kalender gaya baru itu menempel di dinding bilik, menghias rumah saya. Yang pertama tak pernah bercerita apa-apa sedang yang kedua memberitahu tanggal, hari dan bulan. Itu saja.

Medio ‘97, reformasi bergulir, koran-koran dan tabloid menjamur. Entah dengan cara apa, sebagian ada yang nyelonong ke kampung saya. Ada kata “Gus Dur” dan “NU”. Aneh, di satu tabloid Gus Dur berkata dengan berani, aneh, dan gila; kira-kira demikian: “Indonesia pernah dipimpin tiga orang gila, pertama, Seokarno gila wanita, Soeharto, gila harta, Habibie gila....”

Ketika pemilu ‘99, gambar berffigura yang ada di rumah saya itu disebut-sebut lagi. Dan, singkatan Gus Dur itu mendirikan partai. Saya lupa. Entah di media apa, dia bilang: “NU itu seperti ayam, kadang bertelor, kadang (maaf) bertahi. Partai yang didirikannya adalah telor dan sisanya adalah (maaf) tahi”. 

Kemudian saya semakin hera kok dia menjadi presiden? Padahal yang menang partai lain. Kebiasaannya adalah ceplas-ceplos dan keluyuran ke luar negeri. Karena inilah di kampung saya banyak yang antipati. Dia diplesetkan menjadi Gaji Untuk Saya Derita Untuk Rakyat. Ada pula yang mencela dengan bahasa lokal demikian yang tidak mengenakkan hati.

Sementara di kobong (pesantren), ajengan (gelar kiai di Tatar Sunda) di kampung saya bilang, “Gus Dur adalah seorang wali. Kata-katanya memang sukar dimengerti. Pandangannya jauh ke depan.” 

Heran saya berlapis-lapis; kok, bisa ada satu orang di satu tempat dihujat habis-habisan, di tempat lain dipuja besar-besaran. 

Sembilan belas tahun kemudian, melalui seorang kawan, saya dipertemukan dengan bundel majalah Editor 1990. Saya pun tergerak membacanya. Di jilid edisi Desember 1990, terpampang potret “singkatan aneh” itu. Ternyata ia pernah ditahbiskan sebagai tokoh 1990, Tahun Bergeraknya Islam Indonesia. Di edisi itu sepak terjangnya dikupas. Kasus “Ayat-ayat Setan”-nya Salman Rusdie. Dia berpandangan lain. 

Menurutnya, orang Islam boleh membaca tuntas buku itu. Bisa saja orang murtad karena buku itu, tapi jangan menyalahkannya. Orang murtad karena memang dia mau murtad. Kasus Arswendo dan Monitor-nya, Nabi Muhammad berada di urutan kesebelas, di bawah Soeharto dan Zainuddin MZ. Menurutnya, Nabi Muhammad tak terendahkan sebab tiap hari semilyar orang baca shalawat buatnya. Selain itu, dia menolak ikut ICMI, karenanya intelektual tak bisa dikurung dalam satu lembaga. 

Kini, “singkatan aneh” telah pergi. Bahkan sepuluh tahun lalu. Tapi banyak orang hendak menundanya...