Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Wakil Ketua MPR Jelaskan Pentingnya Prinsip Pancasila dalam Memilih Pemimpin

Wakil Ketua MPR Jelaskan Pentingnya Prinsip Pancasila dalam Memilih Pemimpin
Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid. (Foto: dok. FPKB)
Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid. (Foto: dok. FPKB)

Jakarta, NU Online

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Jazilul Fawaid mengatakan bahwa nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, dan keadilan sosial harus menjadi landasan bagi rakyat untuk memilih seorang pemimpin.


Lebih lanjut ia mengatakan, para pendiri bangsa Indonesia telah menempatkan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang semestinya memiliki hikmat dan kebijaksanaan ketika memilih.


Dalam agenda Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada Karang Taruna Kurau Barat di Warkop Lempah Kuning Aswaja, Desa Kurau Barat, Bangka Tengah, Bangka Belitung, Rabu (18/11) pekan lalu, Jazilul menegaskan bahwa seluruh jabatan di Indonesia berada penuh di tangan rakyat.


“Rakyat memiliki hak kedaulatan untuk memilih presiden, gubernur, bupati, walikota, anggota DPR, DPRD, DPD. Sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, rakyat seharusnya memiliki hikmat dan kebijaksanaan ketika memilih,” kata Gus Jazil, begitu politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini akrab disapa. 


Menurutnya, belakangan ini kerap terjadi kedaulatan rakyat yang digadai atau dipertukarkan sehingga marak money politic atau politik uang. Ia lantas kembali memaknai sila keempat bahwa rakyat pemegang kedaulatan di negara ini. 


Oleh karena itu, lanjutnya, jika terjadi politik uang maka pemimpin dan rakyat sama-sama salah. Hal inilah yang sangat berat dari menegakkan demokrasi, yakni menghilangkan parasit atau penyakitnya. Salah satunya adalah politik uang itu.


Gus Jazil pun mengingatkan, setiap warga negara harus memahami rukun dalam bernegara. Katanya, menjadi rakyat yang baik harus mengerti nilai-nilai apa saja yang harus dipegang, terutama Pancasila.


“Warga negara Indonesia tidak boleh melupakan Ketuhanan yang maha esa. Semua nilai-nilai harus berlandaskan Ketuhanan yang maha esa,” katanya.


Karena itu, ia mengingatkan kepada pemimpin dan calon pemimpin agar jangan sampai melupakan bahwa nilai pertama dalam Pancasila adalah ketuhanan yang maha esa. Artinya, lanjut Gus Jazil, semua yang dilakukan seorang pemimpin bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.


Kemudian, ia menegaskan bahwa Pancasila telah mempersatukan Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, adat istiadat, pulau, berbagai pikiran dan bahasa. Ditegaskan pula, jika ada yang berkehendak mengganti Pancasila dengan ideologi lain, Indonesia pasti runtuh.


“Misalnya, komunisme mau mengganti Pancasila. Indonesia pasti runtuh, karena Pancasila mengandung nilai-nilai yang mempersatukan,” sambungnya.


Dalam konteks itu, lanjut Gus Jazil, penting untuk memahami dan mempraktikkan Empat Pilar MPR RI. Program tersebut sangat penting karena saat ini bangsa Indonesia tengah berada di medan peran ideologi. Bahkan peran informasi pada era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini.


“Ada kelompok yang kemudian menjadi sangat radikal, sangat keras, anti ini dan itu. Itu menjadi tidak Pancasilais. Karena budaya Pancasila adalah budaya dialog. Jadi akar budaya kita adalah budaya dialog, bukan budaya konflik,” jelasnya.


Gus Jazil menambahkan Indonesia dibangun oleh permusyawaratan dan dialog antar warga. Menurutnya, jika program empat pilar tidak disosialisasikan maka hal yang dikhawatirkan adalah akan muncul kelompok yang ingin benar dan menang sendiri.


“Ini berbahaya. Makanya dilakukan sosialisasi Empat Pilar MPR ini,” pungkasnya.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Parlemen Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×