Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Islam Agama yang Moderat Sejak Awal

Islam Agama yang Moderat Sejak Awal
Ilustras: NU Online
Ilustras: NU Online

Jakarta, NU Online
Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, H Aceng Abdul Aziz menegaskan bahwa menafsir ulang teks-teks agama demi sikap moderat adalah hal yang tidak akan terjadi. Ia berpendapat bahwa Islam sejatinya merupakan agama yang sangat moderat sedari awal. Dari itu ia mengingatkan agar seyogianya seorang Muslim haruslah memperbaharui sikap dan cara pandang guna mengiplementasikan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar dari ajaran Islam. 


"Tetapi yang perlu kita selalu perbaharui adalah cara pandang, cara bersikap kita sebagai orang beragama untuk tetap memelihara bagaimana segala, perilaku kita, tingkah laku kita, pikiran kita dalam mengimplementasikan ajaran kita, akidah kita, mu'amalah kita itu, di dalam konteks kemashlahatan bersama," tegasnya saat mengisi Workshop Moderasi Beragama bertajuk Penguatan Pemahaman Moderasi Beragama Ustadz Pendidikan Pesantren, bertempat di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (2/12/2021).

 

Kegiatan yang diadakan Yayasan Talibuana Nusantara bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Pendidikan Islam Kemenag RI, acara dihadiri oleh Ketua Yayasan Talibuana Nusantara, Endin AJ Soefihara; Kasubdit PD Pontren, H Aceng Abdul Aziz; Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia H Ahmad Suaedi; dan Winuhoro HB. 

 

Di sisi lain, Aceng mengemukakan fakta bahwa dewasa ini, masyarakat memiliki minat yang sangat tinggi dalam mendedikasikan diri mereka di jalur ponsok pesantren. Pasalnya, ia berpendapat bahwa ustadz maupun kyai saat ini telah dikategorikan sebagai pendidik professional.

 

"Makanya inilah yang sedang diusahakan oleh Kementerian Agama. karena ustadz pesantren ini istilah baru, maka dia harus seperti guru perlakuannya. Kalau guru disertifikasi, maka ustadz pesantren dalam tanda petik harus disertifikasi walaupun nanti akan berbeda caranya, misalnya diakui kompetensinya." Ungkapnya
 

Meski begitu, Aceng mengaku kerap menemui beragam persoalan yang terjadi di lapangan. Salah satu yang ia temukan, meski banyaknya tenaga pengajar yang memiliki kompetensi sebagai pengajar di pondok pesantren, ironisnya, mereka tidak mempunyai latar belakang pendidikan.

 

"Karena banyak di pesantren kompetensinya oke, tapi dia tidak punya latar belakang pendidikan," ucapnya. 


Ia pun berharap agar pendidikan Islam di Indonesia yang menurutnya sangat luar biasa, mampu menjadi arus utama di tengah masyarakat yang religius dalam mementingkan dan memperjuangkan agama dalam bingkai keberagaman.

 

"Maka apabila paham keagamaannya tidak relevan dengan paham kebangsaan dan tidak dalam satu tarikan napas, semisal paham keagamaan di kanan dan paham kebangsaan di kiri. Kalau kita paham keagamaan dan kebangsaan itu menjadi satu tarikan napas dan tidak dipisah-pisah, nah ini akan menjadikan warna kemasyarakatan kita, keberagamaan kita, dan kebangsaan itu dalam posisi yang moderat sebagaimana yang kita inginkan dan cita-citakan," lanjut dia.

 

Menurutnya program ini sebetulnya tidak baru dan tidak ada ide-ide yang spektakuler. "Tapi itu di dalam Aswaja itu kan ada nilai-nilai yang disebut mabadi khaira ummah," imbuhnya.

 

Kontributor: Jaya Sasmita
Editor: Kendi Setiawan



Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya