Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Habib Jindan bin Novel: Semangat Hijrah Nabi Hidupkan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Habib Jindan bin Novel: Semangat Hijrah Nabi Hidupkan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Peringatan Muharram dan HUT RI di Pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat, Senin (16/8/2021). (Foto: istimewa)
Peringatan Muharram dan HUT RI di Pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat, Senin (16/8/2021). (Foto: istimewa)

Jakartaa, NU Online

Teladan dari Rasulullah saw dalam berhijrah harus menjadi semangat bangsa Indonesia untuk mengisi kemerdekaan. Hal ini disampaikan Habib Jindan bin Novel dalam peringatan Muharram dan HUT RI di Pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat, Senin (16/8/2021).

 

Menurut Habib Jindan, semangat hijrah dari Nabi Muhamad haruslah jadi teladan bersama. "Nabi Muhammad berhijrah untuk meraih kemuliaan. Untuk apa? Agar Islam bisa berkembang. Agar ilmunya Rasulullah bisa hidup. Agar bisa mendirikan shalat dengan benar, agar dapat berdizkir. Agar dapat bertasbih, agar menjalankan akhlak, dan adab," terang Habib Jindan, pengasuh Pesantren al-Fachriyah.

 

Dalam kesempatan itu, Habib Jindan juga menyampaikan pentingnya memaknai perjuangan para kiai dan habaib.

 

"Di balik kemerdekaan Indonesia, ada tokoh-tokoh ulama besar, para wali dan shalihin. Seperti Kiai Hasyim Asy'ari, juga para kiai dan habaib. Mereka ini berjuang, sebelumnya disiksa Jepang, disiksa Belanda, dipenjara, dan gangguan lainnya. Habib Salim pernah divonis untuk dieksekusi pihak penjajah. Tapi, anugerah dari Allah yang menyelamatkan beliau," jelasnya.

 

Lebih lanjut, Habib Jindan menjelaskan betapa penting keikhlasan dan ketulusan berjuang. "Para ulama itu berjuang tanpa pamrih. Nggak mau gelar apa pun, nggak mau kekuasaan apapun. Karena ketulusan dan keikhlasan itulah, para pejabat dan pemimpin negeri ini hormat sekaligus meminta saran kepada para ulama," ujarnya.

 

Sementara, M Hasan Chabibie (Plt Ketua Umum MATAN) menjelaskan bahwa saat ini merupakan momentum tepat untuk meneladani warisan hijrah Nabi dan perjuangan kemerdekaan dari ulama.

 

"Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu buah dari perjuangan para ulama, kiai, santri dan habaib juga para pejuang yang saat itu meneteskan darah dan air mata supaya adik-adik saat ini bisa belajar dan mengaji dengan tenang. Perjuangan itu juga agar kita saat ini bisa menikmati hidup dengan damai," ungkap Hasan, yang juga menjadi Plt Kapusdatin Kemendikbud Ristek.

 

Jika tidak ada perjuangan para habaib, kiai dan dan santri, Hasan Chabibie menyampaikan, negara Indonesia tidak bisa berdiri hingga kini. "Di Jakarta kita mengenal sosok Habib Ali, yang pada waktu menjelang proklamasi kemerdekaan disowani Bung Karno. Jadi Bung Karno memohon doa agar proses pembicaraan teks proklamasi berjalan lancar," ujarnya.

 

Ia mengisahkan bahwa, Bung Karno juga sowan ke Jombang, untuk memohon restu dan barokah, dari Hadratus Syaikh Hasyim Asyari sebelum membacakan teks proklamasi ini. Juga, dengan kiprah para ulama lainnya.

 

"Maka, mari kita teguhkan, mari kita teladani semangat hijrah Nabi Muhammad dalam mengisi kemerdekaan, khususnya bagi generasi muda di Indonesia. Wabil khusus untuk santriwan dan santriwati pondok pesantren," tegas Hasan.

 

Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, KH M Hamdan Rasyid, mengajak untuk mengkaji perjuangan para pendahulu. "Penting bagi kita semua untuk mengkaji nilai-nilai perjuangan, nilai pengorbanan, nilai keimanan, dan keikhlasan dari para pendahulu kita," bebernya.

 

Kontributor: Fairuz Zayn
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya