Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Maroko Setuju Normalisasi Hubungan dengan Israel, Palestina Mengecam

Maroko Setuju Normalisasi Hubungan dengan Israel, Palestina Mengecam
Maroko dan Israel sepakat menormalisasi hubungan diplomatik secara penuh dengan dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (10/12). (Ilustrasi: AFP)
Maroko dan Israel sepakat menormalisasi hubungan diplomatik secara penuh dengan dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (10/12). (Ilustrasi: AFP)

Rabat, NU Online
Maroko dan Israel sepakat menormalisasi hubungan diplomatik secara penuh dengan dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Kamis (10/12). Pengumuman itu disampaikan Trump melalui akun Twitternya.


“Israel dan Kerajaan Maroko telah menyetujui hubungan diplomatik penuh, sebuah terobosan besar untuk perdamaian di Timur Tengah!" tulis Trump. 


Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Trump menyebut bahwa Gedung Putih mengakui kedaulatan Maroko atas seluruh wilayah Sahara Barat—sebuah teritori di bagian barat laut Afrika yang disengketakan selama puluhan tahun oleh Maroko dan Fron Polisario didukung Aljazair yang ingin mendirikan negara merdeka di wilayah itu.

 


Dengan kesepakatan ini, maka Maroko menjadi negara Arab keempat yang menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel tahun ini, setelah sebelumnya Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Sudan. 


Rakyat Palestina mengkritik upaya normalisasi yang dilakukan sejumlah negara Arab tersebut. Menurut mereka, negara-negara Arab tersebut telah mengesampingkan perdamaian dengan mengakui Israel sebelum Negeri Zion itu menyerahkan wilayah yang didudukinya kepada Palestina. 
  
Otoritas Palestina juga bereaksi keras atas pengumuman itu. Anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Bassam al-Salhi, mengutuk kesepakatan itu. Menurutnya, setiap normalisasi dengan Israel tidak bisa diterima hingga Israel mengakhiri pendudukannya atas wilayah Palestina.


“Setiap negara Arab yang mundur dari Prakarsa Perdamaian Arab 2002—yang menetapkan bahwa normalisasi hanya terjadi setelah Israel mengakhiri pendudukan atas wilayah Palestina- tidak bisa diterima dan (Itu malah) meningkatkan sikap agresif Israel dan penolakannya atas hak-hal rakyat Palestina,” jelas al-Sahli, diberitakan Aljazeera, Kamis (10/12).


Juru bicara Hamas—kelompok yang mengontrol Jalur Gaza- Hazem Qassem menyebut, normalisasi dengan Israel adalah ‘dosa politik’ yang akan mendorong Israel melakukan pendudukan atas wilayah Palestina. 


Raja Maroko, Mohammed, telah menelepon Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, pada Kamis. Pada kesempatan itu, Mohammed menegaskan bahwa Maroko mendukung solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Bagi dia, negosiasi antara Israel dan Palestina adalah satu-satunya cara untuk mencapai solusi akhir, abadi, dan komprehensif untuk konflik tersebut.


Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyambut baik normalisasi hubungan dengan Maroko. Kata Netanyahu, Maroko dan Israel akan membuka kembali kantor penghubung yang ditutup pada tahun 2000 lalu. 


Dengan kesepakatan ini, maka Maroko akan menjalin hubungan diplomatik penuh, melanjutkan kontak resmi dengan Israel, dan membuka jalur penerbangan langsung ke dan dari Israel untuk semua warga Israel.


Pewarta: Muchlishon
Editor: Fathoni Ahmad


Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya