Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Vaksinasi, Dulu Enggan, Sekarang Jadi Rebutan

Vaksinasi, Dulu Enggan, Sekarang Jadi Rebutan
Kegiatan vaksinasi di Puskesmas Cikeusal Kidul, Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (20/8/2021). (Foto: Suci Amalia)
Kegiatan vaksinasi di Puskesmas Cikeusal Kidul, Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, Jumat (20/8/2021). (Foto: Suci Amalia)

Brebes, NU Online

Antre. Itulah yang tergambar di Puskesmas, Desa Cikeusal Kidul, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Tua dan muda mengantri berebutan formulir pendaftaran di pelataran Puskesmas pada hari Jumat (20/8/2021).

 

Tak hanya kali ini warga mengunjungi Puskesmas. Kebanyakan dari mereka sudah mendatangi Puskesmas berkali-kali tetapi selalu tidak kebagian nomor antrean. 

 

Salah satu warga yang mengantre vaksinasi pada Jumat itu adalah Susi Andriyani. Perempuan berusia 23 tahun ini sudah tiga kali mengunjungi Puskesmas Cikeusal Kidul. Tanggal  13 Agustus 2021, ia dibonceng sepupunya pukul setengah 7 pagi ke Puskesmas. Di sana, warga yang lain dari berbagai desa juga mengerumuni lapangan Puskesmas. Tak disangka, ketika matahari masih malu mengeluarkan teriknya, antrean nomor sudah habis. Padahal, vaksinasi baru dimulai jam 8 pagi. 


Tak berhenti di sana, Susi kembali mengunjungi Puskesmas tiga hari setelahnya. Ia bergegas berangkat dari rumah dengan mengendarai motor sejak pukul 6 pagi. Di Puskesmas, banyak warga yang bernasib sama, menunggu petugas kesehatan mengumumkan untuk mengambil nomor antrian.

 

Namun, waktu lewat begitu saja. Ia hanya duduk menunggu tanpa ada informasi pengambilan nomor antrean. Sampai akhirnya 1,5 jam kemudian, salah satu petugas mengabarkan bahwa nomor antrean sudah habis sejak kemarin.

 

"Maaf, Ibu dan Bapak. Nomor antreannya sudah habis karena hanya ada 50 dosis. Insyaallah ada lagi hari Kamis atau Jumat nanti (bisa mendapatkan vaksinasi)," kata lelaki itu yang kemudian menyarankan warga untuk mendaftarkan diri H-1 sebelum divaksinasi.

 

Informasi adanya vaksinasi di hari Jumat sudah tersebar di grup Whatssapp dan media sosial lainnya. Beruntung, Susi akhirnya mendapatkan jatah formulir pendaftaran di hari Kamis. Formulir pendaftaran selembar itu bertuliskan angka 99 yang berarti ia mendapatkan jatah vaksin urutan ke-99 dari 100 dosis yang disediakan.


Tak hanya Susi, NU Online juga menemui salah seorang remaja yang datang dari desa lain untuk vaksinasi di Puskesmas Cikeusal Kidul. Solihah namanya. Ia datang dari Desa Baros dengan menghabiskan 30 menit perjalanan mengendarai sepeda motor. Beruntung, ia mendapatkan jatah nomor antrean.


Sebelumnya, ia sudah berkali-kali mengunjungi 3 Puskesmas: Puseksmas Baros, Puskesmas Ketanggungan, bahkan sampai ke Puskesmas Brebes. Sayang, hasilnya nihil. Ketiga Puskesmas yang ia datangi selalu kehabisan dosis vaksin. Ia datang ketika nomor antrean ludes diserbu warga lain. 


"Saya sudah ketiga Puskesmas tapi selalu habis," katanya.

 
Alasan utama ia mencari vaksin ke berbagai tempat adalah karena persyaratan pekerjaan. Ia menceritakan bahwa ia sudah mengikuti pelatihan kerja selama sebulan lamanya. Namun, ia tidak bisa diterima di perusahaan karena belum memiliki bukti telah divaksin. Oleh karena itu, ia rela mengunjungi Puskesmas demi Puskesmas yang menyediakan layanan vaksinasi. 

 

Setelah mengantre kurang lebih 1,5 jam, Solihah dan Susi akhirnya mendapatkan vaksis dosis pertama dengan jenis Astrazeneca. Setelah divaksinasi, petugas mengingatkan keduanya dan warga lain untuk divaksinasi dosis kedua pada bulan November 2021 nanti. 

 

Minat warga untuk divaksinasi ini muncul setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan kartu vaksin sebagai syarat melamar kerja dan bepergian ke luar kota. Padahal, awal mula diberlakukan wajib vaksinasi untuk lanisa, banyak sekali warga yang menolak. Hal tersebut dibenarkan oleh Teti Ameliani, salah seorang mahasiswa Kebidanan yang magang di Puskesmas tersebut. 


"Awal mula ada vaksin, respons dari pelayan publik baik ketika disuruh vaksin. Hanya saja banyak lanisa yang tidak mau divaksinasi," jelasnya. 

 

Kontributor: Suci Amalia
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya