Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Kiai Nisful Laila, Pengurus NU Sumberjambe Jember, Sang Pelestari Macapat

Kiai Nisful Laila, Pengurus NU Sumberjambe Jember, Sang Pelestari Macapat
Kiai Nisful Laila mengatakan macapat bukan sekadar tembang biasa tapi mengandung pesan-pesan moral yang cukup dalam. Suara pelaku macapat dengan cengkok dan lengkingan yang khas di keheningan malam, tak jarang membuat yang mendengarkan merasa ‘ngeri’. Tembang macapat bisa menyeret pendengar  dalam suasana  batin yang cukup peka, takut, dan ingat mati. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)
Kiai Nisful Laila mengatakan macapat bukan sekadar tembang biasa tapi mengandung pesan-pesan moral yang cukup dalam. Suara pelaku macapat dengan cengkok dan lengkingan yang khas di keheningan malam, tak jarang membuat yang mendengarkan merasa ‘ngeri’. Tembang macapat bisa menyeret pendengar  dalam suasana  batin yang cukup peka, takut, dan ingat mati. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)

Jember, NU Online
Dulu di keheningan malam sering terdengar lantunan tembang dengan suara yang bersahut-sahutan. Lirik tembang itu bermacam-macam, tapi intinya adalah nasehat.  Kisah-kisah para nabi semisal kisah asmara Nabi Yusuf dan Zulaikha dan perjalanan hidup Nabi Muhammad, sejak lahir hingga diangkat menjadi Rasulullah, juga kerap dikumandangkan dalam bentuk tembang yang khas tanpa iringan musik itu. Itulah Macapat.


Macapat memang tidak asing di kalangan masyarakat pedesaan. Di berbagai hajatan misalnya ritual rokatan, sunatan, bahkan pernikahan, Macapat sering tampil menjadi ‘hiburan’ semalam suntuk.


Namun seiring perjalanan waktu, lantunan Macapat sudah sangat jarang terdengar. Macapat seolah hilang ditelan zaman. Hajatan masyarakat semisal sunatan, ritual rokatan, dan sebagainya saat ini kebanyakan menggunakan hiburan yang sesungguhnya seperti live music, karaoke dan sebagainya.


“Karena tidak ada yang memanfaatkan, maka Macapat juga tidak berkembang, bahkan bisa mati,” ujar pemerhati Macapat, KH Nisful Laila kepada NU Online di kediamannya kompleks Pondok Pesantren Asy-Syifa’, Desa Cumedak, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember Jawa Timur, Rabu (17/3).


Menurutnya, Macapat bukan sekadar tembang biasa tapi mengandung pesan-pesan moral yang cukup dalam. Suara pelaku Macapat dengan cengkok dan lengkingan yang khas di keheningan malam, tak jarang membuat yang mendengarkan merasa ‘ngeri’. Tembang Macapat bisa menyeret pendengar  dalam suasana  batin yang cukup peka, takut, dan ingat mati.


“Di situlah kekhasan Macapat. Siapa yang tidak ingat mati, di tengah malam yang gelap gulita, kita di kamar tidur mendengar suara yang bercerita soal nabi, soal kematian, siksa kubur dan sebagainya,” tambahnya.


Kiai Nisful Laila menyatakan prihatin dengan masa depan Macapat. Sebab, belakangan posisi Macapat semakin tenggelam, tergeser oleh budaya lain yang justru jauh diri nilai-nilai agama. Oleh karena itu, sejak lama ia berusaha menghidupkan Macapat dengan beragam cara. Salah satunya adalah Macapat kerap ditampilkan dalam acara di pesantren yang diasuhnya.


“Dalam setiap launching bangunan, kami menggunakan Macapat sebagai pengisi acara karena isi Macapat itu ending-nya adalah doa dan nasehat,” ungkapnya.


Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sumbejambe, Kabupaten Jember itu berencana mendirikan museum budaya di kompleks Pesantren Asy-Syifa’ yang memiliki tanah seluas 10 hektare itu. Museum tersebut, salah satu isinya adalah terkait Macapat. Tujuan pendirian museum tersebut  adalah untuk mengingatkan masyarakat akan arti pentingnya hidup berbudaya di samping melestarikan beragam budaya yang ada.

 
“Apapun kebudayaan yang kita punya, apakah itu (budaya) lokal atau nasional, sesungguhnya adalah sebuah bimbingan untuk kita semua,” jelasnya.


Tidak sekadar kata-kata, tampaknya Kiai Nisful Laila memang pecinta budaya. Terbukti di  prasasti Masjid Nurus Shabirin yang terletak di lingkungan Pesantren Asy-Syifa’, tertulis kalimat Beragama yang Berbudaya, Berbudaya yang Beragama.


“Maksudnya, beragama perlu dijadikan budaya. Begitu juga budaya perlu dapat bimbingan dari agama, sehingga prilaku agama menjadi budaya, menjadi pola hidup keseharian,” urainya.

 

 

Terpisah, Ketua Pengurus Cabang (PC) ISNU Jember, Hobri Ali Wafa menegaskan bahwa untuk melestarikan Macapat, memang perlu keseriusan. Sebab, minat generasi muda untuk menekuni Macapat, sangat kecil bahkan tidak ada. Hal ini bisa dimaklumi lantaran dari sisi ekonomi, Macapat tidak menarik karena tidak menghasilkan uang kecuali hanya sekadarnya .


“Tapi kita jangan berkecil hati. Insyaallah ISNU dan Lesbumi  Jember siap melestarikan Macapat,” ungkapnya.


Sementara itu, salah seorang pelaku Macapat asal Sumberjambe, Jember, Pak Nursia mengatakan, dirinya menekuni Macapat karena hobi saja, bukan untuk mencari uang. Sebab, hasil Macapat memang tidak cukup untuk menyambung hidup.


“Macapat itu hobi, soal rezeki ada pekerjaan lain,” ungkapnya.


Pira paruh baya yang sudah 24 tahun menggeluti Macapat itu, menyatakan akan terus bergiat di Macapat sebagai sarana untuk membimbing masyarakat.


“Tapi soal ke depannya (masa depan Macapat), saya juga tidak tahu,” pungkasnya.


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya