Warta DIKLAT NASIONAL PELAKSANA RUKYAT NU

Ajang Integrasi Ilmu Falak dan Astronomi

Ahad, 17 Desember 2006 | 09:14 WIB

Semarang, NU Online
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat Nasional) Pelaksana Rukyat Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Agung Semarang, Jawa tengah, sedianya menjadi ajang penyatuan antara ilmu falak dan astronomi. Penyatuan itu penting dan semakin menjadi kebutuhan warga NU saat ini, menyusul adanya perkembangan yang pesat di kedua belah fihak.

“Semakin banyak yang menginginkan integrasi itu. Mungkin ini adalah hikmah perbedaan, karena tidak biasanya Pengurus Wilayah NU Jawa Timur berbeda dengan pengurus Besar NU dan Depertemen Agama (Depag) dalam penentuan awal Syawal,” kata Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Masykuri Abdillah saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Diklat mewakili PBNU, Ahad (17/12) siang.<>Diklat Nasional Pelaksana Rukyat PBNU, demikian Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah PBNU KH. Ghazali Masroeri, dilaksanakan pada bulan ini karena bertepatan dengan bulan Dzulhijjah 1427 H dimana posisi bulan sangat variatif. Pada Dzulhijjah, “bulan tua” bisa dirukyat (diamati: Red) pada pagi dan sore hari selama tiga hari.

“Nanti juga ada rukyat matahari biar peserta juga tahu posisi matahari,” kata Kiai Ghazali. Lokasi masjid Agung Semarang dipilih karena memungkinkan untuk dijadikan tempat praktik pelaksanaan rukyat, di samping terdapat menara setinggi 99 meter (perlambang asmaul husna) dilengkapi dengan teropong bintang.

Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto dalam sambutan yang dibacakan oleh asistennya Slamet Budi Prayitno mengatakan, pelatihan rukyat ini diharapkan menjadi sarana untuk Slamet Budi Prayitno peningkatan SDM di lingkungan Nahdlatul Ulama. “Diklat ini menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususya di bidang falakiyah,” katanya.

Menteri Agama KH. Maftuh Bayuni dalam sambutannya berharap, Diklat ini menjadi akhir dari perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam Indonesia khususnya warga NU dalam penentuan awal bulan Hijriyah.

“Saya ingatkan, yang paling penting adalah kita menjaga persatuan di antara umat Islam. Dari sini kita belajar khasanah ilmu pengetahuan para ulama terdahulu untuk mengatasi keadaan sekarang,” kata Maftuh Basyuni.

Dikatakannya, masalah utama dalam perbedaan penentuan awal bulan Hijriyah adalah seputar perbedaan kriteria hisab dan rukyat. “Jadi kita perlu mencari kriteria rukyat dan hisab yang bisa diterima,” katanya.

Depag sendiri sebagai penanggungjawab dalam penentuan awal bulan Hijriyah akan terus melakukan upaya-upaya untuk mernyamakan kriteria-kriteria hisab dan rukyah.

“Nanti kita juga akan pertemukan pihak hisab dan rukyat di berbagai organisasi Islam yang ada untuk menemukan kriteria bersama sehingga nanti tidak terjadi perbedaan,” kata Maftuh Basyuni. (nam)