Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Hikmah Wahyu Terhenti Sementara Waktu

Hikmah Wahyu Terhenti Sementara Waktu
Wahyu terhenti sementara waktu
Wahyu terhenti sementara waktu

Awal mula wahyu turun di Gua Hira. Rasulullah saw yang pertama kali bertemu Jibril itu begitu panik ketakutan. Sang istri, Sayyidah Khadijah berhasil menenangkan suami tercinta. Belum lama setelah itu, wahyu terhenti. Nabi saw bingung. Jangan-jangan, ada yang salah dengan dirinya.


Ulama berbeda pendapat mengenai berapa lama wahyu tidak turun. Sebagian mengatakan tiga tahun, sebagian lain menyatakan kurang dari itu. Menurut Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, pendapat paling kuat adalah riwayat yang dinukil Imam al-Baihaqi, yang menyatakan saat itu wahyu tidak turun selama enam bulan. (Al-Buthi, Fiqhus Sîratin Nabawiyyah, [Beirut, Dârul Fikr al-Mu’âshir: 1991], halaman 96).


Sementara Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri mengatakan, pendapat paling kuat adalah riwayat Ibnu Sa’ad dari Ibnu Abbas ra, yang mengatakan masa vakum wahyu hanya berlangsung selama beberapa hari. Menurut riwayat masyhur, masa vakum wahyu terjadi selama tiga atau dua tahun setengah. Pendapat ini sama sekali tidak benar. (Al-Mubarakfuri, Rahîqul Makhtûm, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 2016], halaman 45).


Dalam Kitab at-Ta’bîr, Imam al-Bukhari meriwayatkan redaksi:

 

وَفَتَرَ الْوَحْيُ فَتْرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا حُزْنًا غَدَا مِنْهُ مِرَارًا كَيْ يَتَرَدَّى مِنْ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ. فَكُلَّمَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ لِكَيْ يُلْقِيَ مِنْهُ نَفْسَهُ، تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمُّدُ إِنَّكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا، فَيَسْكُنُ لِذَلِكَ جَأْشُهُ وَتَقِرُّ نَفْسُهُ فَيَرْجِعُ. فَإِذَا طَالَتْ عَلَيْهِ فَتْرَةُ الْوَحْيِ غَدَا لِمِثْلِ ذَلِكَ. فَإِذَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ


Artinya: “Berdasarkan informasi yang sampai kepada kami, wahyu mengalami masa vakum sehingga membuat Nabi saw sedih dan berulang kali lari kencang agar terjerembab dari puncak-puncak gunung. Namun setiap beliau sampai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, sungguh Engkau benar-benar utusan Allah.’ Spirit ini dapat menenangkan dan menstabilkan jiwa beliau, lalu beliau pulang. Namun manakala masa vakum itu berlanjut, beliau mengulangi lagi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika beliau mencapai puncak gunung, malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya.” (HR al-Bukhari)


Wahyu Kembali Turun

Kekhawatiran Rasulullah saw atas tertundanya wahyu kemudian sirna saat beliau berjumpa kembali malaikat yang dulu pernah ditemuinya di Gua Hira. Kali ini, wujud malaikat tersebut benar-benar luar biasa. Ukuran tubuhnya memenuhi langit dan bumi. Lalu malaikat itu berkata, “Wahai Muhammad, Engkau adalah utusan Allah kepada umat manusia.” Kemudian ia membacakan Surat al-Muddatsir ayat 1-2). (Al-Buthi, Fiqhus Sîrah, halaman 66).


Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, bahwa dia mendengar Rasulullah saw menceritakan masa vakum itu. Ia bertutur: 


“Ketika tengah berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit. Ternyata malaikat yang telah mendatangiku ketika di Gua Hira, sekarang duduk di  atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun terkejut karenanya hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku pulang kepada keluargaku sembari berkata, ‘Selimutilah aku. Lantas mereka menyelimutiku. Allah pun menurunkan firman-Nya:


يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5). (المدثر: 1-5)  


Artinya, “(1) Hai orang yang berkemul (berselimut); (2) bangunlah, lalu berilah peringatan; (2) dan Tuhanmu agungkanlah; (4) dan pakaianmu bersihkanlah; (5) dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS al-Muddatsir: 1-5).


Hikmah 
Masa kevakuman wahyu mengandung banyak hikmah, yang di antaranya sebagai berikut.


Pertama, menjadi jeda untuk beristirahat. Menerima wahyu bukan hal mudah bagi Nabi Muhammad saw. Saat menerima wahyu, kondisi beliau terlihat susah. Wajahnya memerah, berkeringat, sempoyongan, tubuh terasa berat dan seperti mendengar suara gerombolan lebah. Karena itu, hikmah masa vakum itu adalah sebagai jeda bagi Nabi Muhammad saw untuk beristirahat sejenak.


Syekh Muhmmad bin Yusuf as-Shalihi as-Syami (w. 942 H) dalam Subulul Hudâ war Rasyâd menjelaskan:


الحكمة في فترة الوحي والله أعلم: ليذهب عنه ما كان يجده صلى الله عليه وسلم من الروع، وليحصل له التشوق إلى العود


Artinya: “Hikmah masa vakum wahyu—wallaahu a’lam—adalah supaya rasa takut yang Nabi saw alami hilang, lalu beliau rindu untuk menerima wahyu kembali.” (As-Shalihi, Subulul Hudâ war Rasyâd fî Sirati Khairal ‘Ibâd, juz II, halaman 272).


Pendapat senada juga dikemukakan Ibnu Hajar al-‘Asqalani (wafat 852 H), “Adanya masa vakum itu bertujuan untuk menghilangkan ketakutan yang dialami oleh Rasulullah saw dan membuatnya penasaran untuk mengalaminya lagi.” (Ibnu Hajar, Fathul Bâri, [Kairo, Musthafal Babil Halabi: 1959], juz I, halaman 30).


Kedua, mempertegas autentisitas atau keaslian wahyu. Kafir Quraisy yang tidak mempercayai wahyu menganggapnya hanya bisikan hati yang muncul akibat Rasulullah saw terlalu sering merenung. Mereka juga menganggap wahyu hanyalah sesuatu yang timbul dari diri beliau, bukan dari Allah swt. 


Saat wahyu terputus sementara waktu, Rasulullah saw begitu gundah dan khawatir, jangan-jangan Allah telah meninggalkannya karena ada kesalahan yang telah diperbuatnya. Kala itu, jiwa Rasulullah saw begitu terguncang seolah dunia terasa sempit. Bahkan sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari yang telah dijelaskan sebelumnya, setiap kali Rasulullah saw melintasi gunung, beliau selalu terbesit untuk menjatuhkan diri.


Ini sebuah tekanan batin yang luar biasa. Menurut Syaikh Said Ramadhan al-Buhti, kondisi demikian tidak akan dialami jika wahyu hanya halusinasi dari Rasulullah saw sendiri. Artinya, peristiwa terputusnya wahyu untuk sementara waktu yang diikuti kondisi Rasulullah saw seperti itu, mempertegas bahwa wahyu tersebut benar-benar wahyu yang datang dari Allah swt. (Al-Buthi, Fiqhus Sîrah, halaman 100).


Terputusnya wahyu untuk sementara sebagai bukti autentisitas atau keaslian wahyu ilahi, juga bisa dianalisis dari sisi lain. Bahwa dengan peristiwa tersebut, berarti wahyu bukan sekehendak Nabi saw; kapan turun dan kapan berhenti. Artinya, tidak ada kehendak Nabi saw di sini. Murni kehendak Allah. Karena memang wahyu tersebut diturunkan dari Allah. Wallâhu a’lam.

 

 

Muhamad Abror, Pengasuh Madrasah Baca Kitab dan Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon.
 


Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya