Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Internasional Keislaman Risalah Redaksi English Opini Obituari Video Tokoh Hikmah Arsip

Perang Khaibar dan Doa Rasulullah (1)

Perang Khaibar dan Doa Rasulullah (1)
Mereka hawatir Rasulullah dan semua umat Islam menghabisi para petani Khaibar. Padahal, Rasulullah tidak akan memerangi suatu kaum jika mereka tidak memerangi ajaran Islam. (ilustrasi: ok.ru)
Mereka hawatir Rasulullah dan semua umat Islam menghabisi para petani Khaibar. Padahal, Rasulullah tidak akan memerangi suatu kaum jika mereka tidak memerangi ajaran Islam. (ilustrasi: ok.ru)

Islam sebagai agama paripurna memiliki jasa yang sangat besar terhadap perkembangan hidup sosial. Misalnya, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab memiliki keyakinan bahwa bulan safar merupakan bulan sial, yang di dalamnya terdapat kejelekan, akhirnya Islam datang dan menghapus keyakinan-keyakinan salah itu.


Islam mengajarkan bahwa tidak ada suatu bulan yang membawa sial dengan sendirinya. Semua sudah sesuai diatur oleh Allah swt sejak zaman azali.


Selain itu, bulan safar ternyata menjadi salah satu bulan yang sangat bersejarah dalam Islam. Bulan di mana umat Islam kembali berjuang habis-habisan, nyawa dan harta harus mereka korbankan demi kejayaan Islam, yaitu peristiwa perang. Pada bulan ini, terdapat dua peperangan bersejarah yang dicatat oleh para ulama ahli sejarah. Habib Abu Bakar al-Adni ibn Habib ‘Ali al-Masyhur mengatakan dengan bentuk syair:


وَغَزْوَةُ الْأَبْوَاءِ فِيْهِ صَدَرَتْ *** كَأَوَّلِ الغَزْوَاتِ ضِدَّ مَنْ كَفَرْ *** وَخَيْبَرُ فِيْهِ غَزَاهَا المُصْطَفَى *** مُفْتَتِحًا حُصُوْنَهَا وَمَا انْدَحَرْ


Artinya, “ada bulan ini (safar) peperangan Abwa terjadi *** menjadi permulaan peperangan melawan orang kafir *** perang Khaibar (pada bulan safar) yang diikuti oleh Nabi Muhammad, Nabi terpilih *** (Rasulullah) menghantam benteng-benteng Khaibar dan mengalahkan (orang kafir).” (Habib Abu Bakar al-‘Adani, Mandhumatu Syarhil Atsar fi ma Warada ‘an Syahri Shafar, halaman 9).


Pasukan Rasulullah saw

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi menceritakan, dalam perang ini Rasulullah saw berangkat bersama seribu empat ratus orang prajurit yang terdiri dari pasukan infantri dan kavaleri. Ketika tiba di Khaibar, Rasulullah menyeru para sahabat, “Berhentilah kalian!”


Lalu, Rasulullah berdoa, “Wahai Allah! Tuhan segala langit dan semua yang dinaunginya; Tuhan segala bumi dan semua yang dipikulnya; Tuhan segala setan dan semua yang disesatkannya; Tuhan segala angin dan semua yang diembuskannya. Sesungguhnya kami meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan semua yang ada di dalamnya. Dan, kami berlindung kepada-Mu dari keburukan kampung ini, keburukan penduduknya, dan keburukan semua yang ada di dalamnya.” “Lanjutkan langkah kalian,” serunya Nabi Muhammad dengan menyebut nama Allah!


Menurut al-Buthi, setiap kali memerangi suatu kaum, Rasulullah tidak pernah menyerang kecuali menunggu pagi datang. Jika mendengar azan, ia akan menahan serangan, dan ketika sudah tidak mendengarnya, ia akan menyerang. Oleh karena itu, Rasulullah saat itu bermalam di perbatasan wilayah Khaibar sebelum kemudian memasuki kota tersebut. Pagi harinya, Rasulullah melihat para pekerja Khaibar berangkat ke tanah pertanian mereka masing-masing sambil membawa peralatan pertanian mereka.


Ketika melihat Rasulullah, mereka berteriak, “Muhammad dan pasukannya!” dan langsung melarikan diri. Mereka hawatir Rasulullah dan semua umat Islam menghabisi para petani Khaibar. Padahal, Rasulullah tidak akan memerangi suatu kaum jika mereka tidak memerangi ajaran Islam.


Melihat reaksi penduduk Khaibar itu, Rasulullah berseru kepada para sahabat,


اللَّهُ أَكْبَرُ، خَرِبَتْ خَيْبَرُ، إِنَّا إِذَا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْمٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ


Artinya, “Allah Mahabesar! Hancurlah Khaibar! Jika kita masuk ke wilayah mereka, pagi ini pasti akan menjadi pagi yang buruk bagi orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (Al-Buthi, Fiqhus Sirah Nabawiyah, [Bairut, Darul Fikr: 2019], halaman 261-262).


Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri mengatakan, benteng-benteng di kota Khaibar terdiri dari dua lapis, setiap lapis terdiri dari beberapa benteng. Lapis pertama terdiri dari lima benteng; (1) Benteng Ni’am; (2) benteng Sha’b bin Mu’az; (3) benteng Zubair; (4) benteng Ubay; dan (5) Nizar. Sedangkan lapis kedua terdiri dari tiga benteng; (1) benteng Qomus; (2) benteng Watih; dan (3) benteng Salalim. Selain benteng-benteng tersebut, masih banyak benteng-benteng kecil yang juga menjadi pertahanan pasukan Khaibar, hanya saja tak sekuat benteng telah disebutkan.


Benteng Khaibar dan Awal Perang

Melihat banyaknya benteng pertahanan pasukan Khaibar, Rasulullah dan para sahabat menyepakati untuk menyerang benteng Na’im terlebih dahulu, yang merupakan pusat pertahanan pasukan Khaibar Yahudi paling utama, di samping tempatnya sangat kuat karena dihuni oleh beberapa pasukan kuat, juga  terletak di tempat yang sangat strategis. Benteng ini diprakarsai oleh seorang pejuang Yahudi; Marhab, yang kekuatannya menandingi puluhan orang.


Menantu Rasulullah, Sayyidina Ali bin Abi Thalib memimpin pasukan menuju benteng tersebut, lalu orang-orang Yahudi diajak masuk Islam. Namun mereka menolak, bahkan tokoh mereka; Marhab keluar untuk menantang pasukan Islam. Tantangan tersebut langsung mendapat respon dari Sahabat Rasulullah yang bernama, ‘Ami ‘Amir, namun akhirnya ia terbunuh oleh Marhab dan gugur sebagai syahid. Kemudian Sayyidina Ali maju untuk adu duel dengan Marhab, seraya berkata:


أَنا الَّذِي سَمَتْنِي أُمِّي حَيْدَرَه *** كَلَيْثِ غَابَاتٍ كَرَيهِ المَنظَرَه


Artinya, “Akulah yang diberi nama Haidar (singa) oleh ibuku *** bagaikan singa hutan bertampang seram” (al-Mubarakfuri, ar-Rahiqul Makhtum, [Wazaratul Auqaf: 2007], halaman 370-371).


Selain sebagai salah satu panglima pada perang Khaibar, Sayyidina Ali juga salah satu andalan umat Islam dalam setiap peperangan. Kecerdikan dan kepiawaiannya sangat diakui oleh kawan dan lawan. Ternyata, dengan sekali gebrakan Sayyidina Ali dapat menghantam kepala Marhab hingga tewas seketika itu juga.


Setelah itu, sifat marah orang-orang Yahudi di Khaibar semakin memanas disebabkan terbunuhnya komandan mereka. Begitu juga dengan umat Islam, kemenangan Sayyidina Ali melawan Marhab, menjadi salah satu semangat baru yang semakin menggelora dalam jiwa-jiwa pasukan Islam.


Setelah komando Yahudi berhasil ditaklukkan, terjadilah pertempuran sengit. Kaum muslimin mendapat perlawanan berat selama beberapa hari. Namun beberapa tokoh dan pembesar Yahudi berhasil dibunuh sehingga mental perlawanan pasukan musuh semakin lemah.


Keadaan itu tidak disia-siakan oleh umat Islam. Sebagian dari mereka menyelinap masuk ke benteng as-Sha’b untuk mengepung Yahudi Khaibar yang ada di dalamnya. Dari upaya ini, umat Islam berhasil menduduki benteng tersebut.


Selanjutnya, pasukan kaum muslimin menuju benteng az-Zubair yang tidak kalah kokohnya dari benteng pertama. Di dalamnya terdapat tiga koalisi hebat, yaitu (1) benteng Qomus; (2) benteng Watih; dan (3) benteng Salalim.


Kaum muslimin melakukan penyerbuan di bawah komando Khabbab bin Munzir. Mereka mengepungnya selama tiga hari hingga mereka sangat lelah dan bekal mereka tinggal sedikit. Kedua pasukan sepakat untuk berhenti istirahat pada malam harinya.


Melihat peperangan yang tak kunjung selesai, pada malam hari Rasulullah berdoa secara khusus agar benteng ini dapat ditundukkan. Berikut teks doanya:


اللّهُمّ إنّك قَدْ عَرَفْت حَالَهُمْ وَأَنْ لَيْسَتْ بِهِمْ قُوّةٌ وَأَنْ لَيْسَ بِيَدِي شَيْءٌ أُعْطِيهِمْ إيّاهُ فَافْتَحْ عَلَيْهِمْ أَعْظَمَ حُصُونِهَا عَنْهُمْ غِنَاءً وَأَكْثَرَهَا طَعَامًا وَوَدَكًا


Artinya, “Wahai Allah! Sesungguhnya Engkau Mahamengetahui keadaan mereka, tidak ada kekuatan pada mereka, dan tidak ada dayaku, yang dapat aku berikan kepada mereka. Maka tundukkanlah benteng yang sangat kokoh ini, di dalamnya ada kecukupan serta makanan dan minyak lemak yang banyak.” (Abu ar-Rabi’ al-Andalusi, al-Iktifa min Maghazi Rasulillah wal Khulafa, [Bairut, Darun Nasyr: 2000], juz II, halaman 160).


Keesokan harinya, kaum muslimin menyerbu benteng tersebut dan akhirnya berhasil menundukkan mereka sebelum Maghrib. Dari penyerangan yang berujung kemenangan itu, pasukan umat Islam mendapatkan banyak harta rampasan (ghanimah). Namun, usaha umat Islam dalam menaklukkan benteng ash-Sha’b tidak membuat pasukan musuh jera, mereka justru melarikan diri dan berpindah pada benteng Zubair.


Melihat mereka yang lari tunggang langgang, umat Islam tidak membiarkan mereka hilang jejak dengan sendirinya. Umat Islam kembali menyerbu mereka dan mengepungnya selama tiga hari, setelah itu, keluarlah orang Yahudi dan pertempuran sengit kembali terjadi, hingga akhirnya benteng itu dapat ditundukkan dan orang Yahudi Khaibar menyerah.


Setelah penyerahan itu, orang-orang Khaibar memohon kepada Rasulullah agar mereka tetap tinggal di Khaibar untuk melakukan kegiatan pertanian seperti biasa. Mereka berdalih bahwa mereka paling tahu seluk-beluk tanah Khaibar yang telah lama mereka diami.


Sebagai imbalan atas itu, pihak Muslim berhak mendapatkan bagian dari hasil bumi Khaibar. Rasulullah menerima tawaran itu dan bersedia membuat perjanjian damai dengan musuh.


Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan.

Terkait

Shalawat/Wirid Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya