Opini

Meramal Pesantren Masa Depan

NU Online  ·  Sabtu, 25 Agustus 2012 | 08:36 WIB

Oleh Achmad Marzuki

 

Pondok pesantren adalah kotak ajaib yang selalu menyimpan dan menghasilkan banyak pertanyaan. Ajaib karena kotak ini tetap bertahan dengan karakter tradisionalnya di tengah derasnya modernisasi. Sementara dengan tetap mendekam dalam tempurungnya, justru sebagian pengamat melihat pesantren sebagai pemilik langkah-langkah positif dan progresif melakukan transformasi sosial pada tingkat dasar. (Zamakhsyari Dhofier-Abdurrahman Wahid)
<>
Lima Syarat Pesantren

Ada lima syarat yang patut ada dalam pesantren. Pertama, santri, yaitu para pelajar baik siswa, mahasiswa, maupun lulusan sekolahan yang menetap dalam pesantren. Kedua, asrama atau pondok. Jika dulu asrama yang detempati masih berupa djangkruk, yaitu rumah yang terbuat dari kayu dan bambu, bukan bangunan bersemin. Ketiga, kitab arabiah, yaitu buku karangan yang berbahasa arab yang biasanya tidak memiliki syakal dan membahas tentang ajaran keagamaan. Dikenal juga dengan sebutan kitab kuning atau kitab gundul.

Keempat, kiai, yang sebagai sentral dalam pemegang kuasa dalam pesantren. Kiai tidak bisa dibuat sendiri artinya orang yang hanya mengaku kiai tetap bukanlah seorang kiai. Label kiai terbentuk dari kepercayaan masyarakat akan keilmuan dan tingkah laku seseorang. Dan yang terakhir adalah sorogan, yaitu cara pengajaran dari sang kiai yang berupa pembacaaan kitab kuning.

Memang pesantren satu dan lainnya tidak sama namun sejauh penulis ketahui yang namanya pesantren syarat akan kelima poin tersebut. Artinya jika ada pesanten yang tidak memenuhi syarat tersebut maka bisa jadi ada hal lain yang mendasari didirikannya pesantren tersebut. Hal lainnya yang mungkin tidak terelakkan dalam pesantren ialah ghasab. Yaitu menggunakan barang milik orang lain tanpa izin dengan tidak berniat memiliki. Hal ini menjadikan barang riskan untuk hilang.

Pesantren Masa Depan

Posisi pondok pesantren dan santri dalam konteks kehidupan bangsa Indonesia, telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berbasis Islam dengan nuansa lokalitasnya yang adiluhung merupakan permata khazanah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tidak heran kalau pada gilirannya ada yang menyebut pesantren sebagai lembaga unik yang dimiliki oleh bangsa ini dan telah banyak berkiprah dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Pesantren adalah lembaga pendidikan yang otonom atau lembaga yang qiyamuhu bianfishi, berdiri sendiri, yang artinya segala sesuatu diurus oleh pondok, dan tidak diorganisasi sebegitu rupa. Tetapi lebih banyak sebagai organisasi yang hidup dan tidak memerlukan biaya besar. Tidak bisa dipungkiri dengan kenyataan yang demikian, pesantren tetap memiliki beberapa kelemahan, antara lain pada sistem pendidikan, baik pada kurikulum, metode, sarana maupun prasaranya. Walaupun hal itu sejak beberapa tahun terakhir telah mulai diperhatikan oleh kalangan pesantren untuk diperbaiki.

Dari sinilah sistem pendidikan juga harus dirujukkan, sehingga pesantren akan senantiasa senafas dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat global. Nilai-nilai moral keagamaan yang menjadi identitas pesantren tetap utuh, sementara skill dan wawasan umum para santri juga menjadi pertimbangan pesantren. Sebab, memasuki abad XXI, yang diiringi oleh ketidakpastian global dengan ditandai perubahan paradigma ilmu dan teknologi disertai kompetisi di segala bidang, tuntutan kompetisi inilah yang harus menjadi pijakan pesantren dalam meningkatkan daya saing agar tetap eksis dan mampu melahirkan kader-kader yang ber-Imtak dan ber-Iptek, khususnya oleh lembaga pendidikan bernama pesantren.

Pesantren akan selalu menjadi pusat gerak dan pertahanan dari serbuan hegemoni globalisasi kehidupan yang mengajarkan tentang imperialisasi dan kolonialisasi dalam berbagai aspek, terutama dalam aspek budaya dan pendidikan. Maka sistem pendidikan yang berkembang dan dikembangkan oleh pesantren, dengan ciri keagamaannya, ke depan dapat memberikan jawaban yang sangat konkret bagi kebutuhan era global. Yang dibutuhkan dalam hal revitalisasi ini adalah kesediaan pesantren untuk tetap secara kritis membaca kebutuhan masa depan dengan logika-logika yang taktis, dengan melahirkan out put-out put yang selalu siap pakai melawan arus kemajuan.

Artinya, sistem pesantren harus diletakkan dengan paradigma baru sebagai media untuk melahirkan generasi-generasi berkualitas yang siap menerjemahkan dirinya dengan segala tantangan yang terjadi. Sebab, kesuksesan dan kegagalan pengembangan SDM, masyarakat tentunya juga akan sangat ditentukan oleh sejauh mana pesantren mampu menjadikan dan mengabdikan dirinya sebagai pusat pendidikan yang memiliki arah dan tujuan yang jelas; dunia dan akhirat.


* Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, saat ini sedang melanjutkan studinya di IAIN Walisongo Semarang