Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Santri Lirboyo Ini Hasilkan Rp1 Miliar dari Jualan Ikan Koi dan Bibit Tanaman

Santri Lirboyo Ini Hasilkan Rp1 Miliar dari Jualan Ikan Koi dan Bibit Tanaman
Anas Fajar Rizki (31) yang pernah mondok di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, berpenghasilan Rp1 miliar dari berjualan ikan koi dan bibit tanaman. (Foto: tangkapan layar
Anas Fajar Rizki (31) yang pernah mondok di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, berpenghasilan Rp1 miliar dari berjualan ikan koi dan bibit tanaman. (Foto: tangkapan layar

Jakarta, NU Online

Anas Fajar Rizki, seorang pria berusia 31 tahun yang pernah mondok di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, berpenghasilan Rp1 miliar dari berjualan ikan koi dan bibit tanaman. Usaha ini dilakukan dengan memanfaatkan media sosial yakni facebook. Sebelum berjualan ikan koi, Anas bercerita pernah berjualan keripik singkong di pinggir jalan. 


“Saya dulu lulusan SMP tahun 2005. Setelah itu, saya mondok di Kediri, tepatnya di Lirboyo. Saya pernah usaha keripik singkong di pinggir jalan. Saya dulu jualan di Kota Kediri, setelah saya sekolah, biasanya sore saya jualan di pasar Campurejo, selama dua tahun,” kata Anas, dikutip NU Online dari sebuah tayangan di Youtube Pecah Telur, pada Senin (18/10/2021). 


Berjualan keripik itu dilakukan sejak sebelum menikah hingga usia satu tahun pernikahannya. Kemudian ia beralih usaha sebagai penjual tanaman dan mengharuskannya pulang-pergi setiap satu pekan sekali dari Blitar ke Kediri. Sebab sang istri tinggal di Blitar. 

 
Suatu saat, istrinya melahirkan. Selama satu bulan penuh, Anas menunggui sang istri sehingga tidak bisa berjualan keripik lagi. Ia kemudian mencari kesibukan lain dengan mengunggah foto dan video tanaman ke facebook.


“Saya rasakan hasilnya sama dengan jualan keripik. Waktu itu keripik penghasilannya antara Rp1 sampai Rp2 juta per bulan. Saya bisa menabung dan memberikan istri setiap minggu Rp100 ribu. Kadang 50 ribu, setiap minggu saya jatah itu. Akhirnya keripik itu saya berhenti,” kata Anas.


Ia kemudian meneguhkan hatinya untuk fokus berjualan tanaman. Sebab secara waktu pun fleksibel sehingga tidak perlu menetap di Kediri lagi. Cukup dengan mengunggah postingan saja di facebook, berbagai pesanan datang. Teman-teman Anas pun turut membantu usaha barunya itu.


Saat itu, pasar digital (marketplace) belum ramai. E-commers pun tidak seramai sekarang, sehingga Anas hanya mengandalkan facebook untuk mempromosikan barang dagangannya. Lalu, beberapa pelanggan bermunculan bahkan hingga mendatangi tempat Anas berjualan di Blitar. 


“Orang Fakfak pesan bibit nanas sejumlah 200 ribu untuk dikirim ke Papua, itu proyek pertama saya. Saya bingung, gimana caranya. Ternyata orangnya itu dari dinas pertanian yang sudah paham sekali dengan pengiriman (dan) perizinan. Saya tinggal carikan bibitnya, pengiriman kontainer dan perizinan diurus beliau. Itu empat bulan pertama,” katanya. 


Di bulan keenam, Anas berhasil menyisihkan uangnya. Kemudian pada saat anaknya berusia empat bulan, ia berhasil membeli mobil untuk kebutuhan pulang-pergi Blitar-Kediri. Setelah itu, bisnisnya mulai diketahui banyak orang secara luas. 


Ia mendapatkan proyek tanaman untuk keperluan penghijauan, penanaman pohon di jalan tol, hingga ada seorang bupati yang meminta Anas untuk mengirim tanaman ke daerahnya, yakni Kabupaten Masohi, Maluku Tengah, pada 2017.


Beberapa bulan kemudian, Bupati Masohi kembali memesan tanaman kepada Anas. Hingga selama satu tahun, setelah dikalkulasi, penghasilannya sudah bisa ditabung untuk membangun rumah yang kini ditempatinya.


“Jadi rumah ini hasil dari proyek di Kabupaten Masohi tahun 2017 selama satu penuh, dua bulan sekali kirim. Mendapat aset Rp1 miliar itu usia 27 tahun sekitar 2017-an itu, dari beberapa proyek tanaman, dari Masohi, Papua, dan dari orderan yang besar-besar,” kata Anas.


Lalu pada 2019, Anas berfokus untuk berdagang di marketplace. Setiap hari, ia mengemas 500 hingga 700 tanaman untuk dikirim ke pelanggan. Pesanan-pesanan pun mulai berdatangan dalam jumlah besar meski secara keuntungan kecil. 


Memulai bisnis ikan koi

Anas kemudian memulai bisnis ikan koi sejak awal pandemi Covid-19 muncul di Indonesia. Ia kemudian mendirikan Duta Koi Farm yang beralamat di Desa Modangan, Nglegok, Biltar, Jawa Timur. Sementara di Kediri, menjadi tempat Anas untuk melakukan proses pengemasan dan produksi.


Sebenarnya, Anas ingin sekali memiliki usaha yang bisa santai dari rumah sembari membersamai istri. Namun, ia harus pulang-pergi dari Blitar ke Kediri. Meski tidak setiap hari, tetapi menurutnya waktu untuk keluarga sangat kurang.


“Dulu itu pilihannya ada beberapa, tapi waktu itu saya memilih koi untuk saya pasarkan. Pertama, makelar, di dunia koi itu kan sudah umum minta-minta video, saya jualkan posting Facebook ternyata jalan ada hasilnya, bisa buat beli rokok,” ujar Anas.


Setelah cara yang dilakukan itu berhasil, ia langsung mengajak beberapa temannya untuk membangun bisnis ikan koi. Anas membidik target pasar penjualan ikan pada orang-orang yang berada di rentang usia 30-60 tahun atau kelas menengah. Ia kemudian mengunggah video


Beberapa langkah sudah dijalankan, tetapi tidak semuanya berhasil. Ia menjelaskan bahwa di dunia bisnis ikan koi, ada disebut grade A, B, dan C. Ada pihak yang bermain hanya pada grade C atau ikan pasar, tetapi ada juga yang bermain pada grade A saja. 


“Ternyata sulit mencari iwak apik (ikan bagus) dan lama. Tentunya dengan ada iwak apik (ikan bagus) pasti ada iwak elek (ikan jelek). Iwak apik mahal kenapa? Karena langka. Akhirnya saya memutuskan menjual dari semua segmen atau sesuai permintaan,” terangnya. 


Anas memastikan, ikan koi bagus pasti berharga mahal tetapi ikan koi yang berada pada grade C atau biasa, pasti murah. Ia membanderol harga semua pesanan yang masuk, mulai Rp5000 hingga Rp20 juta per ekor, tergantung permintaan konsumen. Semua segmen dan grade ikan koi, dilayaninya. 


Kisah sebelum sukses

Anas bercerita, pada 2015 ia belum memiliki apa-apa. Dengan kata lain, secara finansial, Anas belum mapan. Bahkan saat sang istri mengandung anak pertama, Anas masih dibantu orang tua untuk keperluan biaya mengecek kandungan. Selain itu, orang tua Anas pun pernah memberikan ijazah atau amalan agar dibaca seusai shalat lima waktu. 


“Waktu itu saya baca selama dua minggu setiap selesai shalat lima waktu. Itu yang dibaca surat Al-Waqi’ah setiap bakda subuh dan bakda maghrib. Malam Jumat itu (membaca) surat Yasin lima kali. Menurut saya itu salah satu kunci. Selain hati menjadi lebih tenang, juga menjadi semangat kita untuk berkarya," tuturnya.


Hingga akhirnya, Anas memiliki usaha yang mapan sejak 2016 hingga saat ini dirinya memiliki 40 karyawan untuk membantunya berjualan ikan koi dan bibit tanaman. Karyawan yang ditugaskan untuk memasarkan produk di internet sebanyak empat hingga lima orang.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya