Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Pesan Ramadhan PBNU: Dari Shiyam ke Shaum

Pesan Ramadhan PBNU: Dari Shiyam ke Shaum
Pengumuman awal Ramadhan 1442 Hijirah, Senin (12/4). (Foto: istimewa)
Pengumuman awal Ramadhan 1442 Hijirah, Senin (12/4). (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan pesan-pesan Ramadhan kepada warga NU dan umat Islam pada umumnya. Menurutnya, Ramadhan mesti dijadikan sebagai momentum kerohanian untuk menyucikan diri dengan meningkatkan ketakwaan.

 

Di antara cara untuk meningkatkan ketakwaan adalah dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an, berzikir, dan beribadah dengan penuh khusyuk. Ditambah pula dengan berbagai aktivitas sosial yang bermanfaat. 

 

"Selama pandemi Covid-19 ini agar mematuhi instruksi imbauan PBNU dan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah masing-masing. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah," ungkap Kiai Said usai mengikhbarkan awal Ramadhan di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Senin (12/4) petang.

 

Dari shiyam menjadi shaum

Kiai Said juga mengajak umat Islam dan warga NU untuk meningkatkan kualitas puasa, dari shiyam menjadi shaum. Dijelaskan, shiyam adalah terminologi syariah yang bermakna meninggalkan makan, minum, dan berbagai hal yang dapat membatalkan puasa melalui lubang yang ada di tubuh sejak imsak hingga ghurubus-syams (matahari terbenam). 

 

"Itu namanya shiyam, itu wajib, salah satu rukun Islam. Oleh karena itu mari kita sebagai umat Islam harus menjalankan shiyam di bulan Ramadhan ini," tutur Pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

 

"Akan tetapi, saya ajak mari kita tingkatkan shiyam bukan sekadar meninggalkan makan-minum, menjadi shaum yakni imsakil hawainnafs (mencegah ajakan hawa nafsu) dari imsak sampai ghurubus-syams dengan masuknya sesuatu ke dalam tubuh, tetapi mencegah lisan dan mulut dari hal-hal yang tidak benar, hoaks, menyebar fitnah, caci-maki, adu domba, harus kita cegah mulut kita dari itu semua," jelas Kiai Said.

 

Hati dan jiwa yang bersih serta pemikiran yang jernih, menurut Kiai Said, dapat menjauhkan diri dari ajakan hawa nafsu yang selalu menggoda dan membisiki selama menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.  

 

"Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan bermanfaat untuk kita semua, sehingga shiyam kita memperkuat iman kita, diri kita sendiri, yang nanti faedah atau manfaatnya kembali untuk diri kita sendiri. Bukan untuk Allah," ujarnya. 

 

Dalam sebuah hadits, kata Kiai Said, di surga nanti akan ada pintu bernama Ar-Rayan. Tidak ada yang bisa masuk ke surga melalui pintu itu kecuali para ahli puasa, terutama yang berpuasa di bulan Ramadhan. 

 

"Sekali lagi saya ingatkan agar kita bukan hanya puasa dalam arti terminologi syariah tetapi juga puasa hakikat yaitu shaumi hawainnafs. Mudah-mudahan kita semua mendapatkan shaum yang berkualitas," pungkasnya.

 

Setelah mengikhbarkan awal Ramadhan 1442, Kiai Said dan beberapa pengurus harian PBNU yang hadir membaca niat berpuasa secara bersama-sama.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya