Nasional

Melihat Arsitektur Islam di Cirebon: Dari Tionghoa hingga Hindu

Ahad, 24 Desember 2023 | 21:00 WIB

Melihat Arsitektur Islam di Cirebon: Dari Tionghoa hingga Hindu

Jamaah berziarah di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon Jawa Barat (Foto: NU Online/Syakir NF)

Cirebon, NU Online​​​​​​
Makam Sunan Gunung Jati menjadi salah satu destinasi wisata religi atau wisata spiritual yang tidak boleh terlewatkan di masa liburan ini. Bukan saja sisi spiritualitasnya yang bisa diperoleh dengan berziarah ke makam tersebut, tetapi juga ada banyak jejak sejarah penting yang tersimpan di area ini. Pun banyak sudut pula yang menyimpan sejumlah informasi dan pengetahuan besar di dalamnya.


Satu di antaranya adalah piring-piring yang menempel di tembok putih dan tumpukan batu bata di area makam. Piring-piring itu bukanlah produk dari Cirebon asli. Namun, piring-piring itu diyakini berasal dari Negeri China nun jauh di sana.


"Pengaruh kesenian hiasan Tionghoa terlihat sangat jelas pada hiasan dinding tembok dan gerbang keraton yang menggunakan piring-piring Tionghoa," tulis Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara (2009).

 

Posisi Cirebon yang strategis menjadi wilayah lintas perdagangan. Bahkan dahulu, wilayah ini memiliki Bandar atau pelabuhan yang menjadi destinasi kapal-kapal luar negeri bersandar. Bandar ini dikenal dengan Pelabuhan Muara Jati. Dalam catatan Pangeran Wangsakerta dan Pangeran Arya Carbon (1720), sebagaimana disebut dalam buku Kerajaan Cirebon (2013), pelabuhan ini mengalami puncak keramaiannya saat kehadiran armada China yang dipimpin Laksamana Cheng Ho. Mereka berlabuh selama tujuh hari tujuh malam dan membangun mercusuar (Prasadha Tunggang Pawaka).


Bahkan jauh sebelum itu, di kedalaman laut Cirebon terdapat kapal tenggelam yang diduga sudah ada sejak abad 9-10. Idris Masudi, pengajar di Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, menyampaikan bahwa barang-barang yang ditemukan dari kapal tersebut berupa emas dengan beragam bentuknya seperti kalung, anting-anting, gelang. Ada pula cincin, batu cincin, manik-manik, gelas, hingga koin China.

 

"Abad 9-10 ini sesuai narasi kitab pelancong. Kami kroscek yang tertulis dengan materi budaya yang kami lihat di Museum Qatar itu sama dengan di Situs Jagojago Sibolga," katanya.

 

Hal di atas menunjukkan bahwa sejak abad 10, Cirebon sudah memiliki hubungan dagang dengan Sriwijaya hingga China. Tentu saja ke arah baratnya, jalur perdagangan ini tersambung sampai ke Timur Tengah.

 

Makam kiai dan masjid pesantren

Selain piring-piring China yang ditempel di tembok pemakaman dan keraton, hal lain yang tampak unik adalah bentuk gapuranya. Jika menilik gapura keraton di Cirebon dan pemakaman kiai juga mengadopsi arsitektur yang khas. Gapura itu tampak seperti candi yang dibelah menjadi dua sisi tanpa atap. Model seperti ini disebut dengan istilah Candi Bentar. Sementara di halaman tengah, ada arsitektur bangunan yang dikenal dengan istilah Kori Agung (Paduraksa), yaitu candi yang dibelah menjadi dua dan memiliki atap di atasnya.

 

Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara (2009) mencatat bahwa dua bangunan tersebut dapat dilihat di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Masjid Agung Kasepuhan, Masjid Abang (Masjid Merah) Panjunan, dan Taman Sunyaragi di Cirebon.

 

Di Cirebon, masyarakat juga dapat menjumpai arsitektur serupa saat berziarah di makam Pangeran Luwung atau Raja Muhammad dan Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren. Makam Pangeran Luwung terletak di Desa Luwung,  Kecamatan Mundu. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Cirebon, sekitar 10 km atau 20 menit perjalanan. Jika naik kendaraan umum, dapat berhenti di daerah Bandengan, lalu dilanjutkan dengan naik ojek dari titik tersebut. Sementara makam Mbah Muqoyyim terletak di Desa Tuk Karasuwung, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, sekitar 5 km ke arah selatan dari Pondok Buntet Pesantren atau 15 menit berkendara.

 

Selain makam pendirinya, Masjid Agung Buntet Pesantren juga sangat khas arsitekturnya. Atapnya mengadopsi konsep meru dengan disusun hanya tiga tingkatan. Meru, sebagaimana dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI, adalah (1) gunung dalam mitologi Hindu, tempat persemayaman para dewa dan makhluk kedewaan, serta mernjadi pusat jagat raya; (2) ragam hias berbentuk segitiga sebagai lambang permayaman dewa; (3) bvangunan yang terdapat di kuil, merupakan tempat persembahan, terdiri atas 3-11 atap atau tingkat (di Bali); dan (4) atap bangunan pura yang bersusun dan makin ke atas makin kecil. 


Artinya, konsep atap masjid tersebut mengadopsi dari keyakinan Hindu. Dikutip dari buku Buntet Pesantren: 3 Abad Merawat Tradisi (2023), bahwa tiga tingkatan itu menggambarkan tiga unsur penting dalam beragama, yakni iman, Islam, dan ihsan.


Atap masjid demikian juga terdapat di masjid-masjid pesantren lain di Cirebon, yakni Masjid Pesantren Benda Kerep, Masjid Pesantren Gedongan, dan Masjid Pesantren Kempek. Hanya saja, selain Buntet Pesantren dan Benda Kerep, masjid dengan arsitektur itu telah dipugar. Konon, kemiripan bentuk masjid pesantren tersebut selain karena adaptasi di masa itu dan meniru gaya arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kasepuhan dan Masjid Agung Demak, juga karena dibangun oleh satu donatur yang sama, yakni Haji Ali, seorang saudagar penting yang dekat dengan para kiai pesantren Cirebon di awal abad 20. 

 

Moderasi
Sejak dahulu, Kerajaan Cirebon dan masyarakatnya sangat akomodatif terhadap perbedaan. Toleransinya tampak dengan kentara dengan bukti-bukti tersebut di atas. Hal tersebut menunjukkan bahwa umat Islam di Nusantara, khususnya di Cirebon sudah sangat moderat mengingat indikatornya dijalankan.

 

"Toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela, dan lembut dalam menerima perbedaan. Toleransi selalu disertai dengan sikap hormat, menerima orang yang berbeda sebagai bagian dari diri kita, dan berpikir positif," demikian termaktub dalam buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama (2019).