Nasional KONGRES IPNU IPPNU

Mega Mendung, Batik Khas Cirebon Jadi Logo Kongres IPNU IPPNU

Ahad, 23 Desember 2018 | 02:00 WIB

Mega Mendung, Batik Khas Cirebon Jadi Logo Kongres IPNU IPPNU

Logo Kongres IPNU-IPPNU di Cirebon, Jabar

Cirebon, NU Online
Jika kita perhatikan dengan seksama, di bagian bawah logo kongres IPNU ke XIX dan logo kongres IPPNU ke XVIII yang digelar Jumat - Senin (21-24/12) di Pesantren KH Aqil Siroj (KHAS) Kempek Cirebon Jawa barat itu terdapat sebuah desain bermotif persis seperti awan yang melingkar di langit. 

Motif awan tersebut ialah motif batik khas Cirebon, bernama mega mendung yang sangat identik dan menjadi ikon daerah Cirebon. Bahkan hanya karena ada di Cirebon, Mega mendung dinobatkan sebagai masterpiece, sehingga Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia akan mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu warisan dunia.

Mega mendung sebagai motif dasar batik sudah dikenal luas di masyarakat, bahkan sampai ke manca negara. Salah satu bukti ialah motif batik mega mendung pernah dijadikan cover sebuah desain batik oleh warga kebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen. 

Kekhasan motif mega mendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. 

Hal itu menurut Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Komarudin Kudiya, berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon. "Motif mega mendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif mega mendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya," katanya seperti dikutip dari laman Wikipedia

Pernyataan ini, lanjut Komarudin tidak bermaksud membatasi bagaimana motif mega mendung diproduksi, tapi lebih kepada ketidaksetujuan penggunaan motif mega mendung untuk barang-barang yang sebenarnya kurang pantas, seperti misalnya pelapis sandal di hotel-hotel. 

Makna Goresan Batik Mega Mendung. 

Mega mendung tidak hanya dikenal sebagai motif batik daerah Cirebon yang sangat populer, namun motif batik dengan pola-pola awan ini menyimpan mana dan filosofi yang sangat mendalam, serta pesan nilai kesabaran juga terselip di balik motif ini.

Maestro Batik Cirebon, Katura, seperti dikutip dari laman Liputan6.com mengatakan, proses membuat batik mega mendung butuh kesabaran. Dalam motif mega mendung harus terdapat tujuh gradasi warna yang menjadi pelapis. "Gradasinya tujuh dari biru tua sampai biru muda," katanya. 

Lebih lanjut Katura menjelaskan, mega mendung terdiri dari kata mega yang berarti langit atau awan, serta mendung atau langit yang meredup biasanya ada di saat akan turun hujan. Gradasi yang ada di motif mega mendung tersebut sesuai dengan tujuh lapisan yang ada di langit. Istilah mendung jika diartikan dalam kehidupan manusia sebagai sifat yang sabar atau tidak mudah marah.

"Jadi filosofi batik mega mendung sendiri yaitu jangan pernah mudah marah atau mudah panasan," tambahnya. 

Dalam membatik motif mega mendung, senimannya juga disyaratkan untuk bersabar, tak mudah emosi dan telaten. Begitu juga pengguna batik mega mendung. Pengguna batik bermotif mega  mendung juga diharapkan untuk menjadi sosok yang sabar.

"Harus menunjukkan pribadinya sendiri yang baik. Pembuat batik mega mendung jangan dalam kondisi marah dan yang memakai motif mega mendung sejatinya harus bisa mendinginkan suasana," ujar Katura.

Dari arti dan filosofi itu, Katura sendiri mengaku masih takut dan khawatir saat membuat maupun mengenakan batik bermotif mega mendung. "Posisi gambar sendiri harus horisontal atau mendatar, bukan vertikal atau berdiri. Karena mendungnya awan mendinginkan suasana di bawahnya," tambah Katura.

Motif mega mendung  tidak hanya terdapat di kain batik. Motif itu menurut budayawan Cirebon Elang Hilman juga ada di Kereta Jempana milik Keraton Kanoman Cirebon.

Hilman menjelaskan, motif mega mendung dibuat oleh Pangeran Losari yang merupakan salah satu cicit dari Sunan Gunung Jati. Saat itu, Pangeran Losari juga terinspirasi dari motif China. "Bedanya mega mendung dengan motif awan milik Tionghoa cuma gradasi. Motif awan milik China tidak ada gradasi warna," katanya. 

Dia juga mengatakan, motif mega mendung diciptakan oleh Pangeran Losari untuk saling mengayomi, hal itu terlihat dari dua kata mega dan kata mendung.

"Mega berarti awan dan mendung berarti redup itu juga maksudnya menaungi atau mengayomi. Mega itu menggambarkan awan yang luas dan mendung itu simbol Keraton Cirebon yang berkewajiban mengayomi dan melindungi rakyatnya, selalu membawa sejuk dan kedamaian," tegas Hilman. (Kifayatul Ahyar/Muiz