Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Kiai Agus Salim Sebut Tiga Alasan Dakwah NU Konsisten di Setiap Zaman

Kiai Agus Salim Sebut Tiga Alasan Dakwah NU Konsisten di Setiap Zaman
Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Agus Salim HS (Foto: istimewa)
Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Agus Salim HS (Foto: istimewa)

Bekasi, NU Online

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Agus Salim HS yang memberikan semangat dan meyakinkan para pengurus Ranting NU Grand Wisata Bekasi yang baru saja dilantik bisa menjadi contoh yang baik bagi pengurus ranting lainnya di Indonesia. 

 

"Saya yakin pengurus ranting Grand Wisata insyaallah menjadi percontohan ranting-ranting se-Indonesia," ujarnya dalam pelantikan pengurus Ranting NU Grand Wisata Bekasi, Jawa Barat, Ahad (4/4).

 

Abi, sapaan akrab Kiai Agus, juga mendoakan agar semua pengurus NU mendapatkan ridha Allah SWT dalam menjalankan tugasnya.

 

Lebih lanjut, Abi menyampaikan tiga alasan mengapa dakwah Nahdlatul Ulama Annahdliyah selalu konsisten dan istiqomah sejak sebelum kemerdekaan, fase kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga era Reformasi.

 

Pertama, bahwa dakwah Aswaja Annahdliyah selalu berorientasi kepada kemaslahatan yang ingin dicapai dan bersifat amal. Kemudian, juga warga Nahdlatul Ulama memiliki sifat kebangsaan plural, global, tidak bersifat sempit, tidak untuk kepentingan golongan semata.

 

"Tapi kalau ada satu kelompok atau golongan yang coba-coba ingin mengubah sistem kenegaraan, di situ berhadapan dengan Nahdlatul Ulama. Inilah istilah politik Nahdlatu Ulama, mengawal kebangsaan," lanjutnya.

 

Kedua, bahwa warga Nahdlatul Ulama selalu mengutamakan perbaikan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum menjadi pendakwah. "Jadi, beresin dulu diri kita, kalau kita ingin menjadi pandai," jelas Abi. 

 

Ketiga, dakwah NU selalu konsisten sebab para dai selalu mengadopsi jalan dakwah dengan budaya lokal, seperti yang diterapkan oleh Walisongo. Budaya yang tidak bertentangan dengan syariat tentunya. Selanjutnya yang paling penting yaitu wasilatul dakwah.

 

Abi menyebutkan bahwa di zaman milenial seperti saat ini, Nahdliyin tidak boleh gaptek teknologi, harus benar-benar bisa memanfaatkan. Sebab, dengan adanya medsos, banyak beredar fakta namun juga banyak beredar hoaks.

 

Jika bicara tentang medsos, ia mengingatkan ada sisi positif dan juga sisi negatif. Sisi posisitifnya yaitu banyak kemudahan yang didapat. Sedangkan negatifnya banyak hoaks dan pornografi di dalamnya.

 

"Di situlah, medsos kebutuhan kita, tuntunan kita sekaligus tantangan. Kalau kita sekarang ketinggalan medsos, bahaya karena itu senjata paling ampuh saat ini," tegas Abi.

 

Terakhir, Abi menyinggung soal ketertiban dan keamanan. Menurutnya, jihad Nahdliyin adalah dengan  mempertahankan ukhuwah wathoniyah yang sudah dibangun oleh ulama-ulama yang memerdekakan bangsa ini. "Hal ini sesuai dengan jargon NU yang berbunyi, NKRI harga mati," tegas Abi.

 

Kontributor: Abdullah Faqihuddin Ulwan
Editor: Kendi Setiawan

 


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya