Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Jalur Rempah Membentuk Tradisi dan Kebudayaan Baru di Nusantara

Jalur Rempah Membentuk Tradisi dan Kebudayaan Baru di Nusantara
Ilustrasi kepulauan Nusantara. (Foto: A-Dictionary)
Ilustrasi kepulauan Nusantara. (Foto: A-Dictionary)

Jakarta, NU Online

Guru Besar Studi Asia Tenggara Universitas Kyoto Michael Feener menyampaikan bahwa jalur rempah membentuk peradaban Islam di Nusantara. Dengan analogi masakan, ia mengatakan bahwa peradaban tersebut diolah dari campuran bumbu-bumbu berupa kebudayaan yang datang dari berbagai wilayah. Bahkan hasilnya melampaui bumbu-bumbu asalnya.


Hal itu disampaikan pada Simposium Internasional dengan tema Kosmopolitanisme Islam Nusantara: Jejak Spiritual dan Intelektual Nusantara di Jalur Rempah yang diselenggarakan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Senin (30/8).


Ia menyebut bahwa jalur perdagangan tersebut terbentang antara kawasan Timur Tengah atau Arab dimulai dari Swahili, Yaman, Benggala, Malaka, Nusantara, dan China. Jalur ini menghubungkan dua kawasan besar yang sangat penting.


Selain menjadi lintasan penyebaran Islam, jalur rempah juga menyebarkan kultur istana. Tak pelak muncul berbagai kerajaan Islam di Asia Tenggara. Perdagangan rempah ini, katanya, menjadi penyebab kultur kerajaan dan kultur vernakular, budaya baru versi Asia Tenggara.


Kemudian, Feener juga menyebut abad 17 dan 18 merupakan puncak dari artikulasi Islam vernakular model Asia Tenggara. Abad ini, katanya, berkorelasi atau berbarengan dengan munculnya Eropa sebagai kekuatan baru yang melakukan intervensi di dalam jalur ini.


Dengan adanya itu, dia cukup menyayangkan bahwa diskusi mengenai jalur rempah di kalangan sarjana Indonesia terlalu banyak terfokus pada kehadiran orang-orang Eropa di Nusantara. Padahal, sebetulnya jika dilihat pada abad itu, menurutnya, kekuatan Eropa bukan utama, justru membuat disrupsi dan intervensi terhadap jalur perdagangan rempah yang terbentuk selama berabad-abad.


Sementara itu, Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra menyampaikan bahwa jalur rempah adalah anomali yang terselubung dalam kabut sejarah. Jalur rempah telah eksis sejak lama dan mengalami kebangkitan sejak masa munculnya peradaban Islam, khususnya masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.

 

“Mereka yang membangkitkan kembali dan memberikan sentuhan kehidupan dan aktivitas baru bagi sejarah jalur rempah,” ujarnya.


Ia juga menyampaikan bahwa ada pelayaran Muslim Jawi ke Timur tengah. Jumlah ini mulai menanjak signifikan sejak abad 16 dan 17. Abad 16 kapal-kapal Aceh membawa barang-barang dagang, rempah, dan jemaah dibajak oleh Portugis di Samudra Hindia. Aceh lalu meminta bantuan kepada Turki Ottoman atas peristiwa ini.


Masuknya kolonialisme Eropa pada abad 16 menjadikan kemunduran dunia perdagangan rempah di Nusantara. Eropa menerapkan praktik monopoli. Padahal, jalur rempah pada masa Umayyah dan Abbasiyyah menjadi lokus dan sarana pertukaran ilmu, budaya, dan agama antara Nusantara dengan Timur Tengah dan dunia lainnya.


Kosmopolitanisme Islam Nusantara


Lebih lanjut, Azra mengungkapkan bahwa kosmopolitanisme Islam muncul di Indonesia karena Nusantara merupakan wilayah maritim, transit perdagangan dan tempat pertemuan berbagai agama dunia mengingat adanya pelabuhan-pelabuhan internasional.


Karena keragaman itu, Islam di Indonesia lebih moderat dan toleran. Hal tersebut membuat Islam Indonesia menarik bagi publik Muslim lain. Tak pelak, Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Thayyib dalam konferensi di Bogor, Jawa Barat pada tahun 2018 mengatakan Islam di Indonesia sangat potensial sebagai pusat moderasi. Sebab, hal itu ditopang dengan faktor budaya yang bekerja.


Lebih lanjut, Azra juga menyampaikan bahwa ada vernakularisasi dan pribumisasi atas ajaran-ajaran Islam dengan budaya lokal Nusantara. Ia mencontohkan terjemahan kitab-kitab dari bahasa Arab ke dalam bahasa lokal. “Ini salah satu proses dialog budaya dengan agama,” katanya.


Oleh karena itu, Islam yang berkebudayaan inilah, menurutnya, yang memiliki masa depan, bukan Islam model Taliban, Wahabi ataupun Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ada dua sayap wasatiyah Islam di Indonesia: yaitu Islam Nusantara ala NU, Islam berkemajuan ala Muhammadiyah.


Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan bahwa kosmopolitanisme Islam Nusantara mendapat tantangan dari kalangan Muslim tertentu yang merasa eksistensi dan ideologinya terancam. Mereka adalah kalangan konservativisme yang menyalahpahami konsep dan pemahaman Islam Nusantara. Mereka, katanya, lebih mengedepankan prasangka daripada logika dan ilmu. Hal ini karena mereka telah kehilangan watak kosmopolitanisme Islamnya.


Oleh karena itu, Penulis Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII itu menyampaikan bahwa spirit kosmopolitanisme Islam dewasa ini perlu direvitalisasi. Lebih dari itu, hal ini juga perlu dipikirkan ekspansi ide-ide Islam Nusantara dan kosmpolitanisme ke dunia luar, antara lain ke Timur tengah. Misalnya, ia menyebutkan contoh,  Islam dan demokrasi, Islam dan nasionalisme, Islam dan dialog budaya, hingga Islam dan dialog antaragama.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya