Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Habib Umar Muthohar Jelaskan Agama dan Dunia Tegak Berdiri dengan Empat Tiang

Habib Umar Muthohar Jelaskan Agama dan Dunia Tegak Berdiri dengan Empat Tiang
Tangkap layar video Habib Umar Muthohar pada YouTube NU Online.
Tangkap layar video Habib Umar Muthohar pada YouTube NU Online.

Cirebon, NU Online

Agama dan dunia bisa tegak berdiri dengan baik jika ditopang dengan empat tiang penyangga. Hal ini disampaikan oleh Habib Umar Muthohar secara virtual dengan mengutip maqalah Sayidina Ali bin Abi Thalib saat memberikan mauidhah hasanah pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren 2021, Sabtu (10/7).

 

Pertama, tiang penyangga agama dan dunia adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya. Para kiai yang telah lama bersimpuh di hadapan gurunya, tawadhu kemudian mengamalkan ilmunya. Orang-orang mengaji kepada kiai tersebut.

 

Tiang penyangga kedua tegaknya agama dan dunia adalah orang yang tidak tahu merasa dirinya bodoh. "Ada orang yang merasa dirinya belum ngerti, ada orang yang merasa dirinya butuh tambahan pengetahuan agama, yang mau mendekat kepada para ulama," kata Habib Umar.

 

Karenanya, santri bagi Habib Umar bukan saja mereka yang mengenyam pendidikan pesantren, tetapi siapa saja orang yang mendekat kepada para kiai untuk menggali pengetahuan dan keberkahannya adalah santri.

 

Tiang ketiga yang menopang agama dan dunia adalah orang kaya yang mendermakan hartanya. "Diberi oleh Allah kelebihan kekayaan, dia tidak bakhil akan kekayaannya," ujar Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu. "Ia membagikan rezeki yang ia terima dari Allah itu kepada para kiai untuk membantu perjuangan mereka dengan membangunkan pesantren, misalnya," lanjut Habib Umar.

 

Penopang keempat adalah orang fakir miskin yang tidak menjual keimanannya untuk kepentingan dunia. "Kalau di tengah masyarakat itu ada orang yang hidup di bawah kemiskinan tetap iman, dia hidup di tengah pandemi hidup dalam kemiskinan tetap kuat imannya, ini juga termasuk penyangga," kata Habib Umar.

 

Orang demikian meyakini bahwa meskipun fakir miskin di dunia, tapi kelak nanti di akhirat, Allah akan memberikannya berbagai kekayaan, jika tetap iman, Islam, memegang teguh syahadat.

 

Empat penyangga agama dan dunia itu, kata Habib Umar, diringkas Sayidina Ali bin Abi Thalib kw menjadi dua, yakni orang alim yang mengajarkan ilmunya dan orang kaya yang mendermakan hartanya.

 

"Kalau orang alim enggak mau mengajar keilmuannya maka jangan heran ketika banyak orang gak mau mendekat, enggak mau mendengarkan petuah kiai," tegas habib asal Semarang, Jawa Tengah itu.

 

"Kalau orang kaya penyangga masyarakat tidak mau mendermakan hartanya lagi, jangan heran barangkali akan banyak orang fakir menjual agamanya, menggadaikan agama dengan kepentingan dunia," lanjutnya.

 

Oleh karena itu, Habib Umar menegaskan bahwa pondok pesantren merupakan akademi para kiai yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.

 

Adanya perjuangan para kiai Pondok Buntet Pesantren dan pesantren lainnya sampai bersambung ke beberapa generasi sampai sekarang merupakan pertanda bahwa apa yang ditanamkan oleh para kiai terdahulu itu membawa dan diberi keberkahan oleh Allah SWT.

 

Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Tahun 2021 ini digelar secara virtual. Kegiatan ini digelar secara luring di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren dan hanya dihadiri oleh para kiai di lingkungan Buntet Pesantren dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya