Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Gus Miftah: Puasa, saat Manusia Diprogram Seolah-olah Jadi Malaikat

Gus Miftah: Puasa, saat Manusia Diprogram Seolah-olah Jadi Malaikat
Gus Miftah Maulana Habiburrahman. (Foto: NU Online)
Gus Miftah Maulana Habiburrahman. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Gus Miftah Maulana Habiburrahman mengatakan bahwa manusia ditakdirikan terdiri dari empat unsur yang harus dikendalikan. Hal tersebut meliputi kebinatangan yang terdiri dari dua jenis, setan, dan malaikat.


Ia menjelaskan bahwa malaikat memiliki sifat yang selalu benar tidak pernah salah, sedangkan setan bersifat selalu salah tidak pernah benar. Sementara unsur kebinatangan itu terdiri dari dua hal, yakni yang selalu menuruti hawa nafsu dan selalu menakut-nakuti.


“Nah, manusia itu empat-empatnya ini ada, empat unsur ini ada. Maka supaya selamat, kita diperintahkan puasa,” katanya dalam Buka Bersama dan Doa untuk Negeri yang digelar oleh PP IPNU dan PP IPPNU bersama Majelis Alumni IPNU dan IPPNU Pusat di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (29/4).


Sebab, terang Gus Miftah, sifat terbaik yang dapat mengantarkan manusia menjadi penghuni surga itu adalah sifat malaikat. Sifat malaikat itu, lanjutnya, tidak makan, tidak minum, juga tidak berhubungan suami istri. Pasalnya, malaikat mempunyai iman, tidak memiliki nafsu, sedangkan setan memiliki nafsu, tetapi tidak beriman. 


“Maka bulan puasa ini kita diprogram seolah-olah seperti malaikat,” kata pendakwah asal Yogyakarta itu.


Lebih lanjut, Dai Milenial menegaskan bahwa jika manusia hanya memikirkan makanan saja setiap harinya, enggan belajar dan mengikuti kajian, maka hal tersebut menunjukkan kelasnya masih kambing. Jika hanya menakut-nakuti saja, maka masih sekelas anjing.


Oleh karena itu, Gus Miftah menegaskan bahwa keselamatan seseorang terletak dari kemampuannya dalam mengendalikan empat unsur tersebut. “Manusia yang selamat itu, yang tahu kapan dia menggunakan iman, kapan dia menggunakan nafsu,” katanya.


Ia menganalogikan pengendara motor yang harus mengetahui kapan saatnya menginjak rem dan memutar gas. “Kita yang selamat, IPPNU dan IPNU itu, siapa yang tahu kapan menggunakan rem kapan menggunakan gas,” katanya.


Kegiatan ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmi Faishal Zaini, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU H Hilmi Muhammadiyah, Ketua Majelis Alumni IPPNU Hj Safira Machrusah, serta pengurus PP IPNU dan PP IPPNU.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya