Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Gus Baha Jelaskan Pentingnya Punya Uang dalam Berteman

Gus Baha Jelaskan Pentingnya Punya Uang dalam Berteman
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Foto: NU Online/Suwitno)
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk berteman dengan sesama. Mengenai hal ini, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim menjelaskan, diantara aturan berteman yang baik dan benar adalah memiliki pekerjaan atau uang, tujuannya agar tidak membebani teman.

 

Penjelasan Gus Baha ini mengutip salah satu makalah Imam Al-Ghazali tentang muru’ah atau harga diri. Menurut Imam Al-Ghazali, tanda seseorang memiliki harga diri adalah punya harta.

 

"Kata Imam Ghazali menyitir dua makalah orang sebelumnya, apa etika bertemu teman? kata orang itu jawabnya bawa uang, pokoknya kelihatan cukup," jelas Gus Baha saat mengisi acara Istighotsah Nasional dan Refleksi Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia yang digelar secara virtual, Ahad (8/8).

 

Ia mencontohkan, ketika seseorang bertemu dengan seorang teman, jika kelihatan tidak membawa uang atau ada uang tapi tidak banyak, maka kedatangan seseorang tersebut akan dianggap menjadi beban temannya. Dalam ajaran agama, menyusahkan orang lain itu dilarang.

 

"Di antara yang haram dalam Islam adalah kita tidak punya harta kemudian menjadi beban bagi orang lain," imbuhnya.

 

Tokoh agama asal Rembang ini menambahkan keterangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, bab adabul kasbi terkait keutamaan orang kerja. Pada bab tersebut diceritakan betapa pentingnya seseorang punya pekerjaan atau aktifitas ekonomi seperti berdagang, bercocok tanam dan sebagainya.

 

"Karena di antara etika berteman ini punya uang, si shahibul bait tidak akan berpikir macam-macam," tegasnya.

 

Gus Baha juga menceritakan sosok KH Wahab Hasbullah yang menjadi pedagang dan penggerak ekonomi bangsa Indonesia. Menurutnya, mental memberi bisa menjadi energi untuk menjaga bangsa. Sebaliknya, mental orang yang hanya ingin diberi akan melahirkan sikap tidak bertanggung jawab dan cenderung menyalahkan pihak lain.

 

“Nanti menyalahkan menteri, nanti kalau ada musibah menyalahkan kiai doanya tidak manjur. Alhamdulillah, kita semua tidak punya mental seperti itu,” tambahnya.


Di masa pandemi ini, Gus Baha mengajak masyarakat untuk tetap bersyukur, sebab nikmat yang paling pokok itu adalah bisa makan dan hidup tidak terancam oleh pembantaian, termasuk nikmat menjadi bangsa Indonesia yang teduh dan nyaman. Nikmat seperti ini belum tentu dirasakan oleh semua orang, misalnya warga Irak, Suriah, Palestina dan beberapa negara yang dilanda konflik.


“Ini harus kita syukuri dulu, bahwa kita ingin nikmat di atasnya itu, ingin pandemi berlalu, ingin ekonomi baik, oke lah. Tapi syukur dulu, supaya tidak lupa bahwa kewajiban kita alhamdulillah dulu,” pungkasnya.

 

Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Aiz Luthfi


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya