Nasional

Beda dengan Indonesia, Semua Toko di Yaman Tutup Selama Ramadhan

Ahad, 25 April 2021 | 09:30 WIB

Beda dengan Indonesia, Semua Toko di Yaman Tutup Selama Ramadhan

Ilustrasi Ramadhan. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Selama Ramadhan, warung makanan yang buka di siang hari menjadi isu polemik dan problematik di Indonesia. Ada sebagian yang membiarkan, sebagian lain justru hendak melarangnya.

 

Hal inilah yang menjadi pertanyaan Plt Ketua Umum Pimpinan Pusat Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdlyah (Matan) Hasan Chabibie saat Talkshow Ramadhan di Luar Negeri, Diaspora Santri Yaman, disiarkan melalui kanal Youtube TVNU pada Sabtu (24/4).


“Kalau di Indonesia kan ramai isu persoalan orang yang buka warung dan tidak buka warung. Atas nama toleransi, kita juga memahami orang yang sedang membuka usaha. Ini di Tarim kayak apa situasinya kayak begitu itu?” tanya Hasan saat dipersilakan moderator, Nuri Farikhatin, mengajukan pertanyaan.


Menanggapi pertanyaan tersebut, Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman M Abdul Muhith menyampaikan bahwa tidak ada hal problematik persoalan warung mengingat memang tidak ada yang buka sama sekali sepanjang Ramadhan.


“Kalau yang saya lihat selama bulan Ramadhan toko yang bukan makanan saja tutup, apalagi yang menjual makanan. Semuanya tutup semua,” ujar mahasiswa program magister Universitas Al-Ahqaff, Yaman itu.


Lebih lanjut, Muhith menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terus berlanjut hingga beberapa hari selepas lebaran Idul Fitri. Pasalnya, enam hari setelah Idul Fitri disunnahkan puasa kembali. Namun, kesunnahan itu seperti wajib mengingat tidak ada orang yang tidak melakukan puasa itu. Semua warung dan toko juga masih tutup.


“Terus kalau di sana setelah Ramadhan, hari raya, hari kedua syawal itu sudah puasa lagi. Di sana, semuanya puasa. Kegiatannya sama seperti Ramadhan. Toko juga tutup semua. Tidak ada orang yang berbuka,” jelasnya.


Senada dengan Muhith, Katib Syuriyah PCINU Yaman M Abdurrouf juga menyampaikan bahwa memang sama sekali tidak ada warung dan toko yang buka pada siang hari selama Ramadhan. “Memang sama sekali gak ada warung. Apalagi yang jualan makanan, jualan elektronik, mall juga tutup,” ujarnya.


Bahkan, beberapa hari setelah lebaran juga warung dan toko masih tutup. Hari kedua bulan Syawal, warung dan toko kembali menutup pintunya mengingat adanya kesunnahan puasa selama enam hari setelah Idul Fitri. “Balik kayak begitu lagi, kayak puasa. Jadi, seolah-olah belum lebaran,” ujarnya.


Kegiatan ini didukung Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara, Pusat Studi Pesantren, dan Pimpinan Pusat Matan.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad