Semarang, NU Online
Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siraj mengatakan pada 100 tahun nanti eksistensi Nahdlatul Ulama akan tetap bermanfaat bagi bangsa manakala mampu mensinergikan ukhuwah wathaniyah (tanah air) dan Islamiyah.
<>
“Artinya, kita menjalankan ibadan juga harus membela tanah air. Begitu juga, membela tanah air juga untuk melaksanakan ibadah,” katanya dalam acara pembukaan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU di Hotel Semesta Semarang, Jum’at (22/3) kemarin.
Kang Said mengajak menyelamatkan dan mempertahankan tanah air, caranya, dengan mempersiapkan kekuatan jihad ilmu pengetahuan, kesejahteraan ekonomi dan keadilan.
“Menyelamatkan tanah air bukan dengan bom melainkan dengan mempersiapkan kekuatan ilmu pengetahuan, budaya, intelektual dan keadilan. Karena Semua itu merupakan bentuk jihad,” ujarnya.
Kang Said memiliki ide mendahulukan membela tanah air (wathaniyah) dibanding islamiyah.
“Karena kita memperjuangkan Islam di tanah air, jadi kuatkan dulu tanah airnya baru Islamnya,” tandas Kang Said.
Di depan ratusan alumni IPNU seluruh Indonesia, Kang Said juga menyoroti tantangan globalisasi. Menurutnya, era globalisasi telah menunjukkan indikasi menjadi era yang harus terbuka, berdasarkan fakta, kemajuan teknologi informasi dan pasar bebas.
“Meski begitu, indikasi tersebut sangat cocok dengan NU kepentingan berdakwah dan melaksanakan pendidikan. kita jangan minder karena kita sudah memiliki pendirian,” imbuhnya.
Memasuki era yang harus terbuka ini, ujar Kang Said, menuntut adanya keterbukan maupun transparan dalam pengelolaan segala hal termasuk organisasi. NU sudah mampu mengelola organisasi secara terbuka dan transparan.
Terkait kemajuan teknologi informasi, menurutnya, mampu menambah kekuatan untuk bersilaturrahim antar sesama dan kesempatan berdakwah sangat efektif membimbing masyarakat.
“Namun sekarang ini kecanggihan TI telah menjadi masdarul fitnah (sumber fitnah). Orang menggunakannya untuk menteror ataupun memfitnah.Padahal seharusnya tidak demikian,” sindir kang Said.
Indikasi era globalisasi ini, kata dia, telah menciptakan ketidakberdayaan pemerintah dalam mengendalikan harga. Harga kebutuhan seperti bawang telah ditentukan oleh pasar bebas, sedangkan pemerintah hanya bisa menyesuaikan.
“Oleh karenanya,warga NU tidak perlu kuatir. NU terus menggalakkan pendampingan dan bimbingan kepada petani supaya produksi semakin meningkat,” tandas KH Said.
Kegiatan Silatnas ini akan berakhir pada hari Ahad (23/3) ini mengagendakan pembahasan isu-isu strategis. Tidak kurang dari 250 alumni IPNU dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti secara seksama.
Redaktur : Mukafi Niam
Kontributor : Qomarul Adib
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menguatkan Sisi Kemanusiaan di Bulan Muharram
2
Khutbah Jumat: Mengais Keutamaan Ibadah di Sisa bulan Muharram
3
Inalillahi, Tokoh NU, Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia KH Imam Aziz Wafat
4
Khutbah Jumat: Muharram, Momentum Memperkuat Persaudaraan Sesama Muslim
5
Khutbah Jumat: Jangan Apatis! Tanggung Jawab Sosial Adalah Ibadah
6
Khutbah Jumat: Berani Keluar Dari Zona Nyaman
Terkini
Lihat Semua