Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Kepada Fatayat NU, Selebgram Ayana Moon Kisahkan Pengalaman Berislam di Korea Selatan

Kepada Fatayat NU, Selebgram Ayana Moon Kisahkan Pengalaman Berislam di Korea Selatan
Selebgram dan model asal Korea Selatan Ayana Jihye Moon. (Foto: Tangkapan layar).
Selebgram dan model asal Korea Selatan Ayana Jihye Moon. (Foto: Tangkapan layar).

Jakarta, NU Online
Selebgram dan model asal Korea Selatan (Korsel) Ayana Jihye Moon merupakan seorang mualaf yang belakangan ini namanya santer terdengar di kalangan muslimah Indonesia. Sosoknya yang rupawan sekaligus berkepribadian santun, membawanya diterima baik oleh beberapa negara tujuan Ayana untuk mendalami Islam, seperti Malaysia dan Indonesia.

 

Ayana membagikan kisahnya menjadi seorang muslimah di Korea Selatan pada webinar bertajuk Tantangan Menjadi Muslimah Istiqomah di Korea Selatan, diselenggarakan oleh Fatayat NU Korea Selatan pada Ahad, (21/11/2021).

 

Ayana menjelaskan kali pertamanya mengucapkan syahadat pada tanggal 29 April 2012. Ia mengaku saat itu dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah ke atas.

 

Berislam di Korea Selatan baginya memiliki tantangan sendiri. Perkembangan Islam di negeri gingseng tersebut tidak bisa dikatakan masif. Dirinya mengatakan bahwa sebelum memutuskan untuk memeluk agama Islam, ia diterpa oleh berbagai dilema.

 

“Orang Korea belum membuka hati kepada Islam,” ujar perempuan kelahiran 28 Desember 1995 tersebut.

 

Sikap warga Korea tersebut kerap ditujukan melalui perilaku mereka ketika melihat seorang muslimah yang mengenakan hijab. “Kalau saya pakai hijab, semua orang di jalan lihat saya,” paparnya.

 

Selain itu, Ayana juga kerap dibuat kesulitan saat mencari perlengkapan shalat di Korsel untuk dibeli. “Saya juga mau cari itu (perlengkapan shalat), tapi tidak ada. Harus beli di Indonesia,” bebernya.


 
Saat berpergian pun, dirinya mengaku kesulitan untuk melakukan ibadah shalat bila telah tiba waktunya. Hal ini dikarenakan minimnya jumlah masjid yang tersedia di Seoul. “Bahkan di Seoul, kota terbesar pun masjidnya hanya satu saja,” terang Ayana.

 

Perihal makanan halal, Ayana menjelaskan bahwa muslim perlu lebih berhati-hati saat hendak membeli. Ayana membeberkan triknya ketika membeli suatu makanan di negara minoritas Muslim tersebut.

 

“Kalau kita beli toko daging ayam atau jual ayam goreng itu aman, tidak campur. Biasa saya makan seafood jadi aman,” terang Ayana.

 

Ayana menuturkan bahwa menjadi seorang muslimah di Korsel bukanlah hal yang mudah. Kendati demikian, minimnya akses selama berislam di Korsel tidak sama sekali menyurutkan niatnya untuk selalu beristiqomah dalam menjalani kewajibannya sebagai muslimah.

 

“Kalau tinggal di sana, susah cari hijab, makanan halal. Tetapi, selama bisa jaga iman, shalat, dan puasa insyaallah menurut saya itu sudah istiqomah. Sebelum saya masuk Islam saya sudah belajar, jadi saya sudah tahu apa yang saya bisa dan apa yang saya tidak bisa lakukan,” pungkasnya.

 

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa 
Editor: Aiz Luthfi


Terkait

Internasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya