Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Tak Bisa Lagi Tarik Ojek, Kuatno Minta Pekerjaan pada Tetangga

Tak Bisa Lagi Tarik Ojek, Kuatno Minta Pekerjaan pada Tetangga
Kuatno, warga Kudus yang berprofesi sebagai pengendara ojek di sekitar makam Sunan Muria terpaksa menghentikan profesinya karena dampak pandemi. (Foto: dok istimewa)
Kuatno, warga Kudus yang berprofesi sebagai pengendara ojek di sekitar makam Sunan Muria terpaksa menghentikan profesinya karena dampak pandemi. (Foto: dok istimewa)

Kudus, NU Online

Pandemi Covid-19 telah banyak merenggut mata pencaharian masyarakat. Bagaimana tidak? Berbagai sektor yang dijadikan mata pencaharian masyarakat sebagian besar ditutup, salah satunya pada sektor pariwisata. Dampak penutupan tempat wisata sangat dirasakah Kuatno, laki-laki berusia 42 tahun.

 

Kuatno dalam bahasa Jawa memiliki makna 'kuatkan'. Sesuai dengan namanya, Kuatno berusaha menguatkan diri untuk tetap bertahan hidup dengan mencari pekerjaan lain, setelah dirinya tidak bisa lagi menarik ojek akibat ditutupnya makam Sunan Muria.

 

Kepada NU Online, Selasa (10/7/2021), ia menceritakan kisahnya berjuang hidup di tengah pandemi. Kuatno sebelumnya bekerja sebagai tukang ojek di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Sementara sang istri berjualan mainan anak di sisi tangga menuju makam Sunan Muria.

 

S​​​​ebelum pandemi melanda, setiap pagi buta selepas subuh hingga pukul lima sore, ia sudah mangkal di bawah makam Sunan Muria bersama teman-teman seprofesinya.

 

Kuatno mengaku mampu mendapatkan penghasilan 200.000-300.000 per hari, dengan mengantarkan para peziarah ke lokasi makam Sunan Muria yang letaknya di atas gunung, dengan medan yang cukup terjal, menanjak dan penuh bebatuan.

 

Tiga bulan telah mematikan pekerjaan para penarik ojek di Colo Kudus. Tidak satu pun terlihat tukang ojek yang mangkal untuk sekedar menunggu peziarah datang. Hingga akhirnya Kuatno memutuskan untuk meminta pekerjaan kepada tetangganya yang memiliki kebun kopi.

 

"Alhamdulillah diberi pekerjaan untuk membersihkan dan memotong rumput liar di ladang kopi milik tetangga," ungkap melalui sambungan telepon.

 

Bekerja dari pagi pukul 6 pagi hingga waktu shalat Ashar datang, dirinya diberikan upah 70.000-80.000 per hari. Uang itu digunakannya untuk mencukupi kebutuhan pribadi, sang istri dan kedua anaknya.

 

"Dicukup-cukupkan. Bisa makan saja kami sudah bersyukur," tuturnya.

 

Bantuan LAZISNU
Kuatno adalah salah satu penerima bantuan kebutuhan pokok bagi warga terdampak pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh NU Care-LAZISNU Kudus. Bersama beberapa warga lainnya, ia menerima bantuan itu pada Ahad (8/8/2021).

 

Hari itu, pertama kalinya menerima donasi. Kuatno sempat kaget saat beberapa orang mendatangi berseragam NU mendatanginya dengan membawa kantong berisi sembako. Ia bersyukur mendapat perhatian dan bantuan dari NU Care-LAZISNU Kudus.
 

"Meskipun dari desa ada bantuan, tapi saya belum pernah dapat," tuturnya.

 

Saat dikonfirmasi, Ketua NU Care-LAZISNU Kudus, H Ihdi Fahmi Tamami membenarkan hal tersebut. Pihaknya membagikan 2.100 paket sembako pada Ahad (8/8/2021) lalu kepada warga Colo yang merasakan dampak pandemi.

 

"Colo merupakan desa wisata, karena 75 persen penduduknya bergantung pada sektor pariwisata. Itulah yang menjadi alasan kami memberikan sedikit bantuan," kata Ihdi Fahmi.

 

Tiap-tiap paket sembako berisi beras 7,5 kilogram, minyak goreng satu liter, gula pasir satu kilogram dan beberapa bungkus mie instan.

 

Bagi Kuatno sendiri, bantuan itu diakuinya membuat ia dan sang istri bahagia. Ia berharap pandemi segera berakhir. 

 

"Kami bekerja di sektor pariwisata, sehingga sangat merasakan dampak pandemi ini," tuturnya.

 

Kontributor: Afina Izzati
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya