Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Peringati Maulid Nabi, Bukti Warisi Akhlak Nabi

Peringati Maulid Nabi, Bukti Warisi Akhlak Nabi
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Foto: Ilustrasi (Ist.)
Pringsewu, NU Online
Bulan Rabiul Awal merupakan bulan ke-3 dalam urutan kalender Hijriah. Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang memiliki keistimewaan lebih dari bulan lain karena di bulan inilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Sebagai wujud syukur dan kebahagiaan, maka di bulan ini diperingati Maulid Nabi yang menjadikan Rabiul Awal sering disebut sebagai Bulan Maulud.

"Walaupun bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang tidak masuk empat bulan yang dimuliakan, namun bulan ini menjadi mulia dan istimewa karena nabi mulia dilahirkan di bulan ini. Maka otomatis menjadi mulia," jelas Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Pringsewu KH Munawir di depan jamaah Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di aula kantor NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (18/11).

Kiai Munawir menegaskan jika Nabi Muhammad SAW tidak hadir ke dunia ini maka manusia tidak akan mengenal Allah. Inilah pentingnya lahir Nabi Muhammad SAW yang merupakan guru umat Islam untuk dekat kepada Allah SWT.

“Siapa yang ingin dekat dengan Allah maka harus mendekatkan diri dengan guru-gurunya. Barang siapa yang tidak mencintai gurunya maka tidak akan mendekatnya kepada Allah SWT,” katanya menjelaskan salah satu prinsip  yang ada dalam ilmu tasawuf.

Oleh karenanya, siapa yang mencintai Rasul pasti akan sering menyebutnya dengan berharap syafaatnya sekaligus meneladani akhlak manusia termulia di dunia ini. Sehingga menurutnya patut untuk dipertanyakan akhlak sebagian kelompok yang menilai peringatan maulid nabi sebagai perbuatan bid’ah.

“Yang mengatakan maulid bid’ah harus lebih mengasah hatinya dan terus belajar sehingga akhlak Nabi bisa dicontoh dengan baik dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya berfikir secara tekstual dan mengagungkan akal semata. Bertindaklah dengan dasar ilmu, jangan berdasarkan emosi agar kita tidak jauh dari Allah dan Rasul,” anjurnya.

Kiai Munawir pun memaparkan fakta beberapa kelompok orang yang dengan gampangnya menilai maulid sebagai sesuatu yang dilarang, tidak memancarkan cahaya akhlak nabi di raut wajah mereka.  Toleransi kepada sesama sangat rendah dengan muka yang tidak bersahabat walaupun saat bertemu di Masjid. Ini menurutnya jauh dari sifat Rasul yang selalu tersenyum walaupun kepada orang yang tidak suka dengan beliau.

“semoga kita mampu meneladani akhlak nabi dengan terus menyiarkan peringatan maulid nabi dan terhindar dari sifat-sifat sombong kepada sesama. Sombong adalah dilarang oleh Nabi yang diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” pungkasnya. (Muhammad Faizin)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×