Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Peringatan Haul untuk Mengingatkan Kematian

Peringatan Haul untuk Mengingatkan Kematian
Ketua Jam’iyatul Mubalighin Kota Semarang, Jawa Tengah, KH Abdur Rohim Al-Muhsin (foto: NU Online/Ahmad Mundzir)
Ketua Jam’iyatul Mubalighin Kota Semarang, Jawa Tengah, KH Abdur Rohim Al-Muhsin (foto: NU Online/Ahmad Mundzir)
Semarang, NU Online
Ketua Jam’iyatul Mubalighin Kota Semarang, Jawa Tengah, KH Abdur Rohim Al-Muhsin menyampaikan, peringatan Haul bertujuan mengingatkan kita pada kematian, siap atau tidak dan berani atau tidak, pasti mati.
 
"Mati sesuatu yang pasti, tapi pastinya kapan, hanya Allah Ta'ala yang tahu," ujarnya saat memberikan taushiyah pada acara peringatan Haul XV KHM Mukhlisin Pengasuh Pesantren Al-Uswah, Gunungpati, Semarang pada Ahad (1/9) kemarin.
 
Dikatakan, karena kematian adalah pasti, sementara kita tidak tahu, maka diperlukan tabungan yang banyak untuk bekal jika sewaktu-waktu ajal tiba kita sudah siap.
 
"Seperti sosok almaghfurlah KHM Mukhlisin ini. Semasa hidupnya, seluruh waktunya dihabiskan untuk memperbanyak 'tabungan' dengan memberikan cermah dan pengajian hingga akhir hayatnya, ini patut kita contoh," tandasnya.
 
Bahkan, lanjutnya, Kiai Mukhlisin telah melakukannya sejak masih nyantri di Qudsiyah Kudus. Maka, dalam momen peringatan haul Kiai Mukhlisin ini untuk menjadi orang yang pinter dan bener. Beliau menjelaskan bahwa Kiai Mukhlisin dengan dakwahnya semasa beliau hidup telah memiliki tabungan. 
 
"Ketika materi dakwah yang disampaikan itu menjadi pegangan dan dikerjakan akan menjadi pahala mengalir kepada beliau," tegasnya. 
 
Dikatakan, kita mengenang Kiai Mukhlisin, semoga kita bisa menjadi orang yang dikenang kebaikan ketika meninggal. Bagi orang baik kita akan mati dalam bahasa Jawa mati itu nikmate ganti (nikmatnya berganti). Karena kebaikan selama hidup menjadi pahala yang akan kita nikmati dalam kubur.
 
"Sedangkan bagi orang berkelakuan buruk dalam bahasa Jawa mati itu bongko; diobong neng neraka (dibakar di neraka). Karena keburukan yang dikerjakan seseorang akan dibalas ketika sudah tak bernyawa," paparnya.
 
Pengasuh Pesantren Al-Uswah Semarang, KH Toyyib Farchani menjelaskan, saat ini Yayasan Pesantren Al-Uswah mengelola pesantren putra-putri, Taman Pendidikan Al-Qur'an, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Madrasah Diniyah, Majelis Ta’lim, dan koperasi pesantren.
 
Dijelaskan, almaghfurlah KHM Mukhlisin merupakan pendiri Pesantren Al-Uswah dan sekarang memasuki generasi kedua. Kiai Mukhlisin wafat pada 2004 sedangkan pesantren yang baru dalam tahap rintisan 4 tahun itu kemudian dilanjutkan dirinya hingga sekarang. 
 
"Alhamdulillah, selama 15 tahun berjalan sejak tahun 2004, saat ini perkembangan pesantren cukup baik dan bahkan saat ini telah berdiri lembaga pendidikan SMP-SMA, majelis ta'lim, madrasah diniyah, dan koperasi pesantren," jelasnya.
 
Peringatan Haul XV KHM Mukhlisin dihelat Ahad (1/9) di Pesantren Al-Uswah Gunungpati, Semarang. Berbagai kegiatan dilakukan yakni ziarah ke makam Kiai Mukhlisin bersama seluruh santri, haflah khotmil qur'an, dan pengajian umum.
 
Kontributor: Mukhamad zulfa
Editor: Muiz


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya