Daerah

PCNU Pekalongan: Penutupan Tempat Wisata Religi Jangan Berlarut-larut

Ahad, 7 Juni 2020 | 15:00 WIB

PCNU Pekalongan: Penutupan Tempat Wisata Religi Jangan Berlarut-larut

Di halaman makam Habib Ahmad Pekalongan ini biasanya terdapat puluhan lapak batik. Sekarang tampak sepi akibat Covid-19. (Foto: NU Online/Abdul Muiz)

Pekalongan, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan berharap situasi akibat pandemic Covid-19 bisa segera pulih kembali seperti sedia kala. Menurutnya, tidak hanya masalah perputaran roda perekonomian yang dituntut segera pulih. Termasuk  masalah pendidikan dan aktivitas organisasi bisa segera normal kembali.

"Keputusan pemkot menutup tempat wisata religi untuk sementara waktu bisa kita pahami. Akan tetapi, jangan sampai berlarut-larut. Sehingga aktivitas masyarakat bisa kembali normal dengan berbagai syarat dan ketentuan khusus," tutur Ketua PCNU Kota Pekalongan H Muhtarom, Sabtu (6/5).

Pemkot Pekalongan sebelumnya mengambil sikap tegas menutup sementara tempat-tempat wisata, termasuk wisata religi ziarah di kompleks pemakaman Makam Sapuro yang tidak pernah sepi dari rombongan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. 

“Karena maraknya wabah virus Corona atau Covid-19, maka untuk sementara waktu kompleks pemakaman yang terdapat makam seorang habib bernama Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas ditutup sementara," ungkap Wali Kota HM Saelany Mahfudz.

Saelany juga mengimbau kepada daerah-daerah yang ingin berziarah ke Kota Pekalongan dapat menjadwal ulang pemberangkatan dengan tujuan ziarah ke makam Habib Ahmad Sapuro.

"Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penularan dan penyebaran pandemi virus Corona yang saat ini tengah menjadi wabah global," jelas Saelany.

Gantungan hidup
Masyarakat sekitar makam Aulia Habib Ahmad bin Thalib Alatas di Sapuro Kota Pekalongan, Jawa Tengah berharap pandemi Covid-19 segera berakhir. Pasalnya, akibat virus Corona yang melanda Kota Pekalongan khususnya telah mematikan roda perekonomian warga di sekitar makam.

"Puluhan warga menggantungkan hidupnya dengan berjualan aneka oleh-oleh batik, makanan, dan souvernir berhenti berjualan, karena sepinya peziarah sejak 3 bulan terakhir ini," ujar Ahmadun (50), penjual makanan di sekitar makam, kepada NU Online kemarin.

Dikatakan, dirinya tetap memilih jualan. Karena ini satu-satunya gantungan hidup agar roda ekonomi keluarga tetap berputar meski makam aulia sepi. "Hanya masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Itupun hanya pada hari-hari tertentu berziarah baik sendiri-sendiri atau berombongan kecil," ucapnya.

Disampaikan, dalam kondisi normal sebelum ada pandemi Covid-19, setiap hari makam Habib Ahmad tidak pernah sepi dari peziarah. Puluhan bis dari kota baik rombongan anak-anak sekolah, santri, maupun jamaah pengajian silih berganti menziarahi makam aulia asal Hadramaut Yaman tersebut.

"Tidak hanya sepi peziarah dari berbagai kota, acara haul Habib Ahmad yang berlangsung setiap tanggal 14 Sya'ban pun ditiadakan kemarin," ucapnya.

Pewarta: Abdul Muiz
Editor: Musthofa Asrori