Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Melihat Pembangunan Pesantren Nihadlul Qulub di Kaki Gunung Slamet

Melihat Pembangunan Pesantren Nihadlul Qulub di Kaki Gunung Slamet
Pembangunan Pesantren Nihadlul Qulub di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)
Pembangunan Pesantren Nihadlul Qulub di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. (Foto: istimewa)

Pemalang, NU Online
Sekitar lima tahun yang lalu, Wakil Sekretaris LTM PBNU Ali Sobirin mengisi pelatihan di Pesantren Amanatul Umah, Pacet, Mojokerto. Pelatihan untuk para guru yang diadakan oleh Pergunu itu sengaja diadakan di pesantren asuhan Ketum Pergunu KH Asep Syaifuddin Chalim.

 

Melihat suasana, alam, bangunan pesantren, dan pembelajaran di pesantren itu, mengilhami Ali Sobirin bagaimana suatu ketika bisa membangun pesantren.

 

Niat itu pun terwujud di tahun 2021 ini. Ya, Ali Sobirin dan timnya tengah membangun sebuah pesantren. Letaknya pun mirip dengan Pesantren Amanatul Umah yakni di kaki gunung. Jika Amanatul Umah berada di kaki Gunung Welirang, Jawa Timur, pesantren yang dibangun Ali Sobirin terletak di kaki Gunung Slamet, Pemalang Jawa Tengah.

 

Pesantren yang dinamai Nihadlul Qulub persisnya berada di Jalan Soka RT 1 RW 1 Desa Moga, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. "Untuk luas lahan itu sekitar 2000 meter, dan sekarang yang sedang dibangun untuk asrama santri dan masjid multiguna itu di lahan seluas 1000 meter," jelas Ali Sobirin, Rabu (11/3).

 

Penulis buku Teknologi Ruh ini mengatakan lahan yang digunakan untuk pembangunan pondok pesantren adalah lahan pribadi setelah dibeli dari penduduk setempat.

 

"Sekarang masih menunggu administrasi dari pemerintah untuk segera dialihkan kepada Yaysan Nihadlul Qulub Indonesia. Harapan kami ke depannya akan dapat tanah wakaf, baik untuk kepentingan utama pendidikan, maupun kawasan pendukungnya seperti area parkir, dan agro industri," ujarnya.

 

Ali Sobirin juga menjelaskan, untuk tahap awal di tahun pertama para santri akan fokus pada tahfidzul Qur’an selain pendalaman keagamaan seperti lazimnya pesantren. Kitab-kitab yang diajarkan sesuai bidangnya seperti Fathul Qorib, Aqidatul Awam, Khulasoh, Jurmiyah, Amtsilaty, dan lain-lain. Untuk sekolah formal yaitu SMP dan SMK.


"Untuk kelas SMP akan menerapkan pola didik ketangkasan sehingga di beberapa karakter khusus akan setara dengan tingkat SLTA. Sementara untuk SMK akan fokus di yaitu bisnis, dan IT serta digital marketing," jelasnya.

 

Sementara itu, untuk ustadz Tahfidzul Qur’an akan dipegang oleh para alumni Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ). Untuk pendalaman keagamaan akan diampu oleh beberapa alumni pondok pesenatran salaf, seperti Kaliwungu dan Lirboyo. Sementara untuk SMK Bisnis dan Digital Marketing akan didukung oleh para praktisi internet marketing dan para pelaku bisnis. Sedangkan untuk guru formalnya mengikuti standar pemerintah.


"Untuk tahun pertama, karena ini masih rintisan, selain itu juga mengacu kekuatan kami yang masih sangat terbatas, yang terpenting Masjid Multiguna dan Asrama Santri dapat berfungsi layak bagi santri yatim, dan calon Hafidzul Qur’an ini aman, nyaman belajar, serta istirahatnya," lanjut Ali Sobirin.

 

Penguatan akhlak

Keinginan mendirikan pesantren, selain karena terinspirasi dari Kiai Asep Saifuddin Chalim, juga karena keprihatinan Ali Sobirin pendidikan sekarang lebih banyak berfokus hanya pada transfer pengetahuan. Sebaliknya sangat kering dari transformasi karakter atau akhlak. Ia menilai, pondok pesantren paling pas untuk model pendidikan di Indonesia. Murid atau santri dikawal karakternya, dengan rujukan yang validitasnya teruji.


"Keunggulan pesantren adalah tersedianya patron moral atau suri teladan yang aplikatif. Tidak sekadar konsep atau pengetahuan. Ini yang tidak tersedia di luar pesantren. Pesantren itu menghidupkan value atau sistem-nilai melalui keteladanan langsung yang bersumber dari sanad yang terklarifikasi, sampai ke Rasulullah," bebernya.

 

Ia meneruskan, sistem pesantren begitu luwes dan terbuka bagi ide-ide aktual tanpa kehilangan jati dirinya. Hal ini menurutnya merupakan poin penting dari pendidikan, yakni menjadi diri sendiri. "Dalam arti yang sebenarnya, yaitu berpijak pada keaslian dan khazanah diri, dan secara makro kebangsaan. Inilah yang paling urgent," tegasnya.


Menjadi hebat atau cerdas atau luar biasa, lanjutnya, hanya bisa diperoleh melalui kekuatan akar diri, utamanya adalah budaya dan karakternya. Menjadi hebat dengan menjadi Barat atau Timur adalah semu, tidak mengakar, rapuh dan mudah terombang-ambing keadaan.

 

Sistem yang diterapkan

Mengenai sistem pendidikan yang digunakan Pondok Pesantren Nihadlul Qulub akanseperti pesantren pada umumnya yakni menerapkan sekolah formal serta bondongan dan sorogan.

 

"Yang formal mengikuti pola seperti lazimnya, yaitu sistem kelas. Hanya saja di tingkat metodologi nanti porsi luar-ruang atau lapangan atau mengalami-langsung akan lebih diterapkan. Dari sisi materi, kami akan menerapkan Tahfidzul Qur'an. Sedangkan untuk siswa kami akan melakukan dua model yang saling topang, yaitu untuk anak yatim dan umum," ujarnya.

 

 

Karena pembangunan masih berlangsung, ia mengharapkan doa dan dukungan masyarakat, agar pembangunan dan perluasan kawasan dapat berjalan lancar, berkah serta memberkahi lingkungan setempat. "Sekarang ini pembangunan masih berjalan, walaupun masih pelan-pelan karena keterbatasan anggaran, mudah-mudahan terus berjalan," kata Ali Sobirin.

 

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dengan berbagai bentuknya. "Kami mendoakan semoga mereka semua beserta keluarganya dalam keadaan sehat wal afiat dan penuh berkah dikaruniai anak-cucu shaleh-shalehah, manfaat maslahat," pungkasnya.

 

Kontributor: Malik Ibnu Zaman
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya