Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Mahasiswa Hendaknya Tetap Ingat Kiprah Para Wali 

Mahasiswa Hendaknya Tetap Ingat Kiprah Para Wali 
Mahasantri Pondok Pesantren Jagad Alimussirry, Surabayamelakukan agenda tahunan dengan wisata religi mendatangi makam para wali. (Foto: NU Online/Sania)
Mahasantri Pondok Pesantren Jagad Alimussirry, Surabayamelakukan agenda tahunan dengan wisata religi mendatangi makam para wali. (Foto: NU Online/Sania)
Surabaya, NU Online
Masih suasana hari santri, Pondok Pesantren Jagad Alimussirry, Surabaya, Jawa Timur yang notabenenya adalah para mahasantri melakukan agenda tahunan dengan wisata religi mendatangi makam para wali. 
 
Meski ziarah makam para Walisongo ini merupakan hal yang telah dilakukan tiap tahunnya, namun kali ini ada yang berbeda dari sebelumnya dengan berkunjung ke Gunung Tidar.
 
Di sana terdapat makam Syekh Subakir yang berada di bukit Magelang, Jawa Tengah. Masyarakat biasa menyebutnya Gunung Tidar. 
 
“Syekh Subakir merupakan ulama dari Turki yang mendapat amanah untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa,” kata M Shofa Ulinnuha, Senin (28/10).
 
Menurut Presiden Badan Eksekutif Santri (BES) ini, keberadaan Syekh Subakir merupakan waliullah yang mendapat amanah menyingkirkan segala hal yang menjadi penghalang masyarakat Jawa untuk mendekatkan diri dan beriman kepada Allah dengan menaklukkan para jin yang menguasai pulau Jawa. 
 
“Beliau menggunakan tombak sakti yang dinamakan Kiai Sepanjang. Tombak ini dimakamkan di dekat makam Syekh Subakir dan dinamakan makam Kiai Sepanjang,” jelasnya. 
 
Bentuk nisannya tidak lazim, yakni dengan ukuran panjang 7 meter dan lebar 1 meter. Syekh Subakir berhasil mendapatkan kewenangan untuk menyebarkan ajaran agama Islam dengan syarat tanpa harus meninggalkan ajaran sebelumnya yakni ajaran budaya Jawa.
 
Pada Gunung Tidar ini terdapat pula pusere atau paku buminya tanah Jawa. 
 
“Kalau Makah dikatakan pusatnya dunia, maka pusatnya tanah Jawa adalah di sini,” kata Kiai Djoko Hartono setelah berdoa dengan para santrinya sambil menunjuk tugu putih yang berpagar besi hijau. Tugu putih kecil yang tedapat huruf Jawa yang melingkarinya. 
 
Dari cerita yang berkembang di masyarakat Gunung Tidar merupakan pakunya pulau Jawa. Jika dilihat dari letak geografis, memang Gunung Tidar berada di tengah Pulau Jawa.
 
“Para santri dengan semangat meski harus dengan menaiki tangga yang berhasil menguras tenaga demi mencapai dan mendapat barokah dari ulama Turki ini, serta memanjatkan doa atas jasa yang telah diberikan di tanah Jawa,” urai M Shofa Ulinnuha.
 
Setelah melakukan perjalanan ziarah makam para Walisongo dan makam Syekh Subakir, rombongan melanjutkan ziarah ke makam Sunan Padhangaran yang berada di Klaten, Jawa Tengah. 
 
Dalam agenda ini, M Shofa Ulinnuha mengharapkan semoga jamaah wisata religi yang tergabung mendapatkan berkah. 
 
“Semoga semua jamaah ziarah ini kita semua mendapatkan berkah dunia akhirat dari waliullah dan semoga segala hajat yang diinginkan dapat terkabulkan atas wasilah para wali,” pungkasnya.
 
 
Kontributor: Sania
Editor: Ibnu Nawawi

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya