Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Inilah Tiga Makna Berkah Menurut Gus Dhofir Zuhry

Inilah Tiga Makna Berkah Menurut Gus Dhofir Zuhry
Keberkahan itu, lanjutnya, boleh melalui guru, melalui kitab, melalui keadaan seperti pada waktu di bulan Ramadhan, di Masjidil Haram, Masjidil Aqsha atau di mana pun. (Foto: Ahmad Naufa Kh. F.)
Keberkahan itu, lanjutnya, boleh melalui guru, melalui kitab, melalui keadaan seperti pada waktu di bulan Ramadhan, di Masjidil Haram, Masjidil Aqsha atau di mana pun. (Foto: Ahmad Naufa Kh. F.)

Jakarta, NU Online

Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Malang KH Achmad Dhofir Zuhri menyebut tiga makna berkah. Ia berangkat dengan menjelaskan lafal “tabāraka” dalam Al-Quran, yang berarti Allah Maha banyak berkahnya.


Kemudian, ia menyebut sekurang-kurangnya ada tiga makna berkah. Pertama, berkah itu maknanya sedikit tetapi manfaatnya banyak, eksesnya banyak, implikasi (dan) dampak positifnya banyak. “Ada hal sedikit tapi fungsinya, manfaatnya banyak,” terang Gus Dhofir, sapaan akrabnya, dalam tayangan Youtube NU Online, Rabu (01/12/2021).


Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi Malang itu mencontohkan dengan makanan yang seharusnya cukup dimakan tiga orang, tetapi karena ada keberkahan di situ maka manfaatnya untuk orang banyak. Seperti orang yang ilmunya sedikit, tetapi kareba ada keberkahan dari Allah SWT, manfaatnya jauh lebih banyak.


Keberkahan itu, lanjutnya, boleh melalui guru, melalui kitab, melalui keadaan seperti pada waktu di bulan Ramadhan, di Masjidil Haram, Masjidil Aqsha atau di mana pun. “Berkah ini bisa ruang, bisa waktu atau dari Allah SWT langsung atau dari kitab suci,” terangnya.


Sumur yang hanya memakai gayung satu atau memakai timba, ujar Gus Dhofir, manfaatnya tidak terlalu banyak. Tetapi manakala disalurkan melalui keran, manfaatnya banyak sekali: bisa sekaligus untuk wudlu seratus orang di masjid. “Demikian pula ilmu. Ada orang yang ilmunya kualitas sumur (dengan timba), ada yang kualitas (sumur dengan) keran,” jelasnya.


Kedua, berkah itu memang sesuatu yang demikian adanya: kita tidak paham, sesuatu yang masih misterius, majhulat, tetapi kita baru paham keberkahannya itu apa setelah kita mengalaminya atau mendapatkan manfaat kebaikan darinya.


“Saya tidak paham kitab kuning, baca teks-teks kitab gundul, misalnya. Dulu, ya. Tetapi setelah mengajar, Allah SWT membukakan futuh kepada saya. Kemudian Allah SWT memberikan pemahaman kepada saya. Jadi yang tadinya saya sama sekali tidak tahu,  karena keberkahan itu, kita menjadi tahu,” jelasnya.


Ketiga, masih menurut Gus Dhofir, makna “tabāraka” yaitu berkah yang terus menerus, banyak sekali, deras sekali keberkahan Allah SWT. Di ‘tangan-Nya’ segala pengetahuan yang terdahulu dan sekarang, tidak ada ruang waktu bagi Allah SWT, yang Maha Suci dari itu semua. Allah SWT menganugerahkan keberkahan dan rahmat yang tak henti-hentinya kepada Nabi. 

 


“Maka untuk mendapatkan keberkahan, kita mengakses, kita connect, terhubung kepada wifi (wirless fidelity), koneksi nirkabel, yakni Al-Quran atau hal-hal yang ditunjuk oleh Allah SWT: Nabi Muhammad atau pewarisnya, para ulama, atau Qur’an,” imbuhnya. 


Tomat busuk, misalnya, Gus Dhofir mencontohkan. Kalau bergabung dengan ribuan, kuintalan, sekian ton tomat yang baik, maka tomat busuk itu bernilai baik. Maknanya, sebanyak apa pun keburukan kita, tetap lebih banyak kemurahan Allah SWT yang jauh lebih banyak.


“Makanya kalau ada orang menikah, doanya “bārakallah” semoga Allah SWT terus-menerus memberikan keberkahan yang terus menerus, bertambah-tambah,” pungkasnya.


Kontributor: Ahmad Naufa Kh. F

Editor: Alhafiz Kurniawan


Simak video lengkapnya: 

 



Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya