Home Warta Nasional Khutbah Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Obituari Video Nikah/Keluarga Tokoh Hikmah Arsip

Donasi Kebudayaan Lesbumi Jember untuk Korban Banjir

Donasi Kebudayaan Lesbumi Jember untuk Korban Banjir
Serah terima secara simbolis 200 paket sembako dari Lesbumi Jember. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)
Serah terima secara simbolis 200 paket sembako dari Lesbumi Jember. (Foto: NU Online/Aryudi A Razaq)

Jember, NU Online
Meski banjir telah usai dan pengungsi sudah kembali ke rumahnya masing-masing menyusul genangan air setinggi sekitar 60 centimeter yang menggenangi pemukiman warga Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, telah surut, namun petaka alam tersebut tetap menyisakan duka. Pasalnya, genangan banjir itu telah merendam perabotan dan isi rumah, bahkan sawah tempat mereka mengantungkan hidup, juga tersapu banjir.


“Kami prihatin, dan kita berdoa semoga ini menjadi banjir terakhir yang  di alami warga Wonoasri, Jember umumnya,” ujar Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) Jember, Siswanto  di sela-sela penyerahan bantuan untuk korban banjir di Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember, Rabu (20/1).


Keprihatinan Siswanto dan para pengurus Lesbumi lainnya, tidak hanya diwujudkan dengan seuntai doa tapi juga dengan membagikan 200 paket sembako untuk korban banjir. Sumber dana paket sembako itu berasal dari urunan pengurus Lesbumi dan donasi kebudayaan lintas agama dan kota di Jawa Timur. Paket sembako yang ia sebut dengan donasi kebudayaan tersebut diserahterimakan di Posko  Tanggap Darurat dan Bencana Alam PCNU Jember di Desa Wonoasri Kecamatan Tempurejo.


Dosen Universitas Jember itu, menegaskan bahwa kebudayaan dan kemanusiaan melekat erat dan tidak dapat dipisahkan. Bahkan, puncak tertinggi kebudayaan adalah kemanusiaan. Karena itu, katanya, pengurus Lesbumi merasa terpanggil untuk mengulurkan bantuan bagi mereka.


“Bantuan ini memang tidak seberapa, tapi insyallah bisa bermanfaat dalam kondisi yang seperti ini,” terangnya.


Menurut Siswanto, selain butuh bantuan materi, para korban banjir juga butuh dorongan semangat pasca-banjir. Sebab, tidak gampang menjalani kehidupan setelah didera bencana, dan pada saat yang sama kehilangan mata pencaharian akibat sawah dan kebun mereka diterjang banjir.


“Ya tentu kita harus memikirkan korban banjir setelah banjir selesai. Pihak-pihak terkait, terutama Pemkab Jember, tak boleh diam menyaksikan kesulitan korban setelah banjir selesai,” urainya.


Di tempat yang sama, Sekretaris PC Lesbumi Jember, Muhammad Lefand mengatakan, bantuan paket sembako tersebut diharapkan dapat meringankan beban hidup para korban banjir setelah banjir selesai. Menurutnya, justru yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak, adalah ‘nasib’ mereka setelah banjir.


“Info yang saya terima, warga di sini rata-rata bekerja di sawah dan sebagian kerja di kebun milik Perhutani. Sekarang sawahnya banyak yang disapu banjir, itu kan penghasilan mereka semusim habis,” ungkapnya.


Di tempat terpisah, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU)  Tempurejo, Kabupaten Jember, Ustadz Alimuddin menegaskan bahwa banjir yang menerjang Desa Wonoasri, Sidodadi, dan Andongsari, Kecamatan Tempurejo, seharusnya tidak terjadi jika tidak ada penggundulan hutan di  hulu dan sepanjang aliran sungai yang membelah Kecamatan Tempurejo.


“Hutan sudah gundul, hujan lebat, ya pasti banjir lah. Akhirnya air sungai meluap ke sawah, dari sawah terus meluber ke jalan dan pemukiman warga. Jadi masalahnya kompleks,” tuturnya.


Desa Wonosari adalah satu dari tiga desa di wilayah Kecamatan Tempurejo yang cukup parah diterjang banjir. Ketinggian air bah di rumah-rumah mencapai 60 hingga 90 centimeter. Petaka alam itu terjadi setelah hujan turun tiga hari berturut-turut yang mengakibatkan tanggul bendungan di Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, Jember, jebol karena tak kuat menahan luapan air sungai. Air bah dari bendungan tersebut, selain menghantam Desa Andongsari, juga menerjang desa Wonosari dan Curahnongko.


Akibat ‘tamu’ yang  tidak diundang itu, hampir 100 orang mengungsi di Balai Desa Wonosari, dan  2558 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir.


Pewarta:  Aryudi A Razaq
Editor: Muhammad Faizin


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya