Kamis, 18 Desember 2014
Language :
Find us on:
Nasional 
Ribuan Santri Antar Kiai Warsun Munawwir
Jumat, 19/04/2013 13:52
Ribuan Santri Antar Kiai Warsun Munawwir

Yogyakarta, NU Online
18 April, Kamis Sore, jam 16.00, ribuah santri dan pelayat mengantarkan janazah KH Ahmad Warsun Munawwir menuju Dongkelan, makam keluarga besar Pesantren Krapyak Yogyakarta. Semua saling berjubel untuk ikut menandu keranda jenazah dari Pesantren Krapyak menuju Dongkelan yang jaraknya lumayan jauh. 

Banser siap siaga, mengatur jalan dan keamanan. Para kiai tak mau kalah, ikut serta berebut keranda. Bahkan KH Musthofa Bisri (Gus Mus) juga ikut menandu keranda jenazah Kiai Warson.

Saat acara menjelang pemakaman, KH Asyhari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY, memberikan sambutan  atas nama keluarga. Sedangkan atas nama masyarakat diwakili KH A Malik Madany, Katib Aam PBNU.  Adapun doa dipanjatkan oleh KH Zainal Abidin Munawwir dan KH Musthofa Bisri.

Salah satu santri Kiai Warsun, KH Habib Syakur, merasa sangat kehilangan dengan kepergian beliau. Kiai Habib merasa sangat diperhatikan Kiai Warsun, bahkan sampai urusan rumah tangga sekalipun.

“Karena saya merasa bahwa saya adalah salah satu santri yang sangat diperhatikan oleh beliau. Mulai dari urusan kerumahtanggaan hingga hal-hal yang bersifat akademis,” kenangnya.

“Bermula dari saya mulai mondok di PP Al-Munawwir Krapyak, Hari Jum'at Wage, 6 Desember 1976, saya langsung ndherek di ndalem beliau, yang saat itu masih bersama almarhumah mbah Nyai (Nyai Hj. Sukis, istri almaghfurlah al-marhum KH M. Moenawwir, ibu beliau), al-Mukarram Romo KH Zainal Abidin Munawwir, dan al-marhumah Ibu Nyai Hj. Jamalah Munawwir (kakak beliau). Momong putra pertama beliau (Gus H. Muhammad Fairuz atau Gus Nanang) adalah salah satu pekerjaan harian saya,” lanjutnya.

Salah satu santri yang lain, KH Munawir AF, Musytasyar PWNU DIY, juga merasa sangat kehilangan. Untuk mengantarkan sang guru tercinta, Kiai Munawir menulis sebuah sajak yang sangat menyentuh.  

GURU..
kalau tdk keliru... 
sdh 53 tahun aku kenal denganmu
sdh 53 tahun Aku menjadi muridmu
dan seterusnya aku adalah santrimu

Kau isi sungsum balungku
Kau kupas jiwa benakku
Kau ikuti tangis dan tawaku
Sampai kurang seminggu kau meninggalkanku

Kau cad hijau kalbuku
kau batik kuning coklat benakku
kau lukis wajahku 
aku jadi begini...


kau pernah kau tandingkan aku
kau pernah marahi daku 
kau pernah perintahkan aku menulis
tetapi pernah juga kau perintahkan aku menangis

aku kacau
aku galau
kau tinggalkan daku sendiri
setelah 53 tahun aku tegak berdiri..

Allahu Yarham19/4/13


Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Rokhim-Yusuf

Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Agenda
PrefDesember 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::