Warta

Pangan Indonesia Terlalu Tergantung pada Beras

NU Online  ·  Sabtu, 27 Juni 2009 | 22:48 WIB

Yogyakarta, NU Online
Bangsa Indonesia selama ini terlalu tergantung kepada beras sebagai sumber karbohidrat. Akibatnya pemanfaatan sumber pangan tradisional tidak pernah berkembang, misalnya yang bersumber dari umbi-umbian.

Pakar pangan dan Gizi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Ir Murdijati Gardjito mengatakan, ketergantungan ini juga menyebabkan terjadinya ketimpangan gizi masyarakat, terutama antara di Jawa dan luar Jawa.<>

"Di Jawa mungkin banyak beras dan konsumennya. Tapi di luar Jawa seperti NTB atau NTT tidak sedikit yang masih kekurangan pangan dan kelaparan," ujarnya di Yogyakarta, seperti dikutip Suara Merdeka, Sabtu (27/6).

Prof Murdijati menambahkan, saat ini seharusnya dilakukan pengembangan sumber pangan lain di luar beras seperti yang telah dilakukan oleh UGM, dengan mengembangkan nasi ubi dan nasi uleng. Dua komoditas pangan itu mampu dikembangkan sebagai bahan pengganti beras.

"Ini sudah dikembangkan dan hasilnya bisa menghemat beras hingga 30-40%. Sebagai bahan substitusi, ini prospek dikembangkan agar kita tak tergantung sepenuhnya kepada beras," imbuhnya.

Menurut Murdijati, terdapat dua persoalan krusial yang masih belum berhasil dipecahkan oleh pemerintah khususnya melalui Menteri Pertanian maupun Bulog, yakni mengenai distribusi pangan dan aksesibilitas bagi masyarakat miskin yang tidak merata.

Akibat belum terselesaikannya persoalan itu, menyebabkan masih banyak masyarakat yang kurang gizi dan kantong-kantong kemiskinan. "Persoalan utamanya adalah soal distribusi pangan dan aksesibilitas masyarakat miskin mengenai pangan ini," katanya. (nam)